20 January 2022, 16:04 WIB

Wapres: PTM akan Ditinjau Ulang jika Omikron Meningkat


Indriyani Astuti | Humaniora

WAKIL Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menegaskan, pemerintah akan melihat perkembangan situasi kasus Covid-19 Omikron dalam melanjutkan atau tidak pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Ia mengatakan apabila kasus meningkat, pembelajaran tatap muka akan ditinjau ulang disesuaikan dengan kondisi setiap daerah.

"Kita akan terus sesuaikan dengan kondisi. Apabila situasi masih terkendali tidak apa 100% PTM. Kan tidak semua daerah. Kita akan lihat beberapa waktu ini terutama memasuki Februari yang diduga akan terjadi lonjakan akan kita sesuaikan terus," ujar Wapres di sela-sela kunjungan kerja ke Provinsi Banten, Kamis (20/1).

Penerapan PTM, imbuh Wapres, tentu akan diperketat apabila tren kasus Omikron terus meningkat. Saat ini, Wapres menuturkan peraturan PTM belum diubah. Selain itu, Wapres juga menekankan percepatan pemberian vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun.

"Vaksinasi akan terus dilakukan, dipercepat untuk vaksinasi anak-anak," ucap Wapres.

Baca juga: Omikron, Luhut : Jangan ke Luar Negeri Dulu Selama Tiga Pekan ke Depan

Pada kesempatan itu, Wapres menyampaikan kasus Covid-19 varian Omikron mulai meningkat khususnya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Banten. Beberapa kabupaten/kota di Provinsi Banten, ujar Wapres, merupakan wilayah aglomerasi yang tersambung dengan DKI Jakarta, terutama Tangerang Raya. Karenanya, ia meminta pengetatan penerapan protokol kesehatan.

"Saya minta antisipasi selain penerapan protokol kesehatan juga vaksinasi termasuk sudah mulai penguat (booster)," ucapnya.

Di samping itu, menurut Wapres penerapan aplikasi Peduli Lindungi di tempat dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, perlu diperketat. Hal itu, imbuh Wapres, perlu dilakukan guna mengantisipasi lonjakan kasus. Pasalnya apabila terjadi gelombang ketiga seperti negara-negara lain,

akan menyulitkan fasilitas kesehatan terutama rumah sakit.

"Sehingga kita mencegah terjadinya penularan itu. Walaupun tidak mematikan tapi merepotkan pelayanan di rumah sakit," tukasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT