14 December 2021, 14:35 WIB

Mengenal Majas yang Sering Digunakan, Bikin Kalimatmu semakin Hidup


Muhammad Bintang Rizky | Humaniora

KETIKA kita masih duduk di bangku sekolah dasar kita tidak asing dengan pelajaran bahasa indonesia yang membahas tentang majas. Majas adalah salah satu bentuk gaya bahasa untuk mendapatkan suasana dalam kalimat agar semakin hidup.

Majas bisa menjadi ungkapan yang bisa menghidupkan suatu kalimat. Majas melakukan penyimpangan dari makna dari suatu kata yang biasa digunakan. Ada beberapa bentuk majas.

Perbandingan

1. Personifikasi
Majas personifikasi membandingkan manusia dan benda mati. Gaya bahasa yang digunakan seolah-olah benda tersebut bersikap selayaknya manusia. Contoh, laut yang biru seakan menatapku dalam keheningan.

2. Metafora
Majas metafora membandingkan dua objek yang berbeda tetapi memiliki sifat yang serupa. Kita mengenal gaya bahasa ini sebagai analogi. Contoh, sang raja siang bersinar dan membawa kehangatan.

3. Asosiasi
Gaya bahasa perbandingan dalam majas metafora ditampilkan secara implisit. Dua objek yang dibandingkan sebenarnya berbeda, tetapi dianggap sama. Keduanya dihubungkan dengan kata seperti, bak, atau bagaikan.
Contoh, apa yang telah kamu lakukan itu seperti duri dalam sekam.

4. Hiperbola
Gaya bahasa ini mengekspresikan sesuatu dengan sedemikian rupa sehingga meninggalkan kesan berlebihan itu. Gaya bahasa ini digunakan saat kita membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang tak masuk akal untuk disandingkan sebagai perbandingan. Contoh, katanya dia berlatih bernyanyi, tetapi suaranya bikin pecah gendang telingaku setiap hari.

5. Eufimisme
Saat ada kata yang dirasa kurang etis, kita menggunakan majas eufimisme. Kita menggunakan kata yang lebih sopan dengan makna yang sepadan. Contoh, tiba-tiba dia terhenyak dari tempat duduknya dan berlari menuju kamar kecil.

Pertentangan

Dalam majas perbandingan, kata kiasan yang digunakan memiliki makna yang berkebalikan atau bertentangan dengan maksud yang sesungguhnya. Berikut ini beberapa majas dan contohnya.

6. Litotes
Dikenal sebagai lawan dari majas hiperbola, majas litotes mengecilkan atau menyempitkan suatu ungkapan. Gaya bahasa ini biasanya digunakan untuk tujuan merendahkan diri karena kenyataannya justru tidak seperti yang disebutkan. Contoh, ini tanda terima kasih kami sekadar ongkos angkot.

7. Paradoks
Adakalanya kita membandingkan suatu fakta dengan sesuatu yang berkebalikan. Saat itulah kita menggunakan majas paradoks. Contoh, isi kepalanya begitu bising ketika ia duduk sendiri di ruang keluarga yang begitu sepi.

8. Antitesis
Ciri khas gaya bahasa ini adalah pasangan kata yang maknanya bertentangan atau berlawanan. Pasangan kata tersebut biasanya diletakkan berurutan. Contoh, setiap perempuan itu cantik, tak jadi soal kurus atau gemuk.

Sindiran

Gaya bahasa bermajas sindiran bertujuan menyindir perilaku, seseorang, maupun kondisi tertentu. Untuk tujuan tersebut, kita menggunakan kata kiasan. Di bawah ini ragam sindiran majas dan contohnya.

9. Ironi
Kita menggunakan majas ironi melalui kata-kata yang bertentangan dengan dengan fakta atau kenyataan yang ada. Sekilas kata-kata yang digunakan tampak seperti pujian, tapi tunggu sampai akhir kalimat.
Contoh, santun sekali perilakunya, bertanya saja pakai teriak-teriak.

10. Sinisme
Dalam sinisme, kita menyindir secara langsung. Meskipun tanpa memperhalus seperti pada majas ironi, gaya bahasa sinisme tidak dapat serta-merta disebut kasar. Contoh, kakakku pelit sekali, tak mau berbagi penganannya denganku.

11. Sarkasme
Sindiran dalam sarkasme disampaikan secara langsung dan cenderung kasar. Bahkan, sarkasme bisa terdengar seperti hujatan. Contoh, kontestan itu suaranya jelek sampai-sampai telingaku sakit dibuatnya.

Penegasan

Gaya bahasa ini bertujuan memperkuat pengaruh dan mendapatkan persetujuan pembaca atau pendengar. Sebagian majas dan contohnya ada di bawah ini.

12. Pleonasme
Majas pleonasme menggunakan kata-kata dengan makna yang sama. Kesan yang diperoleh memang sepertinya kurang efektif, tetapi memang sengaja dilakukan agar kita mendapatkan efek penegasan yang diinginkan.
Contoh, berusahalah berhenti terus mengingat sejarah masa lalu.

13. Repetisi
Gaya bahasa ini tampak pada pengulangan yang berkali-kali digunakan. Tujuannya sama, pengulangan dilakukan untuk menegaskan. Contoh, rumah adalah tempat yang paling nyaman, rumah juga menjadi tempat bernaung dari panas dan hujan.

Baca juga: Bacaan Niat Puasa Senin-Kamis Lengkap dengan Terjemahan dan Keutamaannya

14. Retorika
Majas retorika berbentuk kalimat tanya. Sobat tentu sudah tahu bahwa kalimat tanya retorika tak memerlukan jawaban. Iya, tujuan kalimat tanya tersebut memang untuk membuat penegasan. Contoh, siapa yang tak ingin kuliah di kampus terbaik?

15. Paralelisme
Lumrah digunakan dalam puisi, majas paralelisme ditunjukkan oleh pengulangan kata. Meskipun diulang-ulang, definisi kata tersebut tak sama antara satu dengan lainnya. Anafora ialah pengulangan di bagian awal kalimat, sedangkan epifora ialah pengulangan di bagian akhir kalimat. (OL-14)

BERITA TERKAIT