10 December 2021, 12:15 WIB

Agar Anak Didik Sukses, Belajar Harus Menyenangkan


Basuki Eka Purnama | Humaniora

PSIKOLOG anak dan remaja dari PION Clinician Katarina Ira Puspita mengatakan proses belajar harus menyenangkan dan tidak kaku agar anak-anak peserta didik mampu menyerap pelajaran dengan maksimal.

Dalam buku Research-Based Strategies to Ignite Student Learning: Insights from a Neurologist and Classroom Teacher, neurolog Judy Willis menunjukkan bagaimana pengalaman belajar yang menyenangkan meningkatkan kadar dopamin, endorfin, dan oksigen pada otak anak, kata Katarina dalam siaran pers, Rabu (8/12).

Kadar dopamin yang meningkat akan menambah motivasi dan semangat, kadar endorfin yang meningkat bisa menurunkan tingkat stres, dan kadar oksigen yang meningkat bisa memperlancar kerja otak.

Baca juga: Pesatnya Teknologi Komunikasi Menuntut SDM Mampu Bertransformasi

Salah satu tantangan terbesar orangtua dan guru dalam hal mendidik anak adalah memastikan anak tetap termotivasi dan mampu memahami materi yang sedang diajarkan.

Sejak pandemi covid-19, tantangan tersebut menjadi semakin berat karena proses belajar mengajar yang kehilangan sebagian unsur sosialnya.

Sebuah survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun lalu menunjukkan sekitar 76,7% siswa mengaku tidak senang dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan 81,8% mengaku proses tersebut menekankan pada pemberian tugas, bukan pada diskusi.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Agustus 2021 lalu juga menjelaskan dalam implementasi PJJ yang sukses banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti waktu pembelajaran yang fleksibel, presentasi guru yang terbatas interaksinya dan monoton, serta kebingungan siswa atas sistem PJJ yang kian berubah.

Beberapa hal ini akan berpengaruh pada menurunnya motivasi belajar siswa dan pada akhirnya menyebabkan learning loss atau gagal terbentuknya pengetahuan/pembelajaran baru bahwa di masa pandemi ini sistem pembelajaran jarak jauh punya struktur yang kurang jelas dibandingkan di kelas formal.

"Tidak semua keluarga punya area belajar khusus, sehingga anak bisa belajar di mana saja dan sulit menghindari distraksi dari lingkungan sekitar. Hal ini akan mempengaruhi fokus dan konsentrasi serta performa belajar anak", kata Katarina.

Absennya elemen sosial membuat proses belajar menjadi kurang menyenangkan.

"Anak sulit untuk bertanya langsung jika ada hal yang kurang dipahami, karena tidak semua orangtua bisa mendampingi. Sekolah sering kali jadi identik dengan tugas sehingga anak lebih jenuh dan tidak termotivasi,' pungkas dia. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT