09 December 2021, 06:00 WIB

Angel Gabriella Kusuma Berpikir Kritis dengan Arsitektur


Nike Amelia Sari | Humaniora

EKSPLORASI dan berpikir kritis menjadi dua hal yang sampai saat ini dipegang oleh mahasiswi semester tujuh Universitas Petra Surabaya, Angel Gabriella Kusuma, menyangkut bidang arsitektur.

Bermula dari gemar bermain merakit bangunan dan menyimak interior, Angel memilih jurusan arsitektur saat memasuki dunia perguruan tinggi. Di situ, Angel pun aktif mengikuti berbagai kompetisi arsitektur lantaran dirinya selalu haus akan wawasan baru sebagai sumber inspirasi dan ide.

Lewat salah satu kompetisi yang diikutinya, Angel terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk ajang Asian Contest of Architectural Rookie's Awards (ACARA) 2021 pada November lalu.

Kepada Muda, calon arsitek yang kini berusia 21 tahun tersebut bercerita soal karya desainnya yang telah ditampilkan di ajang internasional, kesukaannya terhadap arsitektur, hingga apa saja yang perlu diperhatikan dalam mempelajari bidang ini. Berikut petikan wawancara yang dilakukan via platform daring, Selasa (7/12).

Halo, selamat ya atas prestasi yang kamu toreh. Bisa kamu ceritakan bagaimana kompetisi ACARA 2021?

Kompetisinya dilaksanakan setiap tahun oleh satu organisasi, namanya AUA (Asia United Architecture Association). Tujuannya untuk lebih mengenal karya-karya mahasiswa antarnegara.

Sebelum masuk ke kontes internasionalnya, mereka biasanya mengadakan kontes nasionalnya untuk memilih perwakilan di internasionalnya. Juara satu dan dua berhak melaju ke kompetisi internasionalnya.

Untuk tahun ini, tingkat nasional dikoordinasi oleh Universitas Atma Jaya. Kebetulan, saat ini host-nya Indonesia, jadi yang mengoordinasi tingkat internasional ialah Universitas Petra.

Bagaimana proses kompetisinya?

Proses di tingkat nasional itu, submit proyek kemudian diumumkan top 20, lalu diseleksi kembali dan dipilih top 10. Sepuluh terpilih ini presentasi online secara langsung. Kemudian ada waktu untuk jurinya voting karya yang dipilih.

Apa saja yang dinilai dari kompetisi ini?

Kompetisi ini tentang bagaimana memberikan nilai-nilai masa lampau dan menghubungkan nilai-nilai histori masa lampau ke masa sekarang. Jadi, yang dinilai itu bagaimana nilai-nilai budaya dan masyarakat ini diterjemahkan ke arsitektur.

Tantangannya bagaimana?

Kesulitannya ialah bagaimana menjelaskan konsepnya. Karena nilai-nilai histori yang diangkat dari Surabaya, jadi nilai-nilai historis masa lalu yang diangkat cukup sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Apa yang kamu dapatkan saat ikut kompetisi ini?

Seperti waktu nasional dan internasional, saya bisa lihat karya mahasiswa dari proyek-proyek kampus mereka. Jadi, lebih membuka wawasan, dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Apalagi internasional yang diikuti oleh sekitar 24 peserta dari 12 negara ini, mereka masing-masing berbeda cara berpikir dan cara mendesain. Jadi, ini sangat bagus untuk menambah wawasan.

Bagaimana persiapan kamu di tingkat nasional dan internasional?

Karena ini sebelumnya proyek (tugas) kuliah dari kampus, ini sudah saya buat di semester enam selama tiga bulan. Tetapi, di kompetisi nasional dan internasional, saya juga menambahkan perspektif secara detail untuk desain ini, seperti gambar ruangan secara 3D agar jelas.

Apa yang melatari karya kamu tersebut, Titik Lebur?

Proyek kuliah ini sebelumnya sudah ditentukan lokasinya, yaitu Taman Apsari. Judulnya Titik Lebur, karena di situ anak-anak muda sociopreneur dapat melebur dengan masyarakat untuk memajukan para pedagang mikro.

Selain itu, juga sudah ditentukan untuk mendesain semacam Balai Pemuda, tapi fungsinya dibebaskan, seperti untuk wirausaha dan lainnya. Kebetulan yang saya desain adalah sebagai tempat kerjanya sociopreneur.

 Kenapa kamu memilih desain bangunan untuk sociopreneur?

Sociopreneur ini adalah orang-orang yang menggunakan teknologi untuk membantu usaha-usaha kecil. Alasan saya membuat desain fungsi seperti itu karena saya melihat di sekitar area lahan tersebut banyak pedagang kaki lima.

Selain itu, di sekitar lahan tersebut juga dulu ada toko-toko Tunjungan, yang ini termasuk nilai sejarahnya Surabaya. Karena teknologi saat ini sudah canggih dan ada mal, akibatnya orang-orang tidak pergi ke sini lagi sehingga usaha mikro ini mulai terlupakan.

Jadi, saya ingin fungsi lahannya ini juga mendukung dan berdampak ke orang-orang di sekitarnya. Ini semacam menghubungkan usaha-usaha mikro ke sociopreneur. Jadi, bangunan ini bukan hanya untuk kegiatan sociopreneur saja, melainkan juga untuk mewadahi pedang-pedagang di sekelilingnya agar bisa berjualan di area luar gedung yang sudah disediakan.

Seperti apa bangunan untuk kegiatan sociopreneur ini?

Bangunannya tempat berlatih sociopreneur ini sendiri. Fasilitasnya ada eco-working, perpustakaan, laboratorium komputer, kemudian ada amphiteater, dan ada studio kecil yang dapat digunakan publik. Ini bisa juga untuk para pedagang untuk mempromosikan produk jualannya.

Bisa dijelaskan bagaimana konsep desain bangunannya?

Bangunannya mengandung nilai yang simbolik. Saya lebih ke arah bagaimana cara menyimbolkan sociopreneur ini ke konsep desain arsitektur. Jadi, bisa dibilang karakter sociopreneur ke masyarakat. Bentuk bangunannya segitiga untuk melambangkan seperti menunjuk ke satu titik. Ini digambarkan sebagai progres yang harus dicapai sociopreneur ini.

Selain untuk memaknai simbolik ini juga merespons lahannya, gimana ini menarik point of view orang ke lahan ini. Bentuknya juga segitiga melengkung yang menggambarkan progres perlahan dari sociopreneur untuk membantu para pedagang mikro.

Bangunannya juga dibuat lebih ke bawah dengan adanya basement ketimbang menjulang ke atas agar lebih menyatu dengan alam.

Salah satu material bangunannya digunakan glulam, sejenis kayu asli yang diproses terlebih dahulu. Ini dipakai agar memberikan kesan yang jujur dan sederhana. Sementara kisi-kisi yang ada di bangunan juga untuk menghalangi matahari dan agar sinar matahari yang panas tidak langsung masuk ke bangunan.

 Bisa dianggap bangunan ramah lingkungan?

Konsep desain ini disesuaikan dengan kondisi iklim kita yang tropis. Mungkin yang diperhitungkan penghawaan dan pencahayaan. Ini lebih mengarah kepada penghematan energi dengan memasukkan cahaya alami melalui skylight yang dirancang. Di skylight ini ada kaca di atasnya sehingga penerangan bisa masuk dari sinar matahari. Lalu, menyiasati panas akibat skylight ini, saya buat ruangan yang ada kacanya bisa dibuka tutup agar udaranya dapat bersirkulasi dengan baik. Ini akan lebih menghemat penggunaan AC dan lampu.

Sejak kapan kamu tertarik dengan bidang arsitektur?

Dulu, saya lebih suka ke desain grafis. Lalu, lanjut ke SMA, saya mulai suka ke interior dan bangunan. Dulu juga, saya suka membuat bangunan dari mainan, setelah itu mulai ada ketertarikan untuk masuk ke arsitektur.

Waktu kelas tiga SMA, di sekolah saya ada pameran pendidikan, ada booth arsitektur. Saya mulai mencari tahu dan semakin tertarik masuk ke arsitektur. Setelah saya ambil jurusan ini dan mendalami bidang ini, seiring berjalannya waktu saya jadi suka sama bidang ini.

Arsitektur itu belajar tentang apa?

Teknisnya lebih mengarah ke mengintegrasikan desain ke fungsi. Jadi tidak sekadar membuat desain bentuk bundar atau kotak saja, melainkan juga harus ada alasannya kenapa dibuat seperti itu. Di arsitektur kita mesti berpikir kritis.

Kalau untuk hitungannya lebih ke arah fisika, seperti gaya dan momen. Misalnya juga dalam mendesain kita harus tahu berapa space yang tersedia untuk suatu ruangan. Tapi untuk menghitung ini tidak terlalu sulit, ada cara mudahnya

Sebagai hal yang baru kamu pelajari, apa tantangan dari studi bidang arsitektur ini? 

Pada awal belajar bidang ini aku agak kesusahan dalam beradaptasi. Di bidang ini, kita dituntut untuk berpikir kritis. Semenjak saya ikut lomba-lomba, semakin terbuka ide-ide dan mendapatkan inspirasi baru. Saya merasa mulai yakin ini passion saya saat saya ikut kompetisi di bidang ini.

Hal menarik apa yang kamu temukan saat mempelajari arsitektur? 

Arsitektur cukup luas ilmunya. Misalnya, kalau kita membuat rumah, kita harus tahu juga bagaimana orang di dalam rumahnya, suka ngapain. Atau, mungkin bangun hotel, kita harus tahu sistemnya hotel seperti apa. Jadi, banyak variasinya dan tidak membosankan.

 Banyak orang bilang, belajar arsitek harus jago gambar. Benar? 

Saya sendiri enggak terlalu jago gambar sebenarnya, tetapi memang arsitek dituntut untuk bisa menggambar cepat. Namun, selama gambar yang dibuat bisa dibaca dan dipahami oleh orang lain, ini sudah cukup.

Harus bisa menggambar dengan tangan atau digital? 

Di universitas saya, dari semester satu sampai empat diwajibkan pakai gambar tangan, lalu semester selanjutnya pakai gambar digital. Nah, di sini juga penting untuk ketelatenan dan teliti dalam menggambar karena ukuran-ukuran gambar yang dibuat harus sesuai. Gambar (dengan) tangan sih memang cukup lama, ya, tapi kalau gambar digital lebih cepat.

Apa rencana kamu ke depannya?

Untuk ke depannya saya masih ingin terus berada di bidang ini. Selain itu, karena saya masih magang dan masih berkuliah, saya akan fokus menyelesaikan magang dan kuliah saya. (M-2)

 

BoX

Tips belajar arsitektur:

1. Eksplorasi

Dapat mengeksplorasi dari sumber-sumber mana pun karena arsitek dituntut aktif eksplorasi agar mendapatkan ide dan mengetahui hal-hal detail.

2. Tekun

Sebaiknya kita mencicil juga setiap konsep desain bangunan yang sedang dikerjakan dengan tekun karena dalam prosesnya membutuhkan ketelitian dan ketekunan.

 

3. Berpikir kritis

Dalam membuat konsep desain bangunan harus disertai dengan alasan mengapa membuat bentuk bangunan tersebut.

 

 

 

BIODATA:

Nama Lengkap : Angel Gabriella Kusuma

Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 17 Mei 2000

Daftar Prestasi :

1. Juara 1 tingkat nasional dan wakil Indonesia di Asian Contest of Architectural Rookie's Awards (ACARA) 2021 tingkat internasional

2. Juara 3 SANxLkti 2020 (tim)

3. Juara 3 Architectural Design Week 2021 (tim)

4. Juara 3 Archiweek UMN 2021 (tim)

 

Riwayat pendidikan :

- SMA Kristen Petra 1 Surabaya, ‪2015-2018

- Universitas Kristen Petra Surabaya, 2018-sekarang

BERITA TERKAIT