24 December 2021, 21:39 WIB

ChildFund Terapkan Prinsip Sekolah Aman dari Bencana di Cilacap dan Kulon Progo


mediaindonesia.com | Humaniora

KESELAMATAN dan hak anak atas lingkungan pendidikan dasar yang berkualitas menjadi prioritas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui RUU RR No 24 Tahun 2007 dan RUU Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003.

Pemerintah Indonesia berupaya untuk mengarusutamakan pengurangan risiko bencana (PRB), menawarkan pedoman manajemen risiko bencana (DRM), dan prinsip sekolah aman untuk menjadi faktor dalam fasilitas sekolah. 

Dalam semangat perlindungan anak dan perlindungan hak-hak anak inilah, ChildFund International di Indonesia berinisiatif untuk menjalankan proyek Safe and Secure School Environment for Children (S3EC) bagi sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dan Kulon Progo, Yogyakarta. 

"S3EC adalah inisiatif yang dikembangkan oleh ChildFund International dan mitra-mitranya untuk mewujudkan sekolah aman di Indonesia. Inisiatif ini telah dilaksanakan dari tahun 2019 hingga tahun 2021," ujar Aloysius Suratin, Sponsorship & Program Director ChildFund International in Indonesia dalam keterangannya, Jumat (24/12).

"Program ini adalah salah satu contoh kolaborasi antara lembaga mitra yaitu Paguyuban Badan Musyawarah Masyarakat (PBMM) Mitra Anak Sejati (MAS) dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) Mino Martani dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap di Jawa Tengah," kata Aloysius. 

DRR Specialist ChildFund International in Indonesia, Ivan Tagor, menyatakan ada dua kecamatan yang menjadi target.

Dua kecamatan itu adalah Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta dan Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menilai Cilacap sebagai daerah dengan risiko bencana alam tertinggi. 

Pada akhir Desember 2021, proyek ini berhasil menorehkan capaian dalam menerapkan tiga pilar sekolah aman yaitu fasilitas sekolah aman, manajemen bencana di sekolah serta pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Dari sisi fasilitas sekolah aman, proyek ini telah melakukan renovasi mayor dan nimor terhadap 11 sekolah dasar di Kulon Progo dan 9 di Kampung Laut. 

"Tidak hanya renovasi, kami juga melengkapi sekolah dengan sarana yang aman, mulai dari meja, kursi dan lemari. Di semua sekolah kini telah ada petunjuk atau rambu evakuasi. Kami juga menyediakan alat peraga ajar dan buku bacaan tentang PRB di sekolah-sekolah," jelas Yuni, Program Coordinator YSBS Mino Martani. 

Selain itu, terdapat 47 sekolah imbas yang juga mendapat bantuan non-fisik dari proyek ini. 

Pada pilar manajemen bencana di sekolah, proyek ini berupaya mendorong warga sekolah untuk turut andil dalam manajemen bencana sesuai kapasitasnya. Mulai dari komite sekolah hingga murid.  

Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi konsep sekolah aman  kepada sekolah-sekolah, pelatihan untuk kepala sekolah dan guru tentang. 

Satuan Pendidikan Aman Bencana yang difasilitasi oleh dinas Pendidikan dan BPBD, pelatihan pembuatan prosedur tetap (protap) tanggap bencana dan pembentukan tim siaga bencana di sekolah.

Protap dan standard operating procedure (SOP)  dibuat disesuaikan dengan jenis bahaya dan  lingkungan di sekolah.

“Untuk pilar ketiga, yaitu pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana, kita mendorong terjadi integrasi PRB ke dalam pembelajaran sehari-hari," kata Bertho Pintono, Pimpinan PBMM MAS. 

"Salah satunya melalui penciptaan modul integrasi PRB yang dapat digunakan oleh guru,” tambah Bertho.  

“Secara khusus kami mengapresiasi dukungan dari Bupati Kulon Progo dan Bupati Cilacap beserta jajaran dinas terkait terutama BPBD dan Dinas Pendidikan karena telah memberikan berbagai dukungan bagi terlaksananya program ini dengan baik," ucap Aloysius.

"Kami berharap bahwa hasil yanh telah dicapai seperti modul pembelajaran yang mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dan renovasi infrastruktur sekolah aman bencana, dan manajemen pengelolaan bencana di sekolah akan dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain yang belum berpartisipasi pada program ini hak anak untuk terbebas dari bencana akan dapat diwujudkan,” paparnya.

"Saya sangat berharap kegiatan ini dapat memberikan penyebarluasan ide dan informasi kepada para pemangku kepentingan dan sekolah tentang praktik baik yang telah dilaksanakan dalam proyek sekolah aman ini," jelas Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji.

Pernyataan Bupati Cilacap yang disampaikan Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Cilacap Wijonardi dalam seminar penutupan proyek S3EC pada Rabu (22/12).

“Atas nama pimpinan dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menyatakan apresiasi dan terima kasih atas tersenggaranya kegiatan ini,’ ujar Bupati Kulon Progo Drs. H. Sutedjo dalam pidato tentang kebijakan pemerintah Kulon Progo dalam mendukung kabupaten layak anak.   

Romo Carolus Burrows sebagai Pimpinan YSBS Cilacap menyatakan karena situasi Indonesia yang berada di ring of fire dan perubahan cuaca sering terjadi, jelas banyak hal harus menjadi perhatian.  

"Jika kita tidak sadar dan tidak berusaha melakukan sesuatu untuk mengurangi pemanasan global, cuaca ekstrim makin lama akan makin buruk," kata Carolus.

"Saya sangat menghargai upaya ChildFund dan Mino Martani untuk memikirkan dan menangani masalah-masalah sepertu ini secara bersama," ungkapnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT