30 December 2021, 18:49 WIB

Peran Media Majukan Pendidikan Bangsa


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

PELAKSANA Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Plt Dirjen Diktiristek) Nizam menjelaskan media berperan sangat penting dalam memajukan dunia pendidikan.

Dengan menjadikan pendidikan sebagai sentra maka dapat mengetahui berbagai permasalahan serta jalan keluarnya. Seperti kata Ki Hajar Dewantara pusat dari pendidikan ada 3 yakni keluarga, persekolahan, dan masyarakat.

"Dalam masyarakat ini utamanya adalah media karena di era ini cara berpikir, melihat, dan membangun pola pikir berasal dari informasi yang dilihat, baca, dengar dan sebagainya," kata Nizam dalam penutupan pelatihan jurnalistik pendidikan dari Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Kamis (30/12).

Media sangat berperan penting dalam pembangunan pendidikan di era saat ini karena 170 juta pengguna internet di Indonesia menghabiskan waktu 8 jam sehari, berinteraksi dan berselancar dengan media. Sehingga sangat penting sekali jurnalis positif untuk membangun bangsa yang optimistis dan memiliki optimisme.

Baca juga: Darurat Kekerasan Seksual, NasDem: Pengesahan RUU TPKS Jangan Ditunda Lagi

"Karena apabila jurnalisme negatifnya yang lebih kuat maka masyarakat akan mudah dipecah belah, mudah diadu domba, mudah dicerai beraikan dan menjadi pesimis dan tidak bisa apa-apa," ujarnya.

Dengan gerakan ini diharapkan bisa membangun jurnalisme optimis, positif, dengan bersentra pada pendidikan sebagai kunci utama membangun bangsa dan negara.

Nizam sendiri menutup pelatihan GWPP secara daring. Dirinya berharap hasil dari pelatihan ini akan menumbuhkan semangat dan kepedulian wartawan dan media terhadap kemajuan pendidikan bangsa.

"Pelatihan jurnalistik pendidikan untuk wartawan selama 3 bulan ini merupakan sebuah trobosan yang sangat luar biasa untuk mendorong dunia pendidikan agar lebih baik lagi," ujarnya.

Di kesempatan yang sama Direktur Pelaksana GWPP Nurcholis MA Basyari menjelaskan pada batch ke-3 ini materi pelatihan mencakup pengetahuan dan keterampilan jurnalistik, termasuk aspek etika dan hukum pers. Selain itu, para peserta juga mendapatkan pengayaan materi nonjurnalistik terkait dengan pendidikan dan kebangsaan.

"Total ada 13 sesi pelatihan jurnalistik dan 14 sesi pengayaan materi nonjurnalistik selama berlangsungnya program FJP Batch III. Total narasumber yang dihadirkan mencapai 27 orang dari kalangan praktisi media, guru, dosen, mahasiswa/mahasiswi, pelajar, aktivis/komunitas penggerak pendidikan, pengelola lembaga pendidikan, pejabat bidang pendidikan, dan pemangku kepentingan terkait pendidikan," paparnya.

Program FJP GWPP dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan semua peserta dapat mengikuti seluruh sesi pelatihan dan melaksanakan tugas-tugas liputan yang diberikan para mentor tanpa harus cuti atau meninggalkan tugas sehari-hari sebagai wartawan.

"Program yang kami rancang justru mendorong para peserta tetap aktif bekerja dan produktif menghasilkan karya-karya jurnalistik untuk media masing-masing. Selama September - Desember 2021, total karya jurnalistik yang ditulis para peserta mencapai 546 artikel," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT