03 January 2022, 18:31 WIB

Orang Tua Murid Khawatir dengan PTM 100%, KPAI Minta Prokes Dilaksanakan dengan Ketat 


Emir Chairullah |

SEBAGIAN orang tua murid mengeluhkan kebijakan pertemuan tatap muka (PTM) 100% yang mulai diberlakukan pada hari pertama semester genap. Selain belum tersosialisasikan dengan baik, kebijakan ini dilakukan di tengah meningkatnya wabah Covid-19 varian Omikron. Namun demikian, sebagian orang tua murid dan guru hanya bisa mengeluh pasrah dengan kebijakan ini. 

Demikian sebagian pendapat yang dihimpun Media Indonesia saat pelaksanaan PTM 100% dari sejumlah sekolah di Jakarta, Senin. 

Bayu (46), orang tua murid di SMAN di bilangan Jakarta Selatan menyebutkan, dirinya kaget atas kebijakan yang diterapkan di sekolah anaknya. Apalagi kebijakan tersebut baru diinfokan pihak sekolah akhir pekan lalu. 

“Saya pikir kebijakan ini diterapkan ke sebagian murid saja. Tidak tahunya semua,” katanya ketika ditemui di Jakarta, Senin. 

Yang membuat dirinya khawatir, tambahnya, para siswa ternyata duduk relatif berdekatan di dalam kelas. Apalagi kebijakan ini diberlakukan saat hari pertama pascaliburan akhir tahun. 

“Setidaknya dilihat dulu apakah kasus omikron ini meningkat atau tidak. Baru kebijakan ini bisa dicoba,” ujarnya. 

Hal serupa diungkapkan Angie (45) yang menjadi orang tua murid di SD swasta di Jakarta Selatan. Dirinya keberatan karena anaknya baru mendapatkan vaksinasi tahap pertama. 

Baca juga : 34 Pasien Omikron di Indonesia Dinyatakan Sembuh

“Kan baru vaksin dan pembentukan imunitas paling nggak 30 hari. Apa tidak sebaiknya tunggu sampai pertengahan semester. Setidaknya orang tua juga mungkin bisa lebih siap,” ujarnya. 

Namun demikian, ungkap Arief Budiman (45), orang tua murid di SMP di Jakarta Timur menyebutkan, walaupun khawatir dengan penularan, sebagian orang tua di sekolah anaknya setuju dengan pemberlakuan PTM 100% ini. Pasalnya, ungkap dia, orang tua murid merasa bisa menitipkan anaknya di sekolah saat mereka harus bekerja. 

“Apalagi sekolah anak saya, kebanyakan orang tua merupakan buruh pabrik,” ungkapnya. 

Kendati begitu, para orang tua yang tidak setuju dan juga tenaga pengajar hanya bisa pasrah dengan kebijakan PTM 100% ini. 

“Kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan tidak terjadi klaster baru,” kata Arief. 

Menanggapi kekhawatiran orang tua ini, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyatakan, saat ini yang perlu dilakukan adalah percepatan vaksinasi usia 12-17 tahun. “Hal ini dilakukan agar tak menghambat pembelajaran dalam situasi covid-19 saat ini,” katanya ketika dihubungi. 

Walaupun tidak memberi jawaban apakah setuju atau tidak dengan PTM 100%, dirinya meminta kebijakan ini harus dijalankan dengan hati-hati. “Protokol kesehatan harus tetap terjaga dengan baik,” pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT