27 December 2021, 17:58 WIB

Universitas Islam Indonesia Tambah 26 Doktor Baru


Agus Utantoro |

MEMPERKUAT barisan pengajar dan peneliti, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta pada akhir 2021 ini menerima kepulangan 26 dosen yang menjalani tugas belajar program doktor di berbagai perguruan tinggi. Dengan bertambah 26 doktor baru ini, kini 30,7% dosen di UII atau 241 orang, bergelar doktor.

"Persentase ini jauh di atas rata-rata nasional. Data pada akhir 2020 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan dari 309.006 dosen, baru 51.500 atau 16,7% yang berpendidikan doktor," kata Rektor UII Prof. Dr. Fathul Wahid.

Pada pidato penyambutan doktor baru di kampus setempat, Senin (27/12), Rektor menjelaskan selain 26 doktor baru, saat uni masih ada 129 dosen UII yang sedang menempuh studi doktor baik di dalam maupun du luar begeri. "Jika semuanya berhasil dalam beberapa tahun mendatang, maka proporsi dosen UII yang berpendidikan doktor akan menjadi 47,2%," katanya.

Lebih lanjut Rektor mengatakan, dari 26, sebanyak 12 orang lulusan beragam perguruan tinggi di Indonesia dan 14 orang lainnya menuntaskan studinya di Jepang (5 orang), Australia (3), Turki (2), Belanda, Malaysia, Swedia, dan Thailand, masing-masing 1 orang. Menurut Rektor keragaman perguruan tinggi tempat para lulusan ini menempuh pendidikan doktor, memiliki arti yang  sangat penting untuk menjaga dinamika gagasan dan diskusi.

Prof Fathul Wahid kemudian menyampaikan adagium ide dari banyak kepala lebih baik dibandingkan dengan satu kepala hanya valid jika memenuhi beberapa syarat. Dikatakan, keragaman asal perguruan tinggi doktor baru, , merupakan awal  baik sebagai syarat terciptanya iklim yang kondisif untuk tumbuh dan  berkembangnya gagasan segar.

Tingkat kegagalan tinggi

Pada kesempatan itu, Rektor mengajak para doktor baru ini untuk mensyukuri keberhasilan yang terlah dicapai. Karena imbuhnya, harus diakui tidak semua yang mengambil studi doktor dapat menyelesaikannya dengan beragam alasan. Di Amerika Utara, jelasnya tingkat kegagalan studi doktor diperkirakan mencapai 40-50% dan di Australia, sebelum pandemi Covid-19 menyerang, sekitar 20% mahasiswa program doktor tidak menyelesaikan studinya.

"Ketika pandemi, mereka menghadapi masalah pendanaan akut, sebanyak 45% dari 1.020 responden kemungkinkan akan menghentikan studi sampai akhir tahun ini," imbuhnya .

Bahkan di bidang sistem informasi, sebanyak sepertiga mahasiswa doktor gagal menyelesaikan studinya. “Saya belum menemukan statistik serupa di Indonesia," ujarnya.

Sementara Ketua Yayasan Badan Wakaf UII, Suwarsono Mohamad berharap dengan makin banyaknya dosen berderajat doktor di UII, kualitas pendidikan dan kualitas lulusan UII akan semakin meningkat. Suwarsono mengapresiasi, para doktor baru ini karena dalam situasi yang sulit ternyata mampu menyelesaikan pendidikan S-3 atau doktor di  berbagai perguruan tinggi.

"Saya berharap keluarga besar UII selalu berusaha memberi maslahat bagi masyarakat dan gelar tersebut dapat memberi barokah. Saya gembira
kebanyakan doktor baru itu adalah masih dari kelompok usia muda," jelasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT