23 November 2021, 05:45 WIB

Ingin Berkarier di Perusahaan Teknologi? Ini Tipsnya


Basuki Eka Purnama | Humaniora

UNIVERSITY of Warwick bekerja sama dengan IBEC (Indonesia-Britain Education Centre) memberikan sejumlah tips bagi anak muda Indonesia yang ingin berkarier di perusahaan teknologi besar seperti Facebook, Google, Microsoft, Paypal, Alibaba, ByteDance, sampai Ant Financial.

Tips tersebut diberikan oleh profesional di bidangnya dan lulusan University of Warwick yaitu Johan Antlov (Chief Growth Officer Happy Fresh), Ricci Wijaya (HR Business Partner ByteDance), dan Tiffany Irianto (Product Marketing Manager Gojek) dalam sebuah webinar bertema Big Tech Career, beberapa waktu lalu.

Chief Growth Officer Happy Fresh Johan Antlov mengatakan siapapun yang ingin berkarier di big tech company harus mempersiapkan berbagai hal, salah satunya adalah kualifikasi pendidikan.

Baca juga: Raih Cita-Cita dengan Tanamkan Motivasi Kuat dan Didukung Passion

"Kualifikasi pendidikan akan membantu kita untuk mengasah bagaimana berpikir kritis. Jadi, pengalaman penting yang saya dapat dari pendidikan di universitas adalah bisa belajar tentang hal itu," ujarnya.

Sedangkan Tiffany Irianto, yang saat ini bekerja sebagai Product Marketing Manager Gojek, menjelaskan kalau hal yang harus dimiliki para anak muda adalah skill dan hard skill atau kemampuantambahan yang dapat menjadi nilai tambah.

"Dalam hal ini, biasanya untuk skill, saya akan melihatnya lebih dari sekedar kualifikasi. Kualifikasi memang penting, tapi kita juga akan melihat bagaimana cara mereka berpikir, hingga bagaimana cara logika mereka bekerja," katanya.

Dia acap memberi studi kasus atau terkadang pop kuis secara asal ketika melakukan wawancara. Keahlian tambahan ini memang bukan hal yang wajib, tapi sangat penting. Karena akan ada banyak kejadian dimana mereka diharuskan mempunyai kemampuan tambahan.

Senada dengan yang Tiffany sampaikan, Ricci menambahkan kalau pada dasarnya perusahaan juga membutuhkan pribadi yang sesuai dengan nilai yang dimiliki perusahaan itu sendiri.

"Satu dari empat interview itu mungkin bagian HR dan kita akan melihat lifestyle dan bagaimana mereka berperan dengan baik pada role yang dilamar," kata dia.

"Beberapa role itu kamu harus mempunyai latar teknik, contohnya kemampuan menganalisa data. Tapi, ada beberapa juga yang sangat umum. Makanya kita punya empat kali wawancara, agar kita bisa ngobrol dan memutuskan siapa kandidat terbaik," kata Ricci.

Saat ini bisa dibilang banyak anak muda yang ingin bekerja di perusahaan teknologi besar.  Tiffany pun memberikan tips dan saran agar para pelamar bisa lebih dulu bertanya pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya mereka mau.

"Cari tahu dulu nantinya kita mau bekerja di bidang apa dan pekerjaannya mau seperti apa. Cobalah untuk mengerti di bidang tersebut dan diri kalian sendiri. Ada baiknya untuk ngobrol dengan teman-teman agar bisa mendapatkan banyak sumber dan inspirasi. Ini sangat penting, karena takutnya nanti kamu melakukan hal yang bahkan tidak ingin kamu lakukan," paparnya.

Namun, Johan memiliki saran lain. Dia justru memacu semangat para calon pekerja agar nantinya bisa berbisnis sendiri.

"Nantinya dari pengalaman ini kamu bisa memulai bisnis sendiri. Jika kamu ingin memulai bisnis kamu sendiri tanpa mengeluarkan banyak uang, saya rasa kamu juga harus terjun ke industrinya. Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak orang yang tertarik menjadi entrepreneur, jadi kamu harus mengambil kesempatan itu," saran Johan.

Sektor big tech akan meningkat tajam dan jadi industri yang sangat penting, terutama untuk generasi muda. 

Pada 2020, di Indonesia, ekonomi digital bernilai US$44 miliar dan akan meningkat menjadi US$124 miliar pada 2025. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT