11 November 2021, 11:25 WIB

Kemenkes Targetkan Kemandirian Alkes dan Farmasi pada 2024


Atalya Puspa |

KEMENTERIAN Kesehatan terus berupaya untuk mengembangkan produk farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. Dikatakan Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Arianti Anaya, bahwa Indonesia memiliki target kemandiiran alkes dan produk farmasi pada 2024 mendatang.

Arianti mengakui, memang tidak mudah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tersebut di tahun 2024. Ia menyatakan Kementerian Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri dan harus menggandeng peran perguruan tinggi terutama para peneliti dari kalangan akademisi dan industri.

“Kita pastinya harus bekerja sama, kalau tidak pastinya tidak akan berhasil, ini tahunnya berjalan terus sekarang sudah hampir habis 2021, 2022, 2023 dan 2024, akhirnya kita cuma punya waktu 3 tahun maka kita harus merapatkan barisan bagaimana kita bisa bekerja dan rasanya tidak mungkin tanpa kerja sama," kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (11/11).

Arianti mengaku sudah sejak lama berteriak dan menggunakan banyak kesempatan guna pengembangan sediaan farmasi dan alat kesehatan khususnya terkait sediaan farmasi dan obat tradisional. Upaya pengembangan ini terus dilakukan mengingat negara Indonesia begitu kaya memiliki sumber daya alam untuk sediaan obat tradisional.

“Berbagai upaya segera kita lakukan jangan sampai obat tradisional pun kita nanti dikalahkan oleh China, Korea, dan kita tidak mau karena pak Menteri sudah menginstruksikan harus segera bergerak menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ada, diantaranya pengembangan 10 bahan baku obat, 10 alat kesehatan, juga soal fitofarmaka dan vaksin," terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Subagus Wahyuono mengungkapkan, UGM sebagai salah satu institusi di Indonesia siap untuk mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan kemandirian alkes dan farmasi. Untuk mewujudkan kemandirian di bidang kesehatan khususnya obat herbal, UGM Science Techno Park membuka kolaborasi dengan para mitra untuk bersama-sama mengembangkan dan mengakselerasi penghiliran inovasi OHT Fitomarfaka. UGM berharap Obat Herbal Terstandar bisa dimasukkan dalam agenda JKN sehingga bisa menjadi pelengkap terhadap resep obat kimiawi.

Karenanya UGM STP mendukung Formularium Herbal Indonesia untuk bersama-sama melakukan standarisasi bahan baku dan proses uji. Selain itu, juga soal metodologi yang standar untuk menyokong percepatan hilirisasi inovasi OHT ke Fitofarmaka.

“Kami beranggapan jika ini sudah menjadi obat yang resmi diakui aman maka kalau kita mulai dari hilir dengan meminjam istilah yang selalu digunakan UGM start from the end, maka kalau ini berhasil kita pergi ke hulunya akan lebih kuat, dan ini akan membawa value added terhadap semua bahan-bahan baku. Petani akan menjadi hidup, industri-industri hidup dan kita memiliki kemandirian obat yang lebih baik lagi," jelasnya.

Dikatakannya, UGM telah bekerja sama dengan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) untuk memproduksi alat kesehatan. Alat-alat kesehatan kesehatan tersebut diantaranya alat sedot cairan bagi penderita hidroscepalus, ring jantung dan alat deteksi kanker nasopharing.

“Juga parasetamol, ini juga suatu mandat kemandirian obat, kerja sama dengan BRIN, PT Pertamina, PT Kimia Farma. Juga GeNose, yang merupakan alat skrining cepat infeksi virus SARS-CoV2 melalui hembusan nafas pasien covid-19 dan obat herbal," imbuhnya. (H-1)

BERITA TERKAIT