23 December 2021, 06:00 WIB

Bukan sekadar Modal Nyali


Nike Amelia Sari |

SALAH satu pembalap muda berprestasi, Avila Bahar, memang terlahir dari keluarga yang berkecimpung dalam olahraga tersebut. Wajarlah pembalap tim Honda Racing Indonesia ini sudah jatuh cinta dengan dunia balap sejak berumur belasan tahun.

Menjadi generasi ketiga setelah sang kakek, mendiang Aswin Bahar, pembalap jawara di era 1970-1980-an, dan sang ayah, Alvin Bahar, juara nasional delapan kali, Avila merasa perlu melanjutkan estafet prestasi itu.

Semangat itu mulai dikobarkannya dengan mencetak satu per satu prestasi, antara lain dengan menjadi juara nasional di Indonesian Sentul Series of Motorsport (ISSOM) 2021 kelas 1.500 Indonesia Touring Car Race (ITCR) Rising Star.

Kepada Muda, pemuda berusia 19 tahun ini berbagi cerita bagaimana pengalamannya hingga mendapat gelar juara nasional, hingga kiat-kiatnya keluar menjadi juara. Berikut petikan obrolan Muda dengan Avila via platform daring, Senin (19/12).

Kamu berhasil menjuarai ISSOM 2021 kelas 1.500 ITCR Rising Star, bisa diceritakan bagaimana perjalanan kompetisi ini?

Iya, di 2021 itu membalap di kelas seeded B (Rising Star). Di seeded B, alhamdulillah, selama setahun ini kejurnas 2021 di kelas aku itu di posisi ke-1 terus, tapi secara overall aku berada di top 3 atau top 2.

Nah, di seri 6 kemarin, aku benar-benar di 1 overall ngalahin seeded A dan lain-lainnya yang master, tapi juga juara kelas. Setelah itu, aku dinyatakan juara nasional seeded B itu mungkin di seri 5, yang juara 1 di kelasnya berturut-turut. Sebenarnya aku enggak targetkan 1 di semuanya, tapi menang di kelasnya dulu karena walaupun aku overall ke-1 tetap kehitungnya yang juara di seeded B.

 Persaingan ISSOM ITCR untuk tahun ini seperti apa?

Walaupun aku targetnya di kelas seeded B, tapi jujur pengin aja bersaing sama overall karena otomatis pada akhirnya melawan mereka juga nanti. Ada kebanggaan tersendiri buat aku bisa perform ke pembalap-pembalap yang jago di ITCR ini.

Untuk persaingannya selama 2021 ini berjalan itu oke banget walaupun sempat ada naik turunnya. Cuma di pembukaan round pertamanya aku juara 1 overall.

Lalu di round berikut-berikutnya agak sedikit struggle sama mobil, ada miskomunikasi sedikit sehingga semuanya enggak berjalan dengan baik sepenuhnya. Jadi, agak naik turun, tapi tetap bisa menjadi ke-1 di kelasnya. Di tahun ini aku manis di pembukaan sama penutupan.

Tantangannya bagaimana?

Tantangannya jujur di seri lima itu bukan lagi balap dan lawan aku, melainkan itu bener-bener survive condition. Walaupun sempat ada struggle karena cuaca, boleh dibilang sudah tidak sepenuhnya layak buat dilanjutin, akhirnya selamat, alhamdulillah, sampai akhir.

Karena kita enggak tahu bakal ada hujan sederas itu, jadi sebelumnya kita buat setting-an mobil yang kering. Jadi, selain cuaca, persaingan lawan, terus juga pemilihan keputusan dalam menentukan setting-an.

Bagaimana cara kamu mengatasi rasa grogi saat memulai pertandingan?

Aku, sih, grogi terus, ya. Cuma yang pasti aku akan lebih tenang apabila semuanya sudah terkendali atau sudah tahu apa yang bakal aku lakukan.

Misalnya, ada kondisi seperti ini, nah, aku sudah tahu bagaimana langkah-langkahnya. Jadi, aku tidak terlalu grogi. Makanya aku harus tahu antisipasinya gimana dan backup plan-nya bagaimana.

Kamu juga masuk ke ranah digital motosport?

Ya, aku belajar juga dari simulator karena racing simulator esport-nya jago-jago banget dan bisa banyak eksperimen mobil dan cuaca. Digital motosport ini semacam esport balap menggunakan racing simulator yang lumayan mendekati real, sekitar 70%. Bidang ini memang lagi berkembang dan aku juga merasa bagian dari itu. Jadi, aku join ke salah satu pemiliknya Indonesia-Singapura, namanya JMX Phamton.

Kenapa, kok, tertarik digital motosport?

Akhir 2020 awalnya tertarik karena sudah melihat industri digital motosport gimana dan secara komunitas juga semakin berkembang. Sekarang di 2021, platform semakin canggih buat racing simulator-nya.

Jadi, otomatis selagi terjun di dunia ini, bisa berdampak juga buat develop aku atau develop experience set up.

Balapan enggak sekadar balap karena mesti ada experience tentang set up dan lain-lain tentang teknis mobil. Otomatis di satu sisi aku mengembangkan digital motosport, di sisi lain, itu juga membantu aku di dunia balap mobil yang aku jalani.

Keluarga kamu keluarga pembalap. Apakah kamu memang diarahkan sedari kecil ke dunia ini? 

Aku enggak diarahkan menjadi pembalap dan enggak ada paksaan untuk menjadi pembalap. Jadi, benar-benar aku sudah menentukan dari awal. Mungkin aku relatif agak telat karena banyak orang mulai dari enam tahun. Aku mulai latihan itu umur 12 tahun. Baru di umur sekitar 13 atau 14 tahun, aku mulai balap.

Jadi, enggak ada dorongan dari keluarga untuk menjadi pembalap, tapi benar-benar karena datang dan melihat sendiri. Ini bukan hanya sport individual, melainkan juga melibatkan orang lain dan industri.

Menurut aku, presentase menjadi atletnya juga beda. Misalnya di balap itu 30% atau 40% fisik, 30% atau 40% itu pengetahuan, mental, dan lain-lain, dan 20% lainnya.

Kamu ingat apa yang membuat kamu ingin mencoba balap? 

Aku pertama kali nonton Papa, jadi penasaran dan nanya, "Masih bisa, nggak, sih, aku balap?" Lalu, dijawab masih bisa, tapi harus ada susulan yang mestinya aku sudah pelajari lebih awal. Akhirnya aku setuju. Dari situ, aku juga melihat beberapa anak muda kemudian aku berpikir mungkin aku bisa. Akhirnya aku coba dan ternyata menjadi passion.

Saat lomba balap perdana, ada perasaan takut? 

Pada umur itu aku enggak merasa takut karena sudah mengerti dari belajar. Walaupun belum banyak pengalaman, apa yang disampaikan Papa sudah membuat aku lebih berani.

Di sini aku balap maksudnya juga pengin ngasih tahu, pertama kalau motosport dan otomotif ini industri yang sangat berkembang dan bisa dibesarkan lagi prestasinya.

Di sini enggak bisa mengandalkan bakat saja. Kita perlu belajar. Pengetahuannya bisa dipelajari semua orang. Asal tekun dan pengalaman terarah, otomatis semuanya bisa. Aku enggak merasa berbakat, tapi aku punya target dan akan belajar sampai mencapai suatu titik entah berapa lama pun itu.

Selama berkecimpung di dunia balap mobil ini, apakah kamu pernah cedera cukup berat?

Alhamdulillah, aku merasa balapan mobil di Indonesia, terutama di ISSOM, di ITCR, dan kejuaraan Honda relatif aman banget. Boleh dibilang jarang kejadian, sekali atau dua kali yang agak berat pun cenderung aman karena sekarang balap mobil dilengkapi dengan helm, baju balap antiapi, lalu ada roll bar-nya, kalau kebalik mobilnya enggak hancur, dan lainnya. Jadi, insya Allah akan jarang banget, atau mungkin enggak ada yang mengundang buat kita jadi cedera.

Apa yang membuat kamu termotivasi dalam dunia balap?

Aku merasa prestasi dari Papa dan Kakek perlu dipertahankan dan dilanjutkan, bahkan harus lebih baik. Meski kesempatan aku untuk di internasional belum sejauh itu, aku berusaha menyiapkan mental sebagai juara dunia. Inspirasinya dari melihat Papa dan Kakek keren, dengan pengalaman mereka dan teknologi sekarang akan bisa membuat aku lebih baik lagi.

Bagaimana persiapan untuk masuk kelas seeded A pada 2022?

Kita sudah menentukan planning walaupun masih off-season. Dari tahun ini aku pakai Honda Jazz, tahun depan aku pakai Honda City Hatchback. Nah, ini, kan, mobil baru dan enggak pernah ada yang pakai di balap, jadi benar-benar mulai lagi dari nol.

 Sudah pasang target? 

Target tahun depan, sih, buat ke-1 full. Karena tahun ini pernah nomor 1 overall sebanyak dua kali, jadi optimistis buat tahun depan, asal enggak overconfidence. Bener-bener secara skill, teknik, pengalaman, karakter sendiri dalam menghadapi situasi dan psikologinya terus berkembang lagi. Dari jam terbang yang sudah aku lalui, mestinya lebih efisien dalam mengembangkan mobil, lalu antisipasi kondisi juga, termasuk cuaca, menghadapi lawan, ataupun yang paling penting menghadapi diri sendiri. Kita enggak boleh terganggu mood, jadi otomatis sudah bisa memprioritaskan apa yang penting buat tahun depan dan kesalahan apa yang tidak boleh terulang.

Selain mengasah skill, apalagi yang kamu siapkan? 

Aku banyak belajar diskusi sama tim dan sama Papa tentang perputaran fisikanya mobil dan perkembangan-perkembangan apa yang bisa dikembangin di mobil.

Jadi, selain menyiapkan diri sebagai atlet atau pembalap, aku belajar tentang sainsnya atau perkembangan teknologi dari mobil itu. Otomatis dilengkapi paketnya untuk bisa jadi juara. Selain diskusi belajar, aku baca buku dan lihat video juga untuk menambah pengetahuan seputar balap. Jadi, dari sini aku bisa tahu bagaimana teknologi mobilnya, bukan hanya menyetir mobil balap.

Pengetahuannya seperti geometri suspensi terkait dengan kecepatan mobil saat di belokan membantu ban mobil tidak terlalu kempes dan terlalu kencang. Simulator ada datalogi. Jadi, datalogi mendata nyetirnya kita. Lalu, misalnya ada karakter mobil yang kalau enggak mengerti, asal gas pol saja, mobilnya malah enggak mau kenceng. Nah, ini yang menjadikan kita berbeda dari orang biasa. Jadi, enggak pakai nyali i, tapi juga teknik.

Apakah kelak kamu akan terus di bidang ini?

Pasti, menurut aku, balap itu dipakai atletnya cukup panjang umurnya. Selain itu, menurut aku, di balap itu semakin tua semakin jago asal fisiknya enggak turun.

Pasti ada perbedaan muda dan tua, tapi pengetahuan bisa menutupi fisiknya. Papa sama Kakek menekankan ke aku, kalau bisa, di saat masih muda, fisiknya, ya, seperti orang muda, tapi pengetahuannya seperti yang sudah berpengalaman.

Dengan kesibukan kamu saat ini sebagai mahasiswa dan pembalap, apakah ada kendala dalam membagi waktu?

Masih struggling, tapi lumayan membantu karena (kuliah) online walaupun aku jujur enggak terlalu maksimal di kuliah atau tugas. Nilainya enggak perfect, tapi alhamdulillah masih oke, masih bisa lulus, dan masih dapat ilmunya.

Pilihan vokasi hubungan masyarakat terkait dengan cita-cita kamu sebagai pembalap? 

Aku memilih jurusan yang bakal terpakai di balapan lewat keterlibatan sama media, keterlibatan relasi antara sponsor, relasi antara komunitas dan lainnya, atau branding aku sendiri. Nah, secara teknis aku sudah belajar sama Papa, dan tinggal secara bisnisnya dan di luar balapnya yang bisa mendukung balapnya, makanya aku pilih jurusan humas.

Apa impian kamu dalam ranah motosport ini?

Impiannya sebagai pembalap, pastinya aku pengin prestasinya jauh lebih baik lagi, mempertahankan juara nasional, semoga bisa menyumbang prestasi internasional, dan sebagainya. Industri ini luas dan lengkap banget, ya. Di sini bukan hanya bisa menjadi pembalap, melainkan juga race engineer, promotor, pakarnya dari otomotif, dan lainnya dari pengetahuan seputar balap buat industri-industri otomotif dan aku bangga bisa bagian dari ini. (M-2)

 

Biodata

Nama: Avila Bahar

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 12 April 2002

 

Pendidikan: Mahasiswa Jurusan Vokasi Hubungan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020-sekarang

 

Prestasi

1. Juara nasional ISSOM 2021 kelas 1.500 ITCR Rising Star

2. Juara Legion of Racers (LOR) Online League 2021

3. Double winner seri 1 ISSOM 2020

4. Juara pertama Honda Jazz Speed Challenge (HJSC) Promotion, 2018

5. Juara ITCR 1.600 cc Rising Class, 2019

6. Runner-up Honda Brio Speed Challenge (HSBC), 2016

BERITA TERKAIT