16 November 2021, 11:26 WIB

Nuklir Bakal Jadi Solusi Menuju Net Zero Emission


Faustinus Nua | Humaniora

PEMERINTAH Indonesia tengah serius mewujudkan komitmen net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Bahkan mewacanakan pula pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang dimulai dengan commercial operation date (COD) pada 2045.

Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa saat ini sebesar 75% emisi yang dihasilkan berasal dari penggunaan energi fosil. Dalam skenario umum transisi energi di Indonesia bertumpu pada sektor pembangkit listrik.

"Skenario transisi energi menuju NZE ke depan bertumpu pada pembangkitan listrik energi terbarukan yang akan membawa perubahan besar dalam ketenagalistrikan, dan listrik akan menjadi pusat transisi tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/11).

Baca juga: Pemerintah Bakal Larang Perayaan Tahun Baru, Luhut : Kita Jangan Egois

Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Djarot S. Wisnubroto mengungkapkan selama lebih dari dua dekade, topik energi nuklir tidak masuk dalam agenda konferensi perubahan iklim yang dikoordinasikan oleh PBB. Namun, pada KTT COP26 yang berlangsung di Glasgow, energi nuklir mulai menjadi perhatian.

"Dengan karakteristik yang hampir bebas karbon, dan mampu menghasilkan daya besar terus menerus maka PLTN merupakan salah satu solusi mengatasi pemanasan global. Memang momok Chernobyl dan Fukushima masih ada. Tetapi ketika krisis iklim semakin dalam dan kebutuhan untuk beralih dari bahan bakar fosil menjadi mendesak, sikap banyak negara mulai berubah," terangnya.

Baca juga: Pola Hidup Sehat dan Deteksi Dini Bantu Kontrol Gula Darah

Di sisi lain, untuk menuju NZE Indonesia 2060, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa disamping menargetkan untuk secara bertahap menghentikan operasi pembangkit listrik yang sumber energinya dari batu bara, juga memaksimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). "Bahkan Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa opsi penggunaan nuklir direncanakan akan dimulai di 2045 dengan kapasitas hingga mencapai 35 Giga Watt (GW) di 2060," tutur Djarot.

Deendarlianto, Profesor dari Pusat Studi Energi Teknologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta telah meneliti bahwa energi nuklir mampu memenuhi kebutuhan energi secara masif dan sesuai untuk peningkatan kemampuan industrialisasi Indonesia di masa depan. Dengan demikian, untuk memenuhi kebutuhan energi yang bersifat masif dan berkesinambungan, maka tidak ada pilihan lain untuk menggantikan peran penggunaan sumber daya energi konvensional kecuali penggunaan energi nuklir.

Lebih lanjut dalam penjelasannya disebutkan teknologi reaktor nuklir telah mencapai pencapaian teknologi yang lebih unggul dibanding dengan teknologi pembangkit lainnya. Keunggulan teknologi energi nuklir adalah tidak menghasilkan limbah yang dilepaskan ke lingkungan. Semua limbah terkait dengan pengunaan material nuklir dikelola dengan sistem pengelolaan limbah nuklir yang pada akhirnya disimpan, diimobilisasi dan dikungkung. Kemudian, mengaplikasikan sistem keselamatan komprehensif (defense in depth atau sistem pertahanan berlapis) yang terdiri dari keselamatan melekat (inherent safety), redundansi, interlock, reliability, hambatan ganda (multiple barrier), dan juga prosedur operasi terstandarisasi.

BERITA TERKAIT