13 November 2021, 21:30 WIB

Pahlawan Masa Kini, Wujudkan Kontribusi Nyata di Tengah Masyarakat 


Putri Rosmalia Octaviyani |

SOSOK pahlawan selalu ada dalam kehidupan masyarakat suatu negara. Di tengah perkembangan zaman, sosok pahlawan bisa hadir dalam berbagai jenis kontribusi. Dengan keahliannya yang beragam, para pahlawan masa kini muncul dengan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara. 

Di masa pandemi saat ini, tak bisa dipungkiri tenaga kesehatan dan ilmuwan penemu vaksin merupakan sosok-sosok yang berjasa dan pantas disebut sebagai pahlawan masa kini. Kontribusi mereka sangat besar dalam menyelamatkan jiwa di tengah ancaman virus covid-19. 

Salah satu jenis vaksin yang digunakan ialah AstraZeneca yang hak patennya dimiliki oleh Universitas Oxford. Tak disangka, salah satu ilmuwan yang ikut bekerja menciptakan vaksin AztraZeneca ialah seorang warga Indonesia bernama Carina Joe. Bahkan ia baru saja mendapatkan penghargaan Pride Of Britain di bidang kesehatan. 

Carina merupakan seorang perempuan muda yang namanya termasuk dalam salah satu daftar ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca yang telah digunakan secara global. Maka tak berlebihan kalau Carina Joe disebut sebagai pahlawan masa kini yang berkontribusi tak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk dunia. 

“Saya senang karya saya bisa digunakan banyak masyarakat dan menyelamatkan banyak jiwa. Saya kerja tujuh hari seminggu selama 16 jam karena dalam keadaan darurat. Saya dituntut untuk tidak melakukan kesalahan karena sangat darurat. Sempat mau menyerah tapi sebagai ilmuwan harus melakukan yang terbaik di tengah pandemi ini,” ujar Carina, dalam program Vaksin untuk Indonesia episode Pahlawan untuk Semua, di Metro TV, Sabtu, (13/11). 

Selain Carina, sosok pahlawan masa kini juga pantas disematkan untuk Ifan Ohsi. Ifan merupakan seorang musisi yang Ifan merupakan sosok musisi yang sangat berjasa bagi penyandang disabilitas tuna rungu di Indonesia. Berawal dari pembuatan audio visual Qur’an Indonesia Project yang bekerjasama dengan teman-teman tuli, Ifan makin aktif bergerak dalam aksi peduli kepada teman-teman tuli. 

Sebagai seorang musisi, Ifan kemudian berkolaborasi dengan vokalis sekaligus gitaris Rocket Rockers, Aska. Mereka merilis sebuah lagu mengenai para penyandang tuna rungu yang berprestasi. Kemudian mereka membuat video klip yang melibatkan teman-teman tuli dengan menggunakan bahasa isyarat. 

Melalui Lagu “Rasakan Dunia” ia mengajak teman tuli bisa menikmati lagu yang tidak bisa mereka dengar secara langsung. Aksi kegiatan Ifan berkembang dengan membuat masker khusus (masker transparan) untuk teman tuli. 

Baca juga : Peraih Emas KSN 2021 Michiko Shen Cinta Pelajaran IPA

“Saya awalnya ingin sekali membuat lagu yang ada movement-nya. Lalu setelah pandemi saya berpikir apa yang dibutuhkan oleh teman-teman tuli, lalu akhirnya membuat masker transparan bekerja sama dengan KitaBisa.com awalnya, lalu berlanjut sampai sekarang,” ujar Ifan. 

Ifan mengatakan tak memiliki keinginan atau tujuan khusus dari gerakannya tersebut. Ia mengatakan hanya ingin ide dan kontribusinya bermanfaat dan dapat membantu kehidupan para penyandang disabilitas. 

“Setelah banyak berdiskusi, saya tahu bahwa apa yang dibutuhkan oleh teman disabilitas ialah kesetaraan. Itulah kenapa saya kerap melibatkan teman tuli dalam karya saya. Saya banyak belajar dari mereka,” ujarnya. 

Sosok lain yang kehadirannya juga memberikan dampak besar bagi masyarakat ialah Edy Surata Ginting. Edy merupakan seorang seniman yang berjasa terhadap keselamatan lingkungan. Karena kecintaannya pada lingkungan, dia mengolah limbah plastik menjadi lukisan yang indah. 

Talenta seninya ia adaptasikan dengan kepeduliannya pada masalah limbah plastik. Ia menggunakan limbah plastik warna-warni sebagai media pewarna bagi karya seninya. Tidak komersil, limbah plastik menjadi alat pembayaran bagi yang ingin kursus melukis padanya. Tak hanya itu hasil penjualan lukisannya juga dialokasikan untuk aksi kemanusiaan bagi sesama yang membutuhkan. 

“Saya ingin fokus agar bagaimana bisa membuat sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya. 

Edy mengatakan, ia bergerak di bidang lingkungan khususnya pengelolaan sampah sejak 2000. Itu ia lakukan karena prihatin akan masalah sampah yang tak pernah selesai di Indonesia. 

Sampah plastik yang ia kumpulkan tak hanya digunakan untuk melukis. Namun, juga untuk membuat berbagai kerajinan hingga sebagai bahan membuat tempat belajar bagi anak-anak di pedalaman Indonesia. (OL-7)

BERITA TERKAIT