28 December 2021, 06:30 WIB

Diet Plant Based akan Tetap Jadi Tren di 2022


Basuki Eka Purnama | Humaniora

DI era pandemi covid-19, yang sudah melanda Indonesia selama hampir 2 tahun ini, sebagian besar masyarakat mulai fokus menerapkan pola hidup sehat. Misalnya dengan rutin berolahraga atau mulai mengonsumsi makanan yang sehat.

Dengan demikian, kondisi pandemi pun tanpa disadari juga telah menciptakan tren baru di masyarakat. Hal itu dikatakan ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Fitri Hudayani.

Oleh sebab itu, banyak masyarakat melakukan diet dengan fokus untuk meningkatkan imunitas tubuh pada 2021.

"Tahun ini sangat erat dengan diet yang kaitannya dengan kondisi pandemi ya. Misalnya diet untuk meningkatkan imunitas tubuh, diet untuk lebih bugar, dan diet-diet sejenisnya," ungkap Fitri, saat dihubungi, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Lima Cara Sederhana Untuk Tingkatkan Kebiasaan Gaya Hidup Sehat

Lebih lanjut, Fitri juga menjelaskan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup yang sehat, mengonsumsi makanan berbasis tumbuh-tumbuhan atau plant based juga menjadi tren.

"Sebenarnya dengan berjalannya waktu, banyak yang mulai menerapkan diet yang dianggap lebih sehat dari kebiasaan makan sebelumnya yaitu diet plant based baik bahan makanan yang menjadi dasar makanan yang dikonsumsi, juga bahan olahannya dan sudah mulai banyak yang menerapkan," kata Fitri.

Menurut Fitri, tren makanan plant based ini pun masih akan banyak diterapkan pada 2022 mendatang. 

Bahkan, Fitri berpendapat akan banyak variasi makanan-makanan sehat yang bermunculan pada tahun depan.

"Kemungkinan akan lebih banyak lagi yang menerapkan di tahun depan dan juga akan banyak variasi jenis makanan yang dikembangkan," lanjutnya.

Karena hingga saat ini pandemi covid-19 belum menghilang sepenuhnya, Fitri juga mengatakan tren diet yang diterapkan masih akan berfokus pada tren meningkatkan kekebalan tubuh dan mengonsumsi makanan sehat dibandingkan dengan diet yang berfokus untuk menurunkan berat badan.

Sehingga, pada 2022, tren yang berfokus untuk menurunkan berat badan sudah tidak banyak dilakukan sebagian besar masyarakat.

"Pada 2022, tren diet yang mungkin akan terus diterapkan adalah terkait dengan imunitas karena kondisi masih tetap concern masyarakat adalah menjaga kekebalan tubuh dan juga konsumsi makanan sehat dengan meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan membatasi gula, garam, serta lemak," jelas Fitri.

Hal serupa juga disampaikan ahli gizi dari Rumah Sakit Siloam Inge Permadhi. Menurutnya, masyarakat kini sudah tidak terfokus untuk melakukan tren-tren diet untuk menurunkan berat badan.

Menurutnya, pada 2022 mendatang, masyarakat justru akan fokus untuk melakukan diet secara benar dan sehat.

"Sebenarnya nggak ada tren kalau menurut saya ya. Jadi maksudnya memang nanti akan timbul macam-macam baik yang ada di luar negeri atau yang ada di Indonesia, tapi tidak terfokus pada tren," kata Inge.

"Pasien saya rasanya nggak ada yang ikut-ikut tren ya. Jadi mereka diet-diet aja dan kalau gagal baru nanya ke saya untuk dibantu. Sehingga menurut saya, nanti di 2022, fokusnya semua orang akan melakukan diet secara sehat dan benar ya dengan bimbingan dokter," sambungnya.

Diet untuk perkuat imunitas tubuh

Di sisi lain, dikutip dari Glanbia Nutritionals, diet immune supporting atau diet yang berfokus untuk memperkuat imunitas tubuh
memang akan menjadi salah satu tren pada 2022 mendatang.

Selain itu, diet plant based juga memang akan banyak diterapkan oleh sebagian besar masyarakat di tahun 2022 diikuti dengan berbagai macam diet lain seperti diet keto, volumetrics, dan mind diet.

Meskipun diet plant based dan diet immune supporting akanmenjadi salah satu tren pada2022 mendatang, Inge menyarankan masyarakat juga harus memperhatikan tentang cara memasak makanan tersebut.

Misalnya dengan memperhatikan jumlah kalori, serta tidak menggunakan terlalu banyak minyak saat memasak makanan. Sebab jika tidak memperhatikan hal tersebut, kemungkinan berat badan akan meningkat pun juga bisa terjadi.

"Sebenarnya ada sayur-sayuran yang tidak berkalori banyak, ada juga sayur yang berkalori. Tapi maksudnya kalau memungkinkan bagaimana kalau mengonsumsi sayurnya berwarna-warni gitu," kata Ingemenjelaskan.

"Dengan demikian dia bisa yang jumlahnya memang berkalori, dicampur dengan yang tidak berkalori sehingga jumlahnya bisa cukup banyak, tetapi dengan itu pengolahannya juga jangan pakai yang digoreng atau dicacah dengan banyak minyak," lanjutnya.

Terakhir, Fitri juga menyarankan masyarakat untuk memperhatikan beberapa hal sebelum memulai untuk menerapkan diet. Misalnya saja seperti jenis kelamin, usia, dan kondisi fisik.

Selain itu, Fitri juga mengimbau untuk memperhatikan gizi yang seimbang jika ingin memiliki pola makan yang baik dan sehat. Sebab, setiap individu memiliki kebutuhan gizi yang bervariasi.

"Sebelum seseorang menjalankan diet yang perlu diperhatikan adalah jenis kelamin karena berbeda antara laki-laki dan perempuan, usia di mana semakin bertambah usia kebutuhan akan lebih kecil, serta perhatikan kondisi kesehatan misalnya memiliki penyakit tertentu," kata Fitri.

"Pola makan yang baik untuk diterapkan adalah pola makan dengan gizi seimbang, di mana makanan yang dikonsumsi sesuai kebutuhan individu bersumber dari makanan yang bervariasi, aktivitas fisik, berperilaku hidup bersih, dan memantau berat badan," tutur Fitri. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT