12 January 2022, 23:00 WIB

Panel Listrik Tenaga Surya Kunci Transisi Energi Terbarukan di Indonesia


Faustinus Nua | Humaniora

PEMERINTAH Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Di tahun 2025 ditargetkan bauran energi ramah lingkungan itu bisa mencapai 23% dan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.

Peneliti spesialis Teknologi Energi & Kendaraan Listrik, Institute for Essential Services Reform (IESR) Idoan Marciano mengatakan bahwa salah satu sumber EBT potensial adalah tenaga surya. Hal itu pula yang didorong pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatannya di fasilitas publik.

Baca juga: LPKR Siapkan Tools of Investment Properti Rumah Tapak

"Tenaga surya memang salah satu sumber energi terbarukan yang paling potensial untuk dimanfaatkan di Indonesia. Sumber energi terbarukan ini memiliki potensi teknis terbesar di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (12/1).

Selain itu, kata Idoen, tenaga surya sangat scalable, sehingga memungkinkan untuk digunakan dari skala terkecil hingga besar. PLTS bisa diadopsi untuk skala residensial maupun bisnis dan industri. "PLTS ini juga lebih padat energi dibanding sumber EBT lain, sehingga pemanfaatannya tidak membutuhkan lahan yang terlalu besar, dan penempatannya pun fleksibel,” imbuhnya.

Ada banyak implementasi panel listrik tenaga surya yang sudah dikembangkan. Mulai dari

sumber listrik untuk green building sampai dengan sumber energi untuk penerangan lalu lintas dan fasilitas publik lainnya sudah kian berkembang.

Transisi energi pada implementasi green building menjadi salah satu langkah konkret yang dilakukan pemerintah saat ini. Masjid Istiqlal adalah salah satu contoh rumah ibadah dengan konsep green building yang memanfaatkan panel tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Masjid Istiqlal memiliki 504 unit modul solar dengan kapasitas masing-masing modul sebesar 325 WP (atau Watt Peak) yang dibuat sejak tahun 2019.

Saat ini pasokan energi Panel Listrik Tenaga Surya di Masjid Istiqlal sudah memenuhi sekitar 16% dari total kebutuhan energi listrik. Namun, transisi menggunakan panel surya ini masih akan terus dikembangkan. Salah satunya melalui program wakaf energi yang mengajak publik untuk ikut berkontribusi meningkatkan kapasitas panel surya di Masjid Istiqlal. Dari pemanfaatan panel tenaga surya, pengelola Masjid Istiqlal bisa menghemat biaya operasional pembayaran listrik secara signifikan.

“Pemanfaatan panel tenaga surya, kami gunakan untuk pengadaan listrik untuk operasional AC, lampu sampai dengan CCTV," kata Her Pramtama, Wakil Kepala Bidang Riayah Masjid Istiqlal.

Dia membeberkan dari sisi pengadaan awal instalasi PLTS, biaya yang dikeluarkan saat itu cukup besar. Akan tetapi setelah itu tidak ada biaya lainnya, paling hanya membersihkan panel saja. 

Pihaknya berencana akan meningkatkan kapasitas listrik dengan menambah instalasi PLTS. Sejauh ini, dengan pemanfaatan PLTS hasilnya sudah terlihat, misalnya, terkait penghematan penggunaan AC, setelah melakukan improvisasi pengaturan energi langsung turun biaya listrik sampai dengan 15% dan tentunya saja energi ini berasal dari sumber ramah lingkungan yakni matahari.

"Masjid Istiqlal sudah melewati penilaian Masjid Ramah Lingkungan MUI (Ecomasjid).

Tentunya prestasi ini didapat dari upaya renovasi gedung yang progresif untuk membuatvgedung ibadah yang lebih ramah lingkungan,” kata Yodi Danusastro, Konsultan Green Building yang mendampingi Pengurus Masjid atau Building Management Masjid Istiqlal dalam proses sertifikasi green building dari MUI dan dari beberapa lembaga lainnya.

Yodi menyampaikan, dalam konsep green building, bukan hanya dari pengadaan listriknya saja yang diperhatikan, tetapi juga faktor lainnya seperti pengelolaan sampah. 

Tujuannya green building itu bukan hanya konsep untuk bangunannya saja, tetapi juga untuk orang-orang yang berada dalam gedung tersebut. Oleh karena itu, di atas saklar pada gedung ini, ada himbauan hemat lampu, dan hemat air di WC juga ada. 

"Jadi, kita berupaya agar pada saat para jamaah masuk ke Istiqlal, mereka sudah masuk ke lingkungan yang ramah lingkungan. Sampahnya dibuang ke tempat sampah, airnya tidak dibuang-buang, energinya juga dipantau oleh manajemen danvdilakukan audit,” jelasnya. 

Saat ini, selain rumah ibadah, pemerintah juga akan mengedepankan implementasi green building untuk kantor pemerintahan. Salah satunya adalah gedung utama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, tentunya pelaksanaan implementasi green building sepatutnya tidak hanya berhenti di kantor pemerintahan dan rumah ibadah saja.

“Implementasi green building kebanyakan masih di tingkat pemerintah pusat. Kami tentunya berharap bukan hanya pemerintah pusat, tapi bisa meluas ke pemerintah daerah agar mereka bisa aktif untuk menginstall ini untuk kebutuhan listrik mereka," tutur Tenny Kristiana - Peneliti International Council on Clean Transportation (ICCT).

Menurutnya, pemerintah pusat bisa juga membuat semacam pilot project di berbagai kota di daerah, dan bisa saja dengan membuat kompetisi antar perkotaan atau kabupaten. Sehingga pemerintah daerah pun bisa berlomba-lomba untuk mengimplementasikan panel surya di gedung-gedung mereka.

Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa sumber listrik dari batubara seperti yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN), memperburuk kualitas udara. Lantas, sumber listrik harus segera dialihkan dan sosialisasi terkait manfaat dari tenaga surya juga perlu ditingkatkan.

Pemanfaatan panel tenaga surya juga bisa digunakan untuk fasilitas publik di perkotaan. Misalnya penerangan jalan, penerangan taman sampai dengan operasional lampu lalu lintas. Begitu pula dengan fasilitas pendukung transportasi listrik dan lainnya.(OL-6)

BERITA TERKAIT