09 December 2021, 06:45 WIB

Teknologi Buat Anak Muda Makin Dekat dengan Literasi


Basuki Eka Purnama | Humaniora

PENULIS Nadhifa Allya Tsana, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Rintik Sedu, mengatakan, saat ini, literasi menjadi semakin dekat dengan masyarakat, khususnya kaum muda, berkat kehadiran teknologi.

"Semua tentang literasi (sekarang) lebih dekat dengan kita. Literasi yang sekarang lebih banyak warnanya, banyak bentuk adaptasinya, banyak formatnya. Sekarang, baca buku enggak selalu harus ke toko buku atau perpustakaan dulu," kata Tsana di Sarinah Jakarta Content Week, Rabu (8/12).

"Sekarang, dunia anak muda lebih banyak di handphone, jadi sebetulnya literasi enggak hilang. Bahkan, menurut saya, berkembang karena mereka bisa baca kapan pun dan di mana pun," lanjutnya.

Baca juga: Literasi Jadi Kunci Penting Indonesia Maju 

Tsana juga menceritakan, 15 tahun lalu, dia masih membaca buku yang warna kertasnya masih abu-abu serta kesulitan mencari teman untuk berdiskusi tentang buku. 

Berbeda dengan sekarang, lanjut Tsana, dia bisa sangat mudah menemukan teman untuk berdiskusi tentang buku.

"Jadi (dulu) kalau mau ngerumpiin buku kesulitan. Sekarang ngomongin buku lewat direct message (DM) juga bisa, kita punya forum di internet," ujar Tsana.

Dengan perkembangan teknologi tersebut, Tsana merasa anak muda punya tugas penting untuk mempromosikan buku kepada orang lain. 

Menurutnya, banyak buku-buku bagus di Indonesia namun kurang dikenal masyarakat.

Oleh karena itu, Tsana mengatakan dia memiliki akun Instagram khusus yakni @lefthebook berisi rekomendasi buku karya penulis lain agar anak muda semakin tertarik membaca.

"Anak-anak muda ini kan suka banget diracun, racun skin care, racun makanan. Lalu, saya pikir kenapa saya gak racuni mereka dengan buku. Menurut saya, mereka suka baca buku tapi mereka butuh seseorang untuk ngasih tahu buku yang bagus," kata Tsana.

Tsana juga memberikan tips singkat bagi anak-anak muda yang ingin mulai membaca buku, yaitu dengan meningkatkan rasa ingin tahu.

"Dimulai dari rasa keponya dulu. Kenapa orang bisa suka baca? Kenapa ya ada penulis bikin buku tentang boneka yang bisa hidup? Jadi banyakin pertanyaan 'kenapa'," ujar Tsana.

"Karena cuma butuh satu buku untuk membuat teman-teman jatuh cinta sama literasi," pungkas dia. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT