03 December 2021, 11:14 WIB

Pemanfaatan Frekuensi Radio untuk Pantau Kesehatan Pasien Kanker


Eni Kartinah | Humaniora

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi telah menyentuh berbagai sektor kehidupan, tak kecuali bidang kesehatan. Salah satu terobosan yang sedang hangat digaungkan di dunia kesehatan adalah metode konsultasi online atau yang lebih familiar dikenal dengan 'telemedicine'.

Konsep pemberian layanan konsultasi secara online pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi dengan tenaga professional di bidang kesehatan.

Terlebih di tengah situasi pandemi yang membatasi kegiatan masyarakat, tentu cara ini menjadi pilihan yang sesuai.

Tim Pengabdian Masyarakat Sistem Pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Pasien Kanker Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia berkolaborasi dengan Rumah Sakit Paru (RSP) M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor mengembangkan sistem informasi “Radio Frequency Identification Device” berbasis mobile, yang disingkat dengan mRFID.

Pengembangan ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pemantauan kesehatan pasien sekaligus menghindari berbagai faktor risiko yang dapat mengancam keselamatan pasien kanker. 

Sesuai data WHO tahun 2018, kanker menjadi salah satu penyakit tidak menular yang memiliki tingkat kematian tinggi. Satu dari lima laki–laki dan satu dari enam orang perempuan di dunia mengalami kanker selama masa hidupnya, dan satu dari delapan orang laki–laki dan satu dari 11 perempuan meninggal karena penyakit kanker.

Di dunia, total angka penderita kanker yang hidup dengan kanker selama 5 tahun sejak didiagnosis kanker diperkirakan sebanyak 43,8 juta orang. 
 
Disosialisasikan secara luring dan daring pada Selasa (16/11), Ketua Tim mRFID dari FIK UI, Prof. Dr. Yati Afiyanti, S.Kp., M.N. menyampaikan apresiasi kepada RSPG Cisarua Bogor karena sangat antusias dalam penggunaan aplikasi untuk manajemen efek samping kemoterapi.

Hal serupa disampaikan pula oleh Direktur Medik RSPG Cisarua Bogor, dr. Alvin Kosasih, Sp.P, M.K.M, yang berharap pasien penyakit kronis seperti kanker dapat terbantu dengan adanya mRFID ini.

Di waktu yang sama bertempat di Ruang Diklat RSPG Cisarua Bogor, Kepala SDM RSPG Cisarua Bogor dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerjasama yang telah diberikan.

“Kami sangat mengapresiasi dan berharap adanya mRFID dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap RSPG," kata Rudiana Sukmara, SKM., M.KKK pada keterangan pers, Jumat (3/12).

"Selain itu, ke depannya kami berharap kerja sama akan terus dilakukan ke dalam skala yang lebih besar sehingga tidak hanya terbatas pada pasien kanker namun juga pasien lainnya baik rawat inap maupun rawat jalan,” jelas Rudiana.

Dalam penjelasan tentang Pemantauan Kesehatan dan Keselamatan Pasien Kanker berbasis Aplikasi mobile Radio Frequency Identification (mRFID) Ns. Ida Ayu Made Ari Santi Tisnasari, S.Kep mengatakan bahwa mRFID terdiri dari perangkat keras RFID berupa wrist band RFID dan aplikasi mobile RFID yang berbasis android.

Perihal cara penggunaan aplikasi dan piranti wrist band serta reader mRFID selanjutnya dibawakan oleh I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., MT dan Komang Yoga Kemarayana.

Rangkaian Sosialisasi mRFID ini dilanjutkan dengan pemasangan piranti keras di ruang rawat inap kanker Ruang Mawar RSPG Cisarua Bogor dan sosialisasi kepada pasien terkait tujuan dan manfaat penggunaan sistem informasi ini.

Pasien merasa sangat senang dapat ikut terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh Tim Pengabdian Masyarakat FIK-UI.

Berikut pengakuan dari salah satu pasien yang ikut dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini.

"Saya merasa alat ini memang diperlukan untuk pasien kanker terutama pada pasien yang menjalani kemoterapi untuk dapat mendeteksi secara langsung gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien-pasien melalui aplikasi dan selalu terhubung dengan perawat," kata seorang pasien yang tak sebutkan namanya.  

"Saya juga dapat dengan mudah berkonsultasi dengan perawat, mengenai kondisi terkini dan pasien tahu hal yang perlu dilakukan pada saat berada di kondisi yang darurat," katanya. (Nik/OL-09)
 

BERITA TERKAIT