20 November 2021, 14:50 WIB

Vaksinasi Anti-Rabies Penting Bagi Pemilik Hewan Kesayangan


Eni Kartinah |

PERHIMPUNAN Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat V didukung oleh Sanofi Pasteur Indonesia mengadakan webinar nasional yang membahas mengenai penatalaksanaan rabies pada hewan dan manusia serta pentingnya melakukan vaksinasi rabies bagi para pemilik hewan agar terlindungi dari risiko terinfeksi virus rabies.

Rabies di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena hampir selalu menyebabkan kematian (almost always fatal) setelah timbul gejala klinis dengan tingkat kematian sampai 100%.

Bahkan, berdasarkan data tahun 2020, ada 26 dari 34 provinsi di Indonesia yang belum bebas dari rabies, dengan jumlah kematian per tahun lebih dari 100 orang. Padahal, rabies adalah penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin anti rabies (VAR).

Tim One Health Zoonosis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Asep Purnama, MD, Internist, FINASIM,  mengatakan,“Seperti yang diketahui, rabies adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia."

Infeksi rabies pada manusia biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan binatang seperti anjing, kera, serigala, kelelawar melalui gigitan atau kontak virus lewat air liur dengan luka.

"Virus tersebut masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat yang biasanya pada sumsum tulang belakang, dan selanjutnya menyerang otak,” jelas dr.Asep.

Berdasarkan data, anjing adalah sumber utama kematian manusia akibat rabies, yang menyumbang hingga 99% dari semua penularan rabies kepada manusia.

Adapun kelompok orang yang mempunyai risiko tinggi tertular rabies antara lain pemilik hewan kesayangan, dokter hewan, perawat hewan, peneliti virus rabies, petualang alam liar, pekerja lapangan yang dapat digigit binatang buas terinfeksi, orang yang sering berkunjung ke daerah rawan rabies dan petugas kesehatan yang merawat pasien rabies.

Pada kelompok ini sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi Pre-Exposure Prophylaxis sebagai perlindungan sebelum terjadi kontak.

Vaksinasi pre-exposure akan sangat bermanfaat disamping memberikan perlindungan juga mempermudah penanganan jika dikemudian hari terjadi kontak. Seseorang yang sudah pernah menerima vaksinasi Pre-Exposure tidak membutukan serum jika terjadi gigitan.

Prof. Dr. dr. Samsuridjal Dzauji, SpPD-KAI, FACP, Guru Besar FK Universitas Indonesia menjelaskan dalam webinar bahwa hingga saat ini belum ada obat yang ditemukan untuk menangani rabies, namun rabies dapat dicegah melalui vaksinasi di puskesmas atau rumah sakit.

"Oleh karena itu, untuk mencegah semakin banyaknya kasus rabies di Indonesia perlu dilakukan strategi pencegahan yang di mana salah satu cara utamanya adalah dengan melakukan vaksinasi rabies sesegera mungkin," jelasnya.

Sebab, dengan menyuntikkan vaksin anti rabies (VAR) ke dalam tubuh hewan dan manusia, maka tubuh akan membentuk sistem kekebalan untuk menangkal virus rabies.

"Cara kerja VAR adalah dengan merangsang sistem daya tahan tubuh untuk membentuk imunitas terhadap virus rabies. Pembentukan antibodi tersebut memerlukan waktu. Namun, jika antibodi sudah terbentuk, dapat bertahan lama, yaitu sekitar satu tahun,” papar Prof.Samsuridjal.

Rabies termasuk dalam roadmap terbaru WHO 2021-2030. Sebagai penyakit zoonosis, diperlukan koordinasi lintas sektoral yang erat di tingkat nasional, regional, dan global.

Pada tahun 2019 ,Gavi memasukkan vaksin rabies untuk manusia dalam strategi investasi vaksin pada 2021-2025 yang akan mendukung peningkatan PEP (post exposure prophylaxis) atau pengobatan segera pada korban gigitan setelah terpapar rabies di negara-negara yang memenuhi syarat GAVI (Global Alliance for Vaccine and Immunization). (Nik/OL-09)

BERITA TERKAIT