26 November 2021, 21:48 WIB

Presiden Terus Dorong Akses Vaksin yang Merata 


Andhika Prasetyo |

PRESIDEN Joko Widodo terus menyuarakan pentingnya akses terhadap vaksin covid-19 yang merata bagi seluruh negara di dunia. 

Kepala negara sangat prihatin dengan situasi saat ini ketika negara-negara miskin baru melaksanakan vaksinasi terhadap 6,48% penduduk mereka. Sementara, di sisi lain, 64,9% populasi di negara-negara kaya sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin. 

"Jika keadaan seperti ini terus berlangsung, 80 negara tidak akan mencapai target vaksinasi yang ditetapkan WHO yakni minimal 40% populasi di akhir 2021," ujar Jokowi dalam Konferensi Tinggi Tinggi (KTT) Asia-Europe Meeting (ASEM) ke-13 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jumat (26/11). 

Jokowi pun mengajak negara-negara maju melakukan perubahan dengan memberikan lebih banyak vaksin covid-19 kepada negara-negara rentan. 

Karena, pada kenyataannya, ada lebih dari 100 juta dosis di negara-negara G7 yang tidak terpakai dan kadaluwarsa. 

"Saya mengajak kita semua mengubah situasi ini. Target vaksinasi WHO harus dicapai semua negara. Untuk itu, 'dose-sharing' harus digalakkan, produksi vaksin dinaikkan, dan kapasitas penyerapan negara penerima vaksin ditingkatkan," tegasnya. 

Adapun, dalam jangka panjang Jokowi mengajak para pemimpin ASEM untuk terus memperkuat tata kelola dan arsitektur kesehatan global. Hal tersebut juga akan menjadi salah satu agenda utama yang disuarakan Indonesia dalam Presidensi G-20 mendatang. 

Baca juga : Legislator NasDem Dukung Penerapan PPKM Level III Saat Nataru

"Dalam kaitan ini, WHO harus diperkuat. Traktat pandemi harus didukung oleh semua negara dan mekanisme pendanaan kesehatan untuk negara berkembang perlu dibangun," ucap mantan wali kota Solo itu. 

Terkait percepatan pemulihan ekonomi, presiden menyampaikan dua hal utama yang memerlukan kerja sama erat para pemimpin ASEM, yaitu transisi energi dan transisi digital. 

Transisi menuju energi baru terbarukan, sambungnya, harus terus didorong dan diletakkan juga dalam konteks pencapaian SDGs. 

"Investasi dan alih teknologi adalah kata kunci," tuturnya. 

Selain itu, inklusivitas juga dinilai sangat penting agar kesenjangan kesejahteraan tidak makin melebar dan tidak ada yang tertinggal. 

"Inklusivitas dapat dicapai jika akses digital ditingkatkan. Digital ekonomi adalah masa depan ekonomi kita. Mari kita menjalin kerja sama agar kita dapat pulih bersama dan pulih lebih kuat," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT