18 November 2021, 06:00 WIB

Renjana Senada Aksi


Nike Amalia Sari |

LANTARAN pengaruh dari orangtuanya, Andrew Ananda Brule sedari kecil memiliki ketertarikan dengan kegiatan perlindungan satwa liar. Ayahnya, Aurelien Francis Brule, atau akrab dikenal dengan Chanee Kalaweit, ialah pendiri dan pengelola Yayasan Kalaweit yang menjadi organisasi rehabilitasi owa terbesar di dunia.

Andrew yang bersama keluarganya tinggal di hutan Borneo sejak tiga tahun belakangan memang kerap diajak sang ayah untuk ikut dalam aksi penyelamatan dan pelepasliaran satwa liar ke habitat asli mereka.

Beberapa tahun terakhir, ia juga kerap mengunggah video aktivitasnya tersebut di kanal Youtube. Harapannya, video-video yang ia bagikan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat awam. Namun, bukan itu saja.

Pemuda berusia 17 tahun itu memang menyimpan hasrat untuk menjadi seorang sutradara film dokumenter suatu saat nanti.

Yuk, simak lebih jauh soal upaya Andrew melindungi satwa dan impiannya yang sejurus dengan aksi mulia yang ia lakukan sata ini lewat obrolan Muda bersamanya, via platform daring, Senin (8/11).

 

Halo Andrew, apa kesibukan kamu saat ini?

Saat ini saya masih tinggal di hutan bersama keluarga dan juga membuat konten-konten untuk akun Youtube saya. Saat ini memang konten di Youtube saya agak kosong karena saya mau menumpukkan video untuk nantinya di-posting di Youtube.

Di (yayasan) Kalaweit juga saya aktif sebagai pilot patroli udara. Jadi, setiap sore, apabila cuacanya mendukung dan cerah, biasanya saya berangkat patroli bersama tim.

 

Pada usia yang masih muda, kamu melakukan kegiatan yang bermanfaat dengan melindungi hutan dan satwa liar, apa alasannya?

Semuanya bermula tentu saja dari ayah saya sebagai pendiri dan pengelola Yayasan Kalaweit. Saya lahir di lingkungan ini. Maka dari itu, saya ikut mengambil bagian dalam dunia konservasi ini.

Sejak kecil, sekitar usia 5 tahun, saya sudah dikenalkan dengan dunia konservasi. Saya ikut berangkat untuk rescue satwa.

 

Wah, enggak takut? 

Waktu kecil, pas diajakin ayah untuk rescue satwa seperti rescue dan pelepasan buaya dan lain-lain, pasti ada rasa takut, tapi rasa tertariknya lebih tinggi.

 

Apa ada hal menarik yang kamu alami saat pertama kali melakukan penyelamatan hewan?

Saya ingat saat usia 5 atau 6 tahun, itu pertama kali diajak untuk melihat orang utan liar di alam. Lalu, saat saya kelas 6 SD, ayah saat itu tidak sedang di Palangkaraya, kami mendapat telepon untuk menyelamatkan monyet ekor panjang yang masuk ke rumah orang. Lalu, saya ditemani ibu saya datang ke situ, saya menangkap monyetnya untuk dibawa ke rescue center di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 

Sudah berapa banyak satwa liar yang kalian berhasil dilepasliarkan?

Yang kami sudah selamatkan di Kalaweit sekarang sekitar 380 owa, yang saat ini masih berada di pusat rehabilitasi dan beberapanya sudah ada yang dilepasliarkan.Namun, sayangnya sekitar 80% yang ada di pusat rehabilitasi saat ini sangat susah untuk dilepas karena banyak faktor, misalnya sudah terlalu lama dipelihara oleh masyarakat sehingga menyebabkanmereka terlalu jinak.

Salah satu yang paling besar juga ialah tempat pelepasan satwa liar. Owa perlu tempat (hutan) bagus yang tidak ada owa lain di dalamnya karena owa di alam apabila bertemu akan saling membunuh. Jadi, sebagian besar masih berada di pusat rehabilitasi di Kalimantan Tengah dan Sumatra Barat.

 

Apakah seluruh satwa liar akan dilindungi atau owa saja?

Prinsip kita, semua binatang apa pun akan dilindungi, apakah dilindungi menurut undang-undang atau tidak, tetapi di sini kita tetap lindungi, termasuk monyet ekor panjang yang dipelihara oleh manusia. Menurut kami, semua hewan seharusnya dibiarkan hidup bebas di alam.

Untuk saat ini, di Kalaweit, kami memang fokusnya di primata yaitu owa, tapi tidak menutup juga kami terima satwa lain yang perlu pertolongan. Contohnya, sekarang di sini ada beruang, buaya, berang-berang, kera, monyet ekor panjang, dan lainnya.

 

Terkait eksploitasi monyet seperti dijadikan pemetik buah kelapa, bagaimana pandangan kamu?

Ini bukan hal baik karena monyet diambil dari alam, dipisahkan dari ibunya, kemudian dimanfaatkan untuk hal seperti itu. Pada saat monyet ini beranjak dewasa, ketika mulai menggigit, di situlah monyet ini mulai dikurung oleh manusia. Lalu, mereka mencari kembali monyet-monyet di alam.

Untuk hal ini yang kami bisa lakukan ialah dengan mengedukasi melalui media sosial dan lain-lainnya bahwa hal itu buruk dan tidak boleh dilakukan.

 

Banyak yang salut melihat kamu, masih muda, tinggal di tengah hutan. Kok, bisa?

Kami dulu sering bolak-balik pulang pergi dari Palangkaraya ke shelter yang ada di hutan. Sejak tiga tahun yang lalu kami sudah bosan untuk pulang pergi sehingga bikin rumah di sini. Kami hidup full time di hutan untuk bisa lebih menyatu dengan alam.

Saya memilih tinggal di sini karena saya dibesarkan di lingkungan ini. Lingkungan ini bisa dibilang sebagai zona nyaman saya, berada di sini bersama keluarga saya, melakukan patroli, terlibat dalam konservasi dan lain-lainnya.

 

Dengan tinggal di hutan, jadi susah bertemu dengan teman-teman? 

Lebih banyaknya secara virtual ya komunikasi dengan teman-teman saya. Saya juga ada beberapa teman dari kota Palangkaraya, sekitar 8 jam dari sini. Selain itu, juga punya teman di Bali. Jadi, mungkin dalam satu tahun, saya bisa habiskan waktu sebulan di Bali bersama teman saya untuk bersosialisasi.

 

Yang virtual berarti koneksi internet aman ya? 

Di sini juga kadang internetnya putus, kadang sampai tiga hari, jadi agak susah juga dengan teman-teman berkomunikasi virtual. Kadang-kadang saya juga pergi ke desa-desa yang dekat tempat tinggal saya untuk kumpul bersama teman-teman yang di sana.

 

Bagaimana cara kamu untuk mengajak banyak orang, khususnya generasi muda untuk mencintai hutan dan satwa liar?

Sosialisasi terus kami berikan lewat media sosial dan lainnya. Contohnya, saya dapat pesan dari orang yang pelihara owa. Dia menghubungi saya dan menanyakan harus ke mana diserahkan satwa tersebut.

Lalu, saya forward dia ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) di daerah masing-masing. Jadi, akan di-lead ke pemerintah, kemudian jika BKSDA mau titipkan ke Kalaweit, kami akan senang hati terima karena kita juga bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

 

Kenapa kamu memilih sosial media untuk medium kamu mengajak para generasi muda mencintai hutan dan satwa liar?

Dulu dari 2001 sudah lakukan cara itu tapi dengan cara lama. Kami bangun di Palangkaraya yang namanya Radio Kalaweit. Jadi, kami mengedukasi masyarakat, anak-anak muda lewat radio tersebut seperti beberapa menit di radio ada pesan singkat untuk tidak memelihara satwa liar di rumah.

Kami berevolusi ke Youtube karena melihat pengguna media sosial juga tinggi seperti di Instagram dan Youtube, TikTok. Jadi, andai ada platform baru lagi yang lebih hit, kami akan muncul di sana juga karena kami ingin mendapat dukungan dan pendengar untuk kami bisa mengedukasi terkait satwa liar.

 

Akun Youtube kamu sempat viral saat kamu berada 24 jam di hutan, apa tujuan kamu saat membuat video ini?

Mungkin banyak dari konten video saya tidak tampak pesan yang spesifik, tetapi inti dari video yang saya buat ialah untuk menarik adanya banyak penonton. Jadi, konten berada di hutan 24 jam bagi saya sudah biasa, tetapi saya tahu kalau ini akan bisa menarik banyak penonton. Jadi, setelah ditonton oleh banyak orang, ini menandakan bahwa mereka tertarik sehingga mereka bisa klik video lain juga ada di kanal saya.

 

Konten seperti apa yang kamu sasar di Youtube untuk generasi muda?

Salah satu yang saya akan mencoba perjuangkan, khususnya di Youtube, ialah konten tentang satwa liar. Sekarang kita ketahui jika banyak dari youtuber-youtuber besar yang memelihara satwa liar di rumah. Jadi, saya mau mencoba mengedukasi sebaliknya, bahwa satwa liar mestinya di alam. Jika ingin mengedukasi, datang langsung ke hutan dan perlihatkan bahwa satwa ini yang harusnya kita selamatkan, bukan konten yang membawa satwa ke rumah dan dipelihara.

 

Sejauh ini apakah bagian hutan yang kamu lindungi masih aman dari oknum pembalakan dan juga pemburu satwa liar?

Untuk di kawasan sendiri sejauh ini cukup sukses, kami tidak menemukan penebangan hutan secara liar. Namun, masalah perburuan satwa tentu saja ini lebih rumit karena tidak meninggalkan bekas, tapi mungkin ada beberapa seperti di Sumatra, ada orang-orang yang membuat jebakan burung. Nah, di sini kami coba berantas semua jebakan-jebakan burung tersebut.

 

Kamu sekarang kelas XII, apa rencana kamu ke depannya?

Saya dari dulu ingin menjadi sutradara film, khususnya film dokumenter di bidang satwa liar. Jadi, saya sudah tertarik dari kecil membuat video, makanya saya membuat konten video di Youtube juga.

Untuk perkuliahan rencananya memang akan masuk ke dunia perfilman ya, tetapi harapan saya suatu hari juga punya acara petualangan dokumenter di televisi. (M-2)

BERITA TERKAIT