03 December 2021, 06:00 WIB

Tumpuan Hidup di Kaki Palsu


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

TANGAN kekar bertato milik Indra Sumedi, 48, cekatan membuka laci meja pendek berwarna hitam yang ditempatkan di teras bengkelnya. Ia mengambil sebuah bor untuk membantunya merekatkan beberapa bahan untuk dijadikannya menjadi sebuah kaki palsu. Tangan itu juga mampu menjadi tumpuan saat badannya menaiki meja setinggi sekitar 30 cm yang dijadikannya sebagai bangku kerjanya.

Indra Sumadi memang mengandalkan tangannya untuk beraktivitas sehari-hari lantaran ia telah kehilangan kedua kakinya sejak tahun 1998. Kakinya kini hanya sebatas paha setelah dilakukan amputasi seusai peristiwa tak terlupakan.

"Dulu dunia saya di jalanan, terminal. Saya bertikai dan memutuskan pergi dari Bandung. Namun, setelah beberapa waktu kembali ke Garut rupanya dikeroyok oleh 6 orang," kata Indra kepada Media Indonesia, di bengkel kaki palsu miliknya di Kiara Condong, Bandung, Jumat (19/11).

Indra menceritakan, karena tak sanggup melawan, ia memilih melarikan diri. Ia pun sempat dikejar musuhnya hingga berada di dekat rel kereta api. Saat itu, ia tak tahu persis apakah memang dia yang berlari menghindari musuh hingga tertabrak kereta atau dia dipukuli lalu dilempar ke rel saat keretanya melaju. Akibat kejadian itu, kedua kakinya harus diamputasi.

Kejadian tersebut membuatnya frustrasi. Indra kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan. Indra harus dirawat selama dua minggu di rumah sakit dan tidak ada keluarganya yang menengok.

Indra mengakui ia sudah lama tidak pulang ke rumah karena Indra mengatakan bahwa ia memang sudah lama tak pulang ke rumah lantaran saat itu ia terlalu asyik dengan kehidupannya yang bebas di jalanan.

Kesedihan atas kehilangan kaki membuatnya terpuruk hingga melakukan tiga kali percobaan bunuh diri. Pertama, ia melakukannya dengan meminum cairan pembunuh serangga yang membuatnya keracunan dan tak sadarkan diri. Kedua, ia menggunakan tiner atau cairan pengencer cat.

"Saat itu ada tetangga yang bangun rumah, disitu ada tiner. Enggak tahu tiba-tiba keinginan bunuh diri itu muncul lagi hingga saya ambil tiner dan coba minum," kata Indra.

Usahanya itu juga gagal setelah beberapa warga mencoba menyelamatkannya walau saat itu ia sudah muntah darah. Sebulan berlalu, keinginannya bunuh diri kembali menghampiri, kali ini ia mencoba meloncat dari lantai 2.

Sadar akan usahanya yang terus gagal dan juga nasihat ibunya yang mengingatkan surga dan neraka, Indra yang saat itu masih berusia 24 tahun akhirnya memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan. Ia tertatih-tatih berjuang setelah bangkit beberapa tahun setelah kecelakaan itu. Ia melakoni harinya mulai dari jualan baju, buat aksesori, buka rental PS, jual sandal, hingga sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Yaysan Kreatifitas Difabel Mandiri (YKDM).

Awalnya yayasan ini masih berbentuk perkumpulan dengan nama Kelompok Usaha Bersama (KUD) yang kemudian berganti nama dengan Kreativitas Difabel (KKD) sejak 2011 yang bertepatan dengan dimulainya usaha bengkel kaki palsu. Bersyukur setahun belakangan ini berganti menjadi badan hukum yang sah.

Kini anggota YKDM berjumlah 7 orang dari mulanya 12 orang. Jumlah ini menurun disebabkan 5 orang di antaranya telah ditarik oleh mitra YKDM, yakni National Paralympic Comite (NPC) untuk ikut menjadi atlet.

"Kami tak memaksakan anggota untuk tetap di YKDM. Mereka pun berhak mencari kegiatan dan pekerjaan lain," kata Indra.

Indra merangkul beberapa orang disabilitas untuk bergabung dalam YKDM. Ia berharap bengkelnya ini pun dapat menjadi tempat singgah, ajang berkumpul, dan sharing. Kini meski sudah 12 tahun beroperasi, YKDM masih mengontrak rumah yang kemudian dijadikan tempat tinggal untuk beberapa perajin.

 

Bengkel kaki palsu 

Indra mengatakan, inisiasi pembentukan bengkel kaki palsu ini diawali dengan pertemuannya bersama Anwar Permana yang juga disabilitas tunadaksa yang tak memiliki jari tangan. Kisah hidup Anwar yang mampu membuat alat bantu untuk tangannya itu memotivasi Indra untuk juga membuat kaki palsu untuk dirinya sendiri.

Di tahun 2009 itu, proses trial and error pun dilakukan mereka untuk membuat kaki palsu yang nyaman. Dengan alat pinjaman tetangga, beragam bahan, ukuran dan bentuk terus mereka coba hingga menemukan formula yang tepat.

Untuk beberapa kaki palsu ia menggunakan resin, fiber, katalis, spon, besi, hingga plastik dari tong air yang mudah melebur. Semua pekerjaannya ini dilakukan secara manual, yang membutuhkan setidaknya waktu 10 hari untuk satu kaki palsu yang dipesan secara custom atau sesuai keinginan dan kebutuhan penggunanya.

Tarif untuk pembuatan satu kaki palsu pun beragam, mulai harga terendah dengan dibanderol Rp1 juta hingga Rp6 juta untuk bahan lokal yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kebutuhan calon pembelinya. Ia juga melayani jasa impor kaki palsu. Untuk yang satu ini, harga dipatok berkisar Rp10 juta hingga Rp12 juta dengan bahan baku dari Tiongkok, Swedia, atau Jerman.

Untuk lebih dekat dan mudah didapatkan pengguna, Indra kini melebarkan sayapnya dengan menyediakan kontributor atau semacam unit cabang di ebeberapa wilayah Indonesia, mulai Aceh, Palembang, Medan, hingga beberapa wilayah lainnya. "Para kontributor ini awalnya pengguna produk YKDM hingga akhirnya berkeinginan menjadi kontributor. Ini usaha kita agar memudahkan konsumen memesan kaki palsu," ungkapnya.

Tugas kontributor sebenarnya hanya membantu promosi, pemesanan, dan pengukuran kaki yang memang harus dilakukan mengingat kaki palsu dibuat sesuai kebutuhan, sedangkan produksinya tetap di Bandung.

Tak terpaku di kaki palsu, Indra pun terus mengembangkan keterampilannya dengan membuatkan tangan palsu hingga kursi roda tiga.

"Mengenai kualitas, produk kita sama dengan rumah sakit. Bahkan beberapa rumah sakit telah merekomendasikan produk kami ke pasiennya," ungkapnya.

 

Subsidi silang

Kendati ingin meraup untung, Indra justru memiliki prinsip tak melulu mengejar materi semata dari usahanya ini. Baginya, kepuasaan dalam membantu sesama tentu sudah sangat terbayarkan, terlebih lagi jika memang hasil tangannya ini dapat digunakan untuk dapat pekerjaan yang lebih baik.

Hal ini terbukti dari program sosial yang telah dilakukannya sejak lama, yakni memberlakukan subsidi silang. Setiap 3 sampai 4 kaki palsu yang terjual, ia akan membagikan 1 kaki palsu gratis untuk orang yang berhak.

"Tentu kami akan memilih orangnya, kami akan survei dulu mengenai kondisi calon penerima apakah memang benar tak mampu dan akan digunakan atau tidak," kata Indra.

Syarat lainnya, calon penerima harus menyertakan foto seluruh badan, SKTM, salinan KTP, dan kartu keluarga.

Pemberlakuan subsidi ilang ini menurut Indra dilakukan lantaran pelanggannya rata-rata dari kalangan menengah ke bawah sehingga perlu dibantu. "Kami bukan memikirkan keuntungan. Saya merasakan sendiri dulu pengen punya kaki, tetapi susah karena enggak ada biaya," ucapnya.

Namun, tantangannya bagi YKDM sampai saat ini belum ada donatur tetap yang bersedia membantu perihal dana sehingga setiap tahunnya Indra dan rekan-rekannya harus mengurusi pengajuan proposal ke beberapa perusahaan. (N-1)

BERITA TERKAIT