30 December 2021, 07:05 WIB

Berkarya tanpa Jarak


Nike Amelia Sari |

SEMANGAT menebar kebaikan tak pernah padam dari Shoffan Mujahid, mahasiswa program studi ekonomi pembangunan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Selain berprestasi di kampus dengan dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi (mawapres) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS 2021, Shoffan juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sosial.

Lewat komunitas Bersamabisa.ID yang didirikannya sejak 2019, belum lama ini Shoffan juga membangun wadah pendidikan yang diberi nama Sekolah Generasi Indonesia (SGI) untuk melengkapi sekolah formal. Sekolah yang berlokasi di Kampung Mipitan, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah, itu pun ramah untuk anak-anak difabel.

Kepada Muda, Shoffan bercerita tentang motivasinya mendirikan SGI, perjalanan hidupnya, hingga kiatnya untuk konsisten menebar kebaikan. Yuk simak obrolan Muda dengan anak bungsu dari enam bersaudara ini via platform daring, Selasa (28/12).
 

 

Halo Shoffan. Belum lama ini kamu mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak yang tinggal di pinggiran sungai di Surakarta. Boleh diceritakan?

Alhamdulillah, sekolahnya berjalan dengan lancar sesuai dengan kurikulum yang sudah kita rencanakan. Kemudian, sesuai juga dengan kebutuhan masyarakat yang ada di sana. Kita rencananya di tahun depan akan ada tambahan bentuk pendidikan sehingga nanti di Januari akan ada tambahan SDM dan juga tambahan konsep untuk pembangunan karakter untuk anak-anak ini.
 

 

Seperti apa kurikulum yang kalian rancang?

Kurikulum yang kita buat itu tujuan-tujuannya bukan hanya transfer materi-materi wawasan umum, tetapi lebih kepada pengembangan karakter dan softskill mereka. Jadi, ada tiga sebenarnya. Ada wawasan, karakter, dan softskill.
Wawasan ini mirip seperti mata pelajaran pada sekolah umumnya dan lebih pendalaman kepada mater-materi yang mungkin sudah diterima anak-anak. Pengembangan skill di sekolah ini ada skill tentang public speaking, jadi gimana caranya mereka bisa percaya diri melalui kurikulum yang mengarahkan mereka berani untuk bercerita dan menyampaikan puisi.
Mereka juga dilatih untuk mengolah limbah bekas, membangun kreativitas dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar sehingga teman-teman itu bisa membuat apa saja dengan barang yang ada di rumahnya.
Dari situ, kita juga berharap teman-teman akan terbiasa pada pola pikir seperti itu. Jadi, kita mencoba untuk membangun itu. Kurikulum ini dibuat bersama teman-teman jurusan pendidikan guru SD.
 

 

Siapa saja yang menjadi siswa di SGI? 

Anak-anak di Sekolah Generasi Indonesia ini ada yang bersekolah, ada yang tidak bersekolah, ada yang hanya ‘sekolah-sekolahan’. Sekolah ini juga ramah difabel sehingga siswanya ada yang difabel juga, yaitu tunarungu dan tunawicara. Maka dari itu, kita juga mengambil rekrutmen dari teman-teman jurusan pendidikan luar biasa. Kita juga menyediakan snack untuk anak-anak agar mereka tidak merasa bosan saat belajar.
Jadi, intinya ketika masyarakat di situ menyuarakan aspirasinya kepada kita, kemudian kita punya SDM dan konsep serta warga punya tempat untuk sekolahnya, di situ ada titik temu.

 

 

Kenapa tertarik untuk mengajar anak-anak yang sudah bersekolah formal?

Dulu kita merancang ada dua opsi. Pertama kita benar-benar dari nol, yaitu membangun tempat untuk anak-anak yang tidak bersekolah atau yang sudah bersekolah tetapi membutuhkan tambahan di luar sekolah. Akan tetapi, di Solo memang kita agak susah mencari anak-anak yang sejak SD tidak bersekolah. Biasanya yang tidak bersekolah ini mereka terpisah-pisah, bukan dalam suatu daerah saja.

Kita mencoba mulai dengan apa yang terdekat di sekitar kita. Ada juga anak-anak yang bersekolah online kurang belajar maksimal atau anak-anak yang bersekolah offline, terkadang menyukai sekolah yang informal. Itulah alasan kita mengambil opsi untuk anak-anak yang sudah bersekolah yang membutuhkan tambahan di luar sekolah.
Untuk jadwal kita, warga sebenarnya menyampaikan untuk sebaiknya setiap hari saja, tapi kita sadar bahwa nanti ini malah akan mengesampingkan sekolah utamanya sehingga kita mencoba di hari Minggu pagi sekitar pukul 10.00 sampai 13.00 WIB. Rencananya juga di tahun depan akan ada tambahan belajar terkait ilmu keagamaan.
 

 

Apa latar belakang kamu mendirikan sekolah ini?

Ada beberapa latar belakang, yaitu ideologis, latar belakang tentang kesadaran, dan latar belakang historis. Dari sisi historis, para pahlawan terdahulu rata-rata mereka juga berfokus pada masalah pendidikan. Salah satu pahlawan yang mencetuskan Mosi Integral NKRI, Mohammad Natsir, di umur 20-an dia juga mendirikan sekolah gratis. Akhirnya dari situ, kita mencoba untuk seperti pahlawan terdahulu ini meskipun ada perbedaan, tapi setidaknya secara esensial sama.
Kedua, kita punya prinsip bahwa tanggung jawab orang terdidik itu adalah menciptakan orang-orang terdidik lainnya.

Ketiga, kita paham bahwa masyarakat enggak butuh tentang prestasi apa kita di kampus, entah jadi mawapres atau apa pun. Mereka butuh kesadaran kita hadir. Meskipun secara material mungkin kita tidak mendapatkan, tetapi kita akan mendapatkan law of attraction, seperti kita berpikir, apabila kita mau menjadi seorang menteri pendidikan, kerjakanlah tugas-tugas menteri pendidikan dari sekarang.
 

 

Sudah banyak siswa yang bergabung?

Karena dulu masih ada PPKM dan lain-lainnya, jadi belum bisa ke banyak RT. Jadi masih bisa sampai ke satu RT, kurang lebih siswanya 20-40 orang dengan usia anak-anak dari TK hingga SMP. Proyeksi ke depan, kita mencoba untuk menyentuh lima kabupaten atau kota sehingga di setiap kabupaten atau kota itu kita punya student center untuk masyarakat kurang mampu.
 

 

Lalu guru yang mengajar, apakah juga dari mahasiswa?

Iya, guru-gurunya semuanya dari mahasiswa, termasuk kepala sekolahnya juga. Rencana ke depannya juga sekolah ini dipayungi sebuah yayasan dari komunitas Bersamabisa.ID yang saya bentuk bersama teman-teman.
 

 

Untuk mendirikan sekolah ini, kamu mendapat dana dari mana? 

Dulu ada bantuan dari kampus karena ada program dari Kampus Merdeka, ada program semacam asistensi pembelajaran buat masyarakat akhirnya bisa ditaruh disitu. Nah untuk variable cost-nya itu biasanya kita donasi melalui website Bersamabisa.ID, jadi memang ada dua sumber pemasukan.
 

 

SGI ini kan salah satu perwujudan program dari komunitas Bersamabisa.ID, ya. Itu komunitas apa sebenarnya?

Komunitas ini saya dirikan bersama teman-teman ketika saya baru dua bulan di kampus di semester 1, lebih tepatnya pada 7 Desember 2019. Dulu ada keresahan dari teman-teman, kita butuh tempat untuk berkarya, yang tidak membuat jarak dengan masyarakat, selain lembaga-lembaga yang ada di kampus. Kita lalu mendirikan komunitas ini yang berfokus pada pendidikan.

 

 

Selain sekolah gratis, apa saja program komunitas ini?

Dulu ada yang namanya Bersama Desa, jadi kita sebulan di desa untuk mengurus pendidikan juga di sana, tapi bukan dalam bentuk sekolah, hanya dalam program-program biasa. Selain itu, kita memberi bantuan Alquran kepada beberapa pondok pesantren yang membutuhkan dan posisinya agak ke dalam, dulu pernah di Provinsi Banten. Di bulan Ramadan kita ada agenda-agenda juga. Jadi, lebih mengarah kepada sosial dan pendidikan.
 

 

Sepertinya kamu punya karakter dan semangat kuat untuk berkecimpung dalam aktivitas sosial, ya. Apakah itu ada pengaruh dari orang-orang di lingkungan terdekat?

Sebenarnya ibu dan almarhum ayah saya itu tidak terlalu menyentuh dalam teknis pengembangan karakter. Saya dari Sragen dan SD serta SMP di Solo, SMA boarding school. Jadi jarang ketemu orangtua. Yang saya dapat dari hal itu, terkadang memang dari DNA.

Saya tidak pernah meminta apa pun sama ibu saya kecuali doa. Saya juga tahu sekali jika ibu saya doanya kuat. Dari dulu, saya tidak pernah kecewa ketika meminta doa kepada ibu saya. Jadi, ibu saya menyentuhnya bukan dari bumi, tapi dari langit.
Yang kedua, memang lebih ke guru, bagaimana guru memproyeksikan muridnya. Saya sewaktu SMA sudah diproyeksikan untuk melipat umur. Maksudnya adalah ketika umur 20 tahun, kamu bisa berpikir seperti orang yang sudah 40 tahun. Jadi, lebih akselerasi dari hal ide dan gagasan. Jadi, ini terbentuk memang dari guru, lingkungan, dan pengalaman.

 

 

Kamu juga menulis dua buku tentang kepemimpinan, kenapa soal itu?

Latar belakangnya itu datang dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto menyampaikan apabila kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti jurnalis dan berbicaralah seperti orator. Dari situ ada poinnya untuk menulis, dari situ saya mulai untuk menulis.
Menulis itu kerja-kerja keabadian. Selain itu, juga ini sebagai bentuk penyadaran untuk generasi muda sehingga diharapkan mereka akan terpantik dan membuat gerakan-gerakan kebaikan lainnya. Saya suka menulis sejak SMP karena dulu saya suka cerita sebenarnya. Ceritanya seputar gagasan yang saya coba tuangkan lewat tulisan.
Saya terinspirasi juga dengan Mohammad Natsir karena saya melihat dalam hal karakter dan visi hidupnya, pembangun solidaritas yang bisa mempersatukan NKRI sekaligus public influencer yang bisa mengajak banyak orang. Kemudian punya sisi kepedulian terhadap pengembangan keagamaan yang baik.
 

 

Di UNS, kamu mengambil studi ekonomi pembangunan, ada pertimbangan khusus?
Sejak kelas dua SMP, saya bertanya kepada guru saya berapa utang Indonesia. Lalu waktu itu kayaknya di 2014 atau 2015, utangnya Indonesia itu Rp3.000 triliun, katanya. Wah saya kaget, tidak pernah mendengar utang sebanyak itu. Palingan teman-teman sekolah utang Rp5.000 sama teman-teman sekolahnya.

Akhirnya saya pulang dan kemudian demam karena memikirkan itu. Kemudian besoknya saya mengigau dengan orasi tentang kenegaraan sampai tetangga datang. Dari situ, saya mendapat hikmah bahwa saya harus bertanggung jawab tentang nasib negeri ini. Akhirnya saya masuk ke ekonomi sejak SMP. Sewaktu lulus dari SMP ke SMA, saya tidak libur, saya beli buku olimpiade ekonomi untuk belajar. Alhamdulillah mendapat juara di olimpiade nasional sewaktu SMA. Lalu, saya mengambil jurusan ini di UNS.
Juga, ekonomi itu queen of science, dianggap soshum kadang enggak soshum banget, dan dianggap saintek kadang juga enggak ada praktik-praktiknya. Kemudian, saya berpikir ekonomi itu mengurus hal-hal dasar masyarakat seperti tentang pangan, ekonomi, dan pendapatannya.
 

 

Tadi kamu menyebut soal menjadi menteri pendidikan, apa itu cita-cita selepas kuliah nanti?

Saya mau melanjutkan studi S-2 dulu, ke UGM atau Australia National University dengan mengambil master of public policy. Nantinya saya mau menjadi dosen terlebih dahulu sebelum masuk ke ranah kenegaraan. Saya tertarik untuk menjadi menteri pendidikan. Selain itu, juga tertarik menjadi gubernur. Sebenarnya ketertarikan saya ke ranah eksekutif. (M-2)

 

 

 

BOX: 

Kiat Konsisten Membantu Sesama

1. Perspektif terhadap kehidupan
Penting untuk mengetahui bagaimana perspektif teman-teman tentang hidup karena setiap orang mempunyai perspektif masing-masing.
2. Teguhkan prinsip
Menjadi pemuda keren adalah sebuah pilihan, tetapi menjadi pemuda yang bermanfaat adalah sebuah keharusan. Kita harus menyadari bahwa Indonesia maju bukan hanya karena keringat dan tulang punggung satu orang, tetapi dari akumulasi setiap generasi.


BIODATA

Nama: Shoffan Mujahid
 

Tempat, tanggal lahir: Sragen, 10 Oktober 2000

 

Riwayat Pendidikan:
1. Universitas Sebelas Maret (Sekarang)
2. Nur Hidayah Boarding School (2017-2019)

 



Daftar Prestasi :
1. Penulis buku Memimpin Hati Rakyat
2. Penulis buku Muda Memimpin
3. Finalis Mawapres UNS 2021
4. Mawapres 1 FEB UNS 2021
5. Presenter Artikel Ilmiah Komisi III Dewan Profesor UNS 2021
6. Awardee Beasiswa Rumah Kepemimpinan Angkatan 10
7. Asisten dosen macroeconomics
8. 1st Economic Development Essay Competition FEB UNS 2020
9. 1st Sharia Economics Essay Competition KEI FEB UNS 2020
10. 1st Winner National Essay Competition Sustainable Development Goals 2019
11. 1st Winner Essay Competition Optimalisasi Revolusi Industri FEB UNS 2019
12. The best graduate Nur Hidayah Boarding School 2019
13. 1st Winner Best Participant Jawa Tengah Leadership Project 2017

Riwayat Karier :
1. Founder and CEO Bersamabisa.ID
2. Pendiri Sekolah Gratis untuk Masyarakat (Sekolah Generasi Indonesia)
3. Menteri Koordinator Sosial Politik BEM FEB UNS 2021
4. Dirjen Ekonomi dan Kebijakan Publik Kementerian Analisis Strategis BEM UNS 2020
5. Research and Development KEI FEB UNS 2020
6. Koordinator Pusat Forum OSIS Nusantara 2019
7. Ketua Umum Forum OSIS Jawa Tengah 2018
8. Presiden OSIS Nur Hidayah Boarding School 2017/2018
9. Founder Forum OSIS Surakarta
 

 

 

BERITA TERKAIT