23 November 2021, 23:25 WIB

Indonesia-Australia Kerja Sama Gelar Pelatihan untuk Peningkatan SDM Museum 


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PEMERINTAH Indonesia menjalin kerja sama dengan Pemerintah Australia untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia khususnya di bidang permuseuman. Kerjasama ini bernama Australia-Indonesia Museum (AIM) Project. 

Salah satu wujud kerja sama itu ialah pelatihan kuratorial yang didalamnya termasuk Pelatihan Interpretasi dan Pengembangan Pameran Museum yang juga merupakan rangkaian acara dari Australia Museum Project kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Republik Indonesia dengan Australia-Indonesia Institute, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia. 

AIM Project diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan bersama dengan Deakin University melalui Cultural Heritage Asia-Pacific Group. Pelatihan ini juga berkolaborasi dengan Museum Nasional Indonesia, Western Australian Museum (WAM), dan Southeast Asia Museum Services (SEAMS), dan beberapa museum di Indonesia seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Benteng Vrederburg, Museum Dr. Yap, Museum Radyapustaka, Museum Kota Makassar, Museum La Galigo, Museum Sri Baduga, dan Museum Kota Aceh. 

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbudristek  Judi Wahjudin menjelaskan, AIM project bertujuan untuk mengumpulkan para kurator di Indonesia dan Australia untuk membangun suatu pendekatan kolaboratif di bidang penelitian dan interpretasi koleksi museum. Melalui kurasi bersama dari pameran daring, bertujuan untuk mencari narasi baru mengenai hubungan antara kedua negara.  

Dengan diadakannya pelatihan ini diharapkan para kurator bisa menjadi motor penggerak dari museum agar museum bisa menjadi jendela informasi kepada kebudayaan Indonesia," ujarnya. 

Judi memaparkan, kegiatan itu diharapkan akan menghasilkan prototipe untuk memahami signifikansi silang budaya dari objel dan metode untuk interpretasi dan penyajian, di dalam bentuk pameran digital daring. Hasil ini dapat dicapai melalui pelatihan dan mentoring secara berkala, dan akan menghasilkan pameran yang menyajikan objek hasil dari praktik baik dari pelatihan kolaboratif ini. 

Pada Agustus lalu para peserta sudah mengikuti sesi pelatihan pertama secara daring yang fokus pada pelatihan Signifikansi. Peserta AIM Project telah menerapkan pendekatan signifikansi terhadap lima objek koleksi Museum Nasional Indonesia dan Museum Australia Barat (WAM) Sebagai lanjutan dari pelatihan signifikansi, pelatihan pada saat ini akan fokus pada pelatihan Interpretasi dan pengembangan pameran museum. 

"Pelatihan Interpretasi dan Pengembangan Pameran Museum' akan dikembangkan dari pelatihan Siginifikansi dan akan fokus pada mengembangkan interpretasi objek museum dam perencanaan pameran. Sebagai bagian dari pelatihan, peserta akan mengembangkan rencana interpretasi objek berdasarkan hasil penilaian signifikansi yang telah diselesaikan pada Pelatihan Signifikansi 

Baca juga : Pemelajar BIPA Korea Selatan Semangat Ikuti Lomba Pidato, Jurnalisme, dan Vlog Bahasa Indonesia 

Pada pelatihan ini para peserta juga akan melakukan kunjungan terhadap dua museum yaitu Museum Nasional dan Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara_ untuk melihat proses interpretasi koleksi yang dilakukan oleh kedua museum tersebut. 

Pelatihan itu memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menanamkan pengetahuan yang diperoleh pada pelatihan signifikansi dan mendapatkan umpan balik tentang pendekatan tersebut. Kedua, meningkatkan keterampilan/kapasitas peserta untuk mengembangkan interpretasi museum (label objek, panel tema, desain/media interaktif lainnya). Terakhir, meningkatkan keterampilan/kapasitas peserta untuk mengembangkan pameran (termasuk pameran daring). 

Kedua sesi pelatihan ini kemudian akan dilanjutkan dengan penyusunan konten pameran daring. Penyusunan konten tersebut akan dilakukan sampai dengan April 2022, dan pameran daring akan diluncurkan pada bulai Mei 2022 

Pelatihan kuratorial itu dihadiri oleh 22 peserta dari berbagai museum di Indonesia. Peserta ini merupakan hasil seleksi dan merupakan yang terbaik di bidang kuratorial. 

"Diharapkan semua peserta akan mendapat pengetahuan yang baik dan dapat memberikan kontribusinya kepada museum di Indonesia," ujar Judi. 

Para pelatih akan berasal dari Deakin University, Western Australian Museum dan Southeast Asia Museum Services, serta narasumber dari Museum MACAN, Museum Nasional Indonesia, dan Universitas Indonesia. Selain itu juga, project ini dapat meningkatkan kerjasama kebudayaan antara Indonesia dan Australia terutama di bidang permuseuman. 

Selain pelatihan kuratorial nasional ini, AIM project juga sudah mengadakan pelatihan regional di beberapa museum di Indonesia. Pelatihan regional ini dilakukan secara daring yaitu dengan Museum Sejarah Jakarta, Museum Benteng Vrederburg dan Museum Dr. Yap, Museum Radya Pustaka, Museum La Galigo dan Museum Kota Makassar, Museum Sri Baduga Bandung, dan Museum Aceh. 

Pelatihan regional bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kurator museum di wilayah setempat terutama pengetahuan tentang penilaian signifikansi koleksi museum. Pendekatan yang dipakai adalah Significance 2.0 (oleh Roslyn Russell and Kylie Winkworth), yang merupakan metode penilaian signifikansi yang awalnya dikembangkan di Australia dan kini telah dipakai di beberapa negara lainnya, termasuk di Asia. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT