13 December 2021, 12:30 WIB

Media Massa Harus Mampu Bermetamorfosis


Media Indonesia | Humaniora

METAMORFOSIS menjadi kata kunci bagi eksistensi media massa saat ini, karena perkembangan informasi tak bisa dibendung. 

"Itu menjadi sebuah keharusan kalau tak ingin tergilas zaman," ujar Dosen IISIP Jakarta Yuri Alfrin Aladdin dalam webinar yang dihelat Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) IISIP Jakarta, Selasa (13/12).

Membawakan topik Metamorfosis Kantor Berita, Yuri menjabarkan bahwa kondisi saat ini mengharuskan kantor berita dan juga lembaga-lembaga media harus berdamai dengan media sosial (medsos). "Bahkan sejauh pengetahuan saya, seperti Reuters itu sumber pemasukan utamanya justru bukan dari 'jualan' berita," tuturnya.

Khusus keberadaan kantor berita, seperti Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Yuri menambahkan tak bisa disamakan dengan media massa lainnya. Salah satu yang membedakan adalah dalam pembiayaan operasional.

"Kalau media massa lain harus mencari sumber pendanaan sendiri, Antara enggak demikian. Sedangkan sebagai entitas jurnalistik, Antara tetap punya porsi mengkritisi pemerintah," ungkap Yuri lagi. 

Senada dengan Yuri, mantan Direktur SDM dan Umum Perum LKBN Antara Rajab Ritonga juga menuturkan diseminasi berita yang dikuasai kelompok tertentu membuat ada ketidakseimbangan penyampaian informasi. Itu sebabnya kantor berita dibutuhkan demi membuat keseimbangan.

"Keberadaan LKBN Antara memang untuk penyeimbang agar tidak ada penguasaan berita oleh kelompok tertentu. Beban yang disandang itulah membuat kantor berita ini harus ditopang negara," tandas Rajab yang melansir topik Eksistensi Kantor Berita Dunia Saat Ini.

Terkait dengan posisi jurnalis, Guru Besar Ilmu Komunikasi  Institut Komunikasi dan Bisnis London School of Public Relations Jakarta ini mengungkapkan bahwa profesi tersebut sangat terbuka. "Siapa pun bisa jadi jurnalis tanpa perlu sekolah jurnalistik. Coba saja cek fakta pimpinan-pimpinan media arus utama di Indonesia, banyak yang tidak berlatar belakang sekolah jurnalistik," tambahnya.

 

 

 

 

 

Dalam catatan Rajab di Indonesia ada 100 ribu-120 ribu jurnalis, dan 47 ribu portal berita. "Nah, dari sejumlah itu baru 17 ribu yang dianggap berkompeten. Ini menimbulkan masalah pemenuhan etika dalam penulisan berita, mengingat banyak yang tak paham soal etika jurnalistik," tukasnya lagi.

Posisi etika ini yang menjadi sorotan Dekan Fikom IISIP Jakarta Mulharnetti Syas. Dalam bahasan Implementasi Etika Jurnalistik pada Konten Kantor Berita, ia menjelaskan etika itu akan melindungi masyarakat dari malpraktik oleh wartawan yang tidak atau kurang profesional.

 

 

 

 

 

"Selain itu juga mencegah manipulasi atau disinformasi. Ini bisa berbahaya karena bisa menimbulkan kesalahapahaman bahkan berkembangnya hoaks," tegas Netti, sapaan Mulharnetti Syas.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III IISIP Jakarta Omar Abidin Gilang ini diikuti puluhan mahasiswa dan juga akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta. "Kami berharap para pakar yang hebat ini memberikan pencerahan kepada para mahasiswa dan juga kawan-kawan akademisi yang ikut webinar," ucap Omar. (RO/O-2)

BERITA TERKAIT