12 January 2022, 13:15 WIB

Vaksinasi tidak Kurangi Risiko Tertular Covid-19 Varian Omikron


Basuki Eka Purnama | Humaniora

MELEDAKNYA kasus covid-19 varian Omikron di berbagai negara membuat masyarakat perlu waspada, sebab vaksinasi ternyata tidak  cukup mengurangi risiko tertular.

Penanganan varian Omikron masih sama dengan varian covid-19 lainnya, vaksinasi dan protokol kesehatan masih paling efektif untuk mencegah penularan varian tersebut lebih lanjut.

Para peneliti masih melakukan studi mendalam tentang varian Omikron. Sejauh ini telah ditemukan bahwa Omikron memiliki lebih dari 50 mutasi dengan lebih dari 30 mutasi pada spike protein.

Baca juga: Masih Terjadi Pelanggaran Prokes Penyelenggaraan PTMT 100% di Sekolah

Gejala dari covid-19 varian Omikron, sejauh ini, ringan dan dapat diobati secara mandiri di rumah. Gejala ringan yang dimaksud adalah kelelahan, nyeri tubuh, dan sakit kepala selama dua hari.

Pasien tidak kehilangan penciuman atau rasa dan tidak ada penurunan kadar oksigen, tidak seperti varian Delta. Namun, data tersebut hanya diperoleh dari pasien berusia 40 tahun atau lebih muda. Belum ada laporan yang komprehensif mengenai gejala yang dialami pasien lanjut usia.

Fakta lain dari varian Omikron adalah berpotensi lima kali lebih menular daripada varian Delta, berpotensi menyerang penyintas yang telah terinfeksi varian lain. 

Selain itu, dilaporkan di covid19.go.id (per 3 Januari 2022), varian Omikron telah terdeteksi di 132 negara dan diperkirakan akan terus menyebar dengan cepat.

Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala, jangan ragu segera melakukan pemeriksaan. Khususnya bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar, misalnya yang baru saja bepergian ke luar daerah atau ke luar negeri sebaiknya melakukan pemeriksaan secara rutin.

Dengan protokol pengujian reguler, mereka yang dites positif dapat diidentifikasi lebih cepat dan memulai pemulihan mereka lebih cepat, yang dapat mengurangi kecepatan penyebaran infeksi.

"Jangan meremehkan ancaman yang mengintai varian covid-19 terbaru Omikron. Kami mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Jangan menunggu sampai gejala memburuk, segera berkonsultasi dengan dokter," ujar Head of Medical Good Doctor Technology Indonesia Adhiatma Gunawan, dalam siaran resmi, Rabu (121).

Amerika Serikat yang telah menyelesaikan cakupan vaksinasi dosis lengkap 61% dari populasinya, masih mengalami peningkatan kasus positif dan angka kematian covid-19.

Tren yang sama juga dialami Norwegia dengan coverage vaksinasi mencapai 71%, bahkan Korea Selatan dengan coverage sangat tinggi mencapai 92%. Data tersebut menunjukkan bahwa cakupan vaksinasi yang tinggi tidak dapat sepenuhnya mencegah penularan tanpa protokol kesehatan yang ketat.

Gregory Poland, M.D., Kepala Kelompok Penelitian Vaksin Mayo Clinic, mengatakan pihaknya sudah meneliti virus ini selama dua tahun dan sekarang yang menjadi perhatian adalah varian kelima.

"Hal ini akan terus terjadi sampai kami dapat meyakinkan publik dan ini adalah bukti nyata, bahwa kita harus memakai masker di dalam ruangan, sampai kita divaksinasi dan di-booster, hal ini akan terus terjadi," kata Poland.

WHO juga merekomendasikan bahwa langkah paling efektif yang dapat dilakukan individu untuk mengurangi penyebaran virus covid-19 adalah dengan menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain, memakai masker yang pas, buka jendela untuk meningkatkan ventilasi, hindari ruang yang berventilasi buruk atau ramai, menjaga tangan tetap bersih, batuk atau bersin ditutupi siku yang ditekuk atau tisu, dan divaksinasi. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT