20 December 2021, 23:10 WIB

Membumikan Omicron Melalui Komunikasi Komunitas


Siti Retno Wulandari | Humaniora

BICARA soal penanganan pandemi atau keganasan varian baru virus korona tak melulu harus dengan bahasa medis yang kadang sulit dipahami. Pun meyakinkan masyarakat untuk mau mengikuti anjuran pemerintah tak hanya dengan memaparkan dampak pada kesehatan.

Pakar Komunikasi Gun Gun Heryanto menyampaikan komunikasi dengan basis komunitas bisa menjadi salah satu solusi agar apa yang dimaksud pemerintah melalui beragam imbauan bisa diterima dengan baik dan tak salah kaprah. Karena istilah kesehatan hanya bisa diterima oleh mereka dengan pendidikan yang memadai.

“Pemerintah harus mengelola organisasi dan tokoh, lihat socio-culture masyarakat kita, bagaimana bisa membumikan omicron sehingga bisa membantu pemerintah mengatasi pandemi. Pada masyarakat yang erat dengan prinsip keyakinan pasti akan mendengarkan orang yang dituakan di tempat tersebut, tentu dengan bahasa yang memang disesuaikan pada daerah tersebut,” ujar Gun Gun di Kantor Media Indonesia dalam acara Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Gelombang I, Senin (20/12).

Baca juga: Sinergitas Pusat-Pemda untuk Tekan Omicron

Gun Gun mencontohkan, untuk meyakinkan seseorang mau melakukan vaksinasi tak melulu harus disentil pada dampak kesehatan. Hanya perlu menyentu ego involvement yang umumnya sangat sederhana di masyarakat dengan kondisi penolakan vaksinasi tinggi.

“Kalau kamu nggak vaksin nanti nggak bisa masuk mall lho. Nah sesederhana itu, mereka langsung mikir oh iya ya nanti nggak bisa kemana-mana,” imbuhnya.

Tentu, komunikasi komunitas tak begitu saja bisa dilepas. Pemerintah perlu memetakan karakteristik masyarakat, mengajak komunikasi tokoh yang didengar atau significant other di tempat tersebut untuk penyamaan persepsi. Jika sudah berhasil, maka tokoh tersebut akan diterjunkan ke masyarakat. Panduan ini guna meminimalisir adanya distorsi informasi dari pemerintah ke masyarakat melalui significant other.

“Tokoh yang didengar ini akan jadi opinion leader di komunitas dan bisa mengamplifikasi apa yang disampaikan pemerintah,” tuturnya.

Gun Gun menyebut Pemprov Jawa Barat dan Jawa Timur sudah melakukan komunikasi berbasis komunitas. Komunikasi jenis ini diyakini Gun Gun lebih efektif ketimbang melalui sosial media, karena karakteristik informasi sosial media many to many sementara komunitas bisa one on one.

“Jaringan ini dikendalikan, tidak dilepas begitu saja. Sehingga pesannya sampai dengan sesuai maksud pemerintah,” pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT