06 November 2021, 07:15 WIB

Yuk Kenali Demam Berdarah Agar Tetap Waspada


Basuki Eka Purnama |

INDONESIA sebagai negara tropis masih menjadi wilayah endemis demam berdarah dengue (DBD), yang setiap tahunnya belum pernah lepas dari kasus baru dan bahkan menyebabkan kematian.

Kementerian Kesehatan, pada 2019, pernah melakukan kajian tentang DBD bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang hasilnya menunjukkan peningkatan kasus demam berdarah berkorelasi dengan tingginya kelembapan udara. 

Kelembapan udara yang tinggi merupakan cuaca yang paling cocok untuk nyamuk aedes aegypti berkembang biak lebih cepat.

Baca juga: Kowani Teguhkan Komitmen Bantu Penurunan Angka Stunting 

Data Kementerian Kesehatan per minggu ke-43 2021, tercatat 37.646 kasus demam berdarah dengue di seluruh wilayah Indonesia, dengan jumlah suspek mencapai 40.172. Sebanyak 361 penderita di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Masyarakat disarankan waspada terhadap penyakit yang ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti ini kapan pun. 

Bukan tanpa alasan, pasalnya kasus demam berdarah bisa terjadi sepanjang tahun mengakibatkan kematian apabila tidak ditangani dengan segera dan secara tepat.

Sembuh sendiri

Dokter pakar penyakit tropik dan infeksi Ronald Irwanto mengatakan penyakit demam berdarah sebenarnya merupakan penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya atau self-limiting disease.

Namun, masyarakat harus waspada lantaran proses infeksi dari virus dengue memiliki fase kritis dengan pasien membutuhkan dukungan perawatan medis untuk melewatinya.

Demam berdarah sebenarnya penyakit self-limiting disease, penyakitnya sembuh dengan sendirinya dari tubuh. Cuma memang harus hati-hati karena DBD ada tiga fase.

Menurut Ronald, fase pertama adalah fase demam dengan gejala akibat infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti mulai muncul. Fase ini muncul pada hari pertama hingga hari ketiga. 

Gejala yang ditimbulkan adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi, dan nyeri otot. Gejala khas yang ditimbulkan dari penyakit DBD adalah demam yang tiba-tiba muncul tanpa disertai dengan flu, batuk, sakit tenggorokan, atau diare.

Fase selanjutnya adalah fase kritis kala demam pasien mulai turun, namun di sinilah fase yang paling berbahaya dari penyakit demam berdarah karena bisa menimbulkan pendarahan di berbagai organ tubuh. 

Pada fase kritis, biasanya pasien merasa mual karena ada cairan plasma darah yang keluar dari pembuluh darah dan memasuki lambung. Fase kritis terjadi pada hari keempat menjelang hari ketujuh.

Seringkali, di saat demam mulai turun di fase kritis, pasien merasa dirinya sudah sembuh sehingga cenderung abai dan tidak lagi waspada. Padahal di fase kritis inilah pasien sangat membutuhkan perawatan seperti tambahan cairan dari infus atau penanganan medis lain jika terjadi penurunan angka trombosit dan terjadi pendarahan.

Pendarahan akibat penyakit DBD di fase kritis ini bisa terjadi di mana saja seperti di hidung (mimisan), gusi, telinga, saluran pencernaan, dan lainnya. 

Pendarahan yang berat menyebabkan inflamasi di berbagai organ tubuh dan bisa menyebabkan kematian. Kejadian kematian akibat DBD biasanya terjadi di fase ini lantaran tidak mendapatkan perawatan yang tepat.

Di masa kritikal itu sangat berbahaya karena rawan pendarahan, rawan trombosit turun, rawan syok. 

Ronald menerangkan dokter tidak bisa memberikan obat kepada pasien untuk membunuh virus dengue atau untuk menaikkan kembali tromobosit pasien.

Selanjutnya, di fase ketiga yaitu fase pemulihan yang dimulai pada hari ketujuh inilah pasien mulai kembali pulih. Pada fase ini trombosit pasien juga akan naik dengan sendirinya dan virus akan mati. 

Namun, pada fase pemulihan di hari ketujuh ini pasien akan mengalami demam sekali lagi untuk selanjutnya hilang dan kembali sehat.

Lalu kapan masyarakat harus waspada terhadap penyakit DBD? Ronald menyarankan agar masyarakat waspada apabila mengalami demam tinggi secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.

Jadi, jika tiba-tiba mengalami demam tinggi tanpa ada keluhan lain seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau diare, segeralah periksakan diri ke dokter. 

Dokter nantinya akan langsung melakukan tes virus dengue untuk memastikan positif atau tidak dan dilakukan perawatan.

Penyakit demam berdarah bisa berujung pada kematian karena terlambat penanganan ke fasilitas kesehatan.

Pencegahan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Lebih baik menghindari gigitan nyamuk, khususnya nyamuk aedes aegypti, ketimbang melakukan perawatan jika sudah terinfeksi. 

Cara paling efektif untuk menghindari gigitan nyamuk adalah dengan meniadakan keberadaan nyamuk di lingkungan tempat tinggal. Yaitu dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) agar tidak bisa berkembang biak dan hidup di sekitar rumah.

Menjaga kebersihan lingkungan rumah sangat dianjurkan agar nyamuk tidak memiliki tempat tinggal atau bahkan berkembang biak. 

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah membersihkan tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, menguras air yang menggenang, menaburkan atau meneteskan larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah untuk menjaga aliran udara tetap bersih, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat istirahat nyamuk.

Selain itu bisa juga mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk atau lotion anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta penyemprotan disinfektan atau fogging untuk memberantas nyamuk

Namun perlu diketahui bahwa fogging atau penyemprotan disinfektan bukan berarti menjamin keamanan lingkungan rumah dari nyamuk demam berdarah. Fogging semata tidak akan efektif apabila tidak dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah. 

Oleh karena itu menjaga kebersihan lingkungan seperti yang sudah disebutkan di atas adalah kunci penting untuk terhindar dari gigitan nyamuk demam berdarah. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT