08 December 2021, 23:50 WIB

LaSalle College Jakarta Angkat Wastra Nusantara di JFW 2022 dengan Tema Prolusio 


Mediaindonesia.com | Humaniora

KAMPUS LaSalle College Jakarta kembali berpartisipasi di ajang Jakarta Fashion Week. Tahun ini, dalam keikutsertaannya yang ke-10 kali di JFW, LaSalle College mengangkat tema 'Prolusio" pada JFW 2022. Tema itu berasal dari Bahasa Yunani Prelude yang berarti perkenalan karena LaSalle College Jakarta ingin memperkenalkan talenta barunya. 

Tahun ini, LaSalle College menampilkan 14 desainer yang mengangkat wastra nusantara sebagai karyanya. Diantaranya Rambu Humba karya Novia Tjanggah yang memperkenalkan keindahan kedua kain bermotif dari Bali yang dihiasi dengan manik-manik buatan tangan yang sangat halus dan detail, teknik bordir dan tambal sulam, dikombinasikan dengan kreativitas dan kekaguman pada fashion yang tinggi. 

Karya lainnya bertema Sweet Despair yang menonjolkan Budaya Flores, Nusa Tenggara Timur karya Theresia Ferensy, Koleksi ini menonjolkan budaya Flores menggunakan kain tenun alami yang disebut “tenun ikat”. Ini terinspirasi oleh Frida Kahlo. Koleksi ini mewakili kemandirian, kerja keras, dan cinta diri. 

Nadya Oktaviani Budinarta, mahasiswa LaSalle College Jakarta lainnya menampilkan Patembi. Koleksi ini terdiri dari pakaian malam dan pakaian sehari-hari. Ditonjolkan dengan kain tenun ikat dari Sumba Timur sebagai fitur utama dalam koleksi ini, bersama dengan taffeta sutra, organza, denim, melton, dan linen. 

Sementara itu, Graciela Tiara Kusno menampilkan The Art of The Village yang terinspirasi dari keanekaragaman budaya yang indah di pulau Kalimantan (Kalimantan). Dengan ragam corak dari ulap doyo yang dipadukan dengan warna-warna tradisional Dayak seperti hitam, merah, putih, dan lainya, yang melambangkan keagungan atau kematian, kehidupan, dan kesucian. 

Baca juga : UNJ Kukuhkan 3 Guru Besar dari 3 Fakultas 

Reni Kosgoro menampilkan karya Abaca Musaceas, Selain itu, juga ada T’NALAK, koleksi yang merupakan hasil dari penelitian dan eksplorasi panjang yang mendalam dari perjalanan studi mahasiswa ke Filipina, terutama di Cotabato Selatan, Pulau Mindanao. 

Menggunakan kain t’nalak sebagai kain utama yang dipadukan dengan berbagai kain modern lainnya, yang dilengkapi dengan perawatan kain, bordir dan manik-manik, menghasilkan desain yang diinterpretasikan modern yang wearable dan up to date. 

Karya lainnya ialah The Asian Glitterati dari Nethania Andreana. Bahan utama dari koleksi ini adalah taffeta yang dipadukan dengan kain tradisional Indonesia, Tenun Polos, dan untuk melengkapi tampilannya, terdapat hiasan monokromatik berupa applique bunga, manik-manik, dan bordir. 

Karya terakhir, Dikita No-Neka dari Jessenia Laurinda, yang terinpsirasi dari budaya Sumba yang berarti perantara antara Tuhan dan manusia. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT