30 November 2021, 15:04 WIB

Varian Omicron Berpotensi Hambat Pengembangan Vaksin Merah-Putih


Faustinus Nua | Humaniora

KASUS covid-19 varian Omicron sudah terdeteksi di beberapa negara. Sejak ditemukan pertama kali di Afrika Selatan, varian yang disebut lebih menular dari pada varian lain ini mulai mendapat perhatian banyak pihak. Bahkan beberapa negara kembali memperketat aturan perbatasannya.

Omicron tidak hanya bisa menular dengan cepat, varian ini dikhawatirkan akan mempengaruhi efikasi vaksin, baik vaksin yang sudah beredar maupun yang tengah dikembangkan seperti Vaksin Merah-Putih (VMP) berpotensi akan terganggu.

Baca juga: Menkes: Jaringan Laboratorium Mampu Deteksi Varian Baru Covid-19 Lebih Cepat

"Proses mutasi ini menjadi perhatian para periset VMP karena dari studi saat ini Omicron banyak memicu mutasi di Spike S, sehingga semua vaksin yang berbasis protein Spike S (Pfizer, AZ, Moderna) berpotensi terganggu," ujar Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko kepada Media Indonesia, Selasa (30/11).

Dia mengatakan bahwa pihaknya masih terus memantau perkembangan mutasi virus tersebut. Sebab, dibutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan dampak Omicron terhadap vaksin yang beredar. Lantas, belum ada perubahan desain vaksin dari 7 institusi yang mengembangkan vaksin tersebut.

"Kita masih jalan terus untuk optimasi agar level produksi bibit di level lab bisa maksimal karakter mutasi ini masih terus kita pantau. Sejauh ini belum ada perubahan desain vaksin kita," imbuhnya.

"Kita masih optimasi produksi terbatas di lab, supaya mendapat formula yang pas sebelum produksi terbatas untuk uji selanjutnya," tambah Handoko.

Hingga saat ini vaksin Tim Universitas Airlangga (Unair) dan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman merupakan institusi pengembang VMP terdepan. Vaksin buatan Unair tengah memasuki tahap uji klinis dan vaksin Eijkman tengah melakukan uji hewan di laboratorium. (OL-6)

BERITA TERKAIT