02 November 2021, 12:20 WIB

Indonesia Ajak Dunia Hapus Perdagangan Merkuri Ilegal Lewat Deklarasi Bali


Atalya Puspa |

INDONESIA mengambil peran penting dalam upaya penghapusan penggunaan senyawa merkuri di dunia. Dikatakan oleh Delegasi Indonesia untuk COP-4 Minamata, Muhsin Syihab, salah satu poin penting dalam pembahasan COP-4 yang tengah berlangsung saat ini ialah Indonesia akan menggaet berbagai negara untuk turut andil dalam Deklarasi Bali, yang merupakan deklarasi negara-negara untuk sama-sama menghapus perdagangan ilegal merkuri.

"Nanti akan kita presentasikan di COP-4 malam nanti untuk mendapatkan masukan yang lebih luas dari delegasi yang hadir. Dan kita akan coba kondisikan kembali dan buka sesi pembahasan di COP-4 yang kedua di Bali. Kita ingin agar ada upaya penghapusan perdagangan ilegal merkuri di dunia," kata Muhsin dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (2/11).

Muhsin mengungkapkan Deklarasi Bali menjadi kontribusi nyata Indonesia di dunia internasional dalam penghapusan perdagangan dan penggunaan merkuri secara ilegal di dunia. Hal ini, lanjut dia, tentu akan menjadi salah satu testimoni positif kepemimpinan Indonesia di diplomasi lingkungan hidup internasional.

Adapun, dalam deklarasi tersebut, nantinya akan dibahas mengenai proses monitoring dan penegakan hukum dari penjualan merkuri ilegal. Selain itu, Indonesia juga mendorong agar memperjuangkan kepentingan negara berkembang untuk meningkatkan capacity building demi meninggalkan penggunaan merkuri dan menghindari perdagangan ilegal merkuri.

Lebih lanjut, dalam Deklarasi Bali akan ditekankan imbauan kepada pemangku kepentingan seluruh negara yang terlibat agar tidak melakukan perdagangan merkuri, baik di platform media sosial dan e-commerce. "Secara prinsip kita ingin ini diadopsi secara konsensus dengan pendekatan yang inklusif," tegas dia.

Selanjutnya, Muhsin mengungkapkan, hal lain yang terpenting dalam pembahasan di COP-4 hari pertama ialah mengenai effective evaluation dari kesepakatan yang telah diambil dalam konferensi tersebut. "COP-4 ini menjadi krusial. Karena berdasarkan mandat bahwa setelah enam tahun setelah COP-4 pertama ada implementasi dari effective evaluation. Dan 2017 merupakan COP-4 pertama. Ini berarti diharapkan pada 2023 ada effective evaluation dan kita harap itu bisa diimplementasikan saat COP dilaksanakan di Indonesia," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Presiden COP-4 Minamata, Rosa Vivien Ratnawati mengungkapkan bahwa pada hari pertama penyelenggaraan konferensi tersebut, ada sebanyak 600 negara yang hadir. Pada hari pertama pelaksanaan COP-4, Indonesia telah menyampaikan berbagai update, diantaranya keberhasilan Indonesia dalam penurunan merkuri di berbagai sektor.

"Dari pertemuan ini kami ingin mempertegas bahwa komitmen upaya pengurangan dan penanganan merkuri itu dibutuhkan juga dengan peran diplomasi lingkungan hidup di tingkat global dan Indonesia serius dalam menangani persoalan merkuri," ucap dia.

Seperti diketahui, penyelenggaraan COP-4 Konvensi Minamata yang saat ini berlangsung dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu COP-4.1 yang diselenggarakan secara daring pada 1-5 November 2021. Kemudian tahap kedua, COP-4.2 In-Person Segment rencananya akan diselenggarakan secara tatap muka/luring pada 21-25 Maret 2022 di Provinsi Bali. (H-1)

BERITA TERKAIT