11 November 2021, 15:32 WIB

Mengenal Microsleep: Fenomena Tidur Sejenak yang Sering Sebabkan Kecelakaan


Kevino Dwi Velrahga | Humaniora

PENYEBAB kecelakaan yang menewaskan artis Vanesha Angel beserta suaminya, Kamis (4/11), masih terus diselidiki pihak kepolisian. Namun, ada dugaan bahwa sopir saat itu sedang mengantuk hingga tertidur sebentar yang mengakibatkan mobil menabrak pembatas jalan. Fenomena yang dialami sang sopir disebut sebagai microsleep, apakah itu?

Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengungkap bahwa microsleep sendiri merupakan sebuah situasi efek dari kelelahan yang sering menimpa pengemudi kendaraan. Fenomena yang terjadi ialah seseorang tersebut tertidur sejenak yang mengakibatkan seluruh aktivitasnya juga ikut berhenti mendadak.

Baca juga: 

“Contohnya kalau dalam kegiatan sehari-hari itu saat kita mengerjakan sesuatu yang monoton seperti mengetik di depan komputer. Lama-lama kita kan ngantuk dan tanpa sadar tersentak atau saat kita sedang menunggu seseorang, dipenuhi dengan rasa jenuh, tahu-tahu kita kaget karena ada orang jalan. Itu disebut microsleep,” ujar Jusri dalam acara Nunggu Sunset Media Indonesia, Rabu (10/11).

Dalam konteks berkendara terutama di jalan tol, microsleep pada pengemudi merupakan hal yang sangat berbahaya. Karena menurut Jusri, sedikit saja terlena kendaraan yang dikemudikan tanpa kita kontrol sudah bisa berpindah tempat dengan sangat cepat.

Jusri menambahkan bahwa penyebab microsleep sendiri beragam. Bisa karena kelelahan atau kurang tidur, bisa juga karena faktor lingkungan yang memicu kejenuhan. Contohnya ketika di jalan tol, jalur yang dilewati hanya lurus saja, monoton, serta kecepatan yang ditempuh pun tidak dinamis. Situasi tersebut menurutnya membuat orang bosan dan mudah mengalami gejala microsleep.

Mencegah microsleep saat berkendara

Seperti yang disebutkan sebelumnya, microsleep merupakan salah satu faktor terjadinya sebuah kecelakaan lalu lintas. Maka dari itu, perlu untuk mempersiapkan diri sebelum berkendara serta selalu dalam kondisi waspada agar dapat menghindari microsleep.

Jusri membagikan kiat-kiat yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya microsleep saat berkendara. Saat menempuh perjalanan jarak pendek atau sudah sering dilalui, ia menyarankan para pengemudi memiliki rute opsi yang berbeda. Hal ini membuat pengemudi tiap harinya akan menerima rangsangan yang berbeda sehingga microsleep pun akan sukar dialami.

“Jalan yang biasa, jalan yang terus menerus kita lalui akan menimbulkan kelelahan. Tidak ada dinamika-dinamika baru membuat otak kita stagnan. Dengan adanya rute berbeda orang akan mengalami sesuatu yang baru serta secara manusiawi membuat dia lebih excited dan siaga akan situasi sekitar,” tutur Juhri.

Selanjutnya untuk perjalanan jauh, yang paling utama menurut Juhri adalah pastikan diri sendiri dalam keadaan sehat dan bugar. Sehat sendiri tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga secara psikis. Bugar itu berarti seseorang yanng memiliki tidur optimal 7-8 jam.

Ia juga mengimbau untuk para pengendara sebelum menempuh perjalanan jauh, membuat terlebih dahulu rencana perjalanan yang turut mempertimbangkan lokasi mana saja yang bisa dijadikan tempat istirahat. Jadikan jam biologis tubuh manusia sebagai acuan dalam membuat rencana tersebut. 
    
“Siklus tubuh manusia itu naik turun. Biasanya setelah 2 jam menjalankan aktivitas, tubuh manusia akan menurun staminanya. Jadi yang saya sarankan ialah istirahat setiap 2 jam atau ketika tanda-tanda keletihan sudah muncul. Waktu istirahat ngapain? Bisa buat stretching, cari angin segar sambil memeriksa kendaraan,” jelasnya.

Selain dari faktor manusia di atas, Jusri juga mengingatkan, untuk memastikan pula kendaraan yang dipakai layak jalan atau tidak. Ada baiknya sebelum menempuh perjalanan jauh kita mengecek kendaraan ke bengkel terlebih dahulu untuk memastikan kendaraan yang digunakan benar-benar dalam kondisi baik. (OL-6)

 

BERITA TERKAIT