26 November 2021, 08:30 WIB

La Nina Dapat Sebabkan Hujan Ekstrem di Atas 100 mm/Hari


Agus Utantoro | Humaniora

PAKAR Iklim Universitas Gadjah Mada Emilya Nurjani mengingatkan La Nina membawa hujan yang cukup tinggi, bahkan di beberapa tempat menghasilkan hujan ekstrem di atas 100 milimeter/hari. Hal itu dapat menimbulkan beberapa bencana banjir dan longsor yang biasa disebut sebagai bencana Hidrometeorologis.

Dikatakannya, La Nina merupakan fenomena iklim dengan siklus tahunan per 2, 3, 5, dan 7 tahunan sekali. 

Menurut dia bukan hanya La Nina saja, bila ada  siklon, maka potensi curah hujan yang turun di wilayah Indonesia akan tinggi dan berisiko menciptakan bencana. 

"Siklon juga menambah bencana gelombang tinggi di pesisir dan gelombang badai," ujarnya, Kamis (25/11).

Baca juga: Hujan Deras Dan Angin Kencang Landa Pantura Gresik dan Lamonngan

Ia memperkirakan hampir semua wilayah Indonesia akan terkena dampak La Nina namun dengan tingkat risiko yang tidak sama. 

Bila terjadi siklon, La Nina mempunyai potensi dampak hingga wilayah 500 kilometer dari pusat siklon dan karena sikon terbentuk di lautan, dampak langsung memang bagi wilayah pesisir. 

"Wilayah lain yang masih terpengaruh oleh jarak dari  pusat siklon juga akan terpengaruh," katanya.

Untuk wilayah-wilayah yang rawan memiliki potensi banjir dan longsor ujarnya, seharusnya sudah melakukan mitigasi saat BMKG mulai mengeluarkan prediksi. 

Setiap ada curah hujan lebat, penduduk sudah  harus melakukan evakuasi ke tempat yang aman yang sudah disediakan oleh pemerintah setempat. 

"Perlu ada ronda malam untuk antisipasi banjir dan longsor, sehingga cepat diketahui. Tetapi kalau di wilayah tersebut sudah ada alat alarm bencana longsor, maka diikuti saja bunyi sirine bencananya," katanya.

Menanggapi kebijakan pemerintah melalui Kementerian PUPR yang akan mengosongkan ratusan waduk dan bendungan untuk menampung hujan yang datang saat La Nina dengan cara mengurangi volume air, menurut dia hal itu tidak efektif sebab kondisi banyak waduk dan bendungan di Indonesia sekarang ini posisi ketinggian air sudah di titik terendah kecuali waduk-waduk besar. 

"Apalagi yang mau dibuang? Kalau prinsip saya, volume waduk tidak dibuang semua, tetapi dikurangi per kejadian hujan. Jadi dihitung volume angka aman yang harus dipertahankan. Begitu hujan tinggi, maka pintu waduk dibuka dan volume dikurangi sedikit demi sedikit menyesuaikan hujan yang masuk," pungkasnya. (OL-1)
 

BERITA TERKAIT