02 December 2021, 19:57 WIB

Badan POM Terus Menggali Produk Herbal Asli Indonesia


M. Iqbal Al Machmudi |

KEPALA Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan banyak sekali wilayah-wilayah di Indonesia memiliki potensi obat herbal atau jamu.

Namun tentunya untuk meningkatkan nilai tambahnya tersebut Badan POM bisa berperan untuk membantu dengan memberikan berbagai pendampingan fasilitasi hingga dikeluarkannya izin edar.

Baca juga: Ancaman Siklon Tropis Teratai, Wagub DKI Imbau Warga Hindari Lokasi Rawan

"Dibutuhkan pertama adalah data empirisnya informasi dan data yang terdokumentasikan. Sehingga ini perlu sama-sama digali dari setiap wilayah potensi tersebut," kata Penny dalam Sarasehan Jamu Nusantara: Jejak Empiris dengan Dukungan Iptek Menuju Kemandirian Produk Herbal Nasional dari Badan POM, Selasa (2/12).

Badan POM di seluruh wilayah Indonesia juga membantu dari masing-masing wilayah terkait penggalian kemudian bermitra dengan instansi-instansi setempat yang berwenang untuk menggali lebih jauh lagi, mendokumentasikan kemudian juga melakukan penelitian.

Karena berdasarkan perkembangan teknologi perkembangan ilmu pengetahuan bisa meningkatkan kearifan lokal tersebut menjadi beberapa tahapan seperti jamu.

Kemudian apabila ada data yang cukup dari empiris bisa meningkat kemudian dengan penelitian dan uji praklinik biar bisa pelangkah menjadi produk obat herbal terstandar tentu aspek dan kualitasnya lebih tinggi lagi.

"Kemudian lebih jauh lagi bisa melakukan pra klinik dengan manusia yang nanti bisa menjadi produk yang namanya fitofarmaka. Jadi ada tahapan-tahapan yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan manfaat dan juga potensinya sebagai satu produk ekonomi," ujar Penny.

Diketahui wilayah Jawa, Papua, Sulawesi, Maluku dan Kalimantan juga ada dan ramuan-ramuan tanaman khas seperti kayu bajakah, minyak kayu putih, coconut oil.

"Jadi ini intinya adalah bukan hanya herbal tapi juga produk-produk nasional produk-produk natural yang berpotensi untuk bisa kita masak berikan nilai tambah dan bermanfaat lebih tinggi lagi," ungkapnya.

Sejarah Jamu

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan meminum jamu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia karena kandungan herbal alami yang mampu digunakan melawan penyakit atau menambah daya tahan tubuh. Jamu sendiri dikonsumsi di Indonesia bahkan sudah sejak lama dari nenek moyang prasejarah masih dikonsumsi sampai dengan saat ini.

Orang-orang telah menggunakan jamu sejak dulu sebagaimana dapat dilihat pada relief yang ada di Candi Borobudur yang berisi gambar orang sedang menghancurkan dan meramu bahan-bahan untuk pembuatan jamu.

"Selain itu ada juga sumber berbentuk tulisan serat primbon jampi Jawi jilid 1 dan serat primbon racikan Jambi Jawi jilid 2," kata Kadarmanta.

Pada zaman kolonial orang-orang Belanda juga gemar meminum jamu ilmuwan Jacobus Bontius menggunakan jamu untuk mengobati Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen karena khasiat dan kandungan di dalam jamu.

"Maka pernah melakukan penelitian mengenai jamu oleh botanis Belanda yang bernama Rumphius yang dipublikasikan di buku Ambonese Herbal pada 1775," ujarnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT