02 November 2021, 08:54 WIB

93 Ribu Penumpang Internasional Jalani Tes PCR di Bandara Soetta


Insi Nantika Jelita |

PRESIDEN Direktur PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengungkapkan, sejak ketentuan PCR bagi penumpang yang baru tiba dari luar negeri diberlakukan, tercatat sebanyak 93.006 orang penumpang pesawat telah melakukan tes PCR di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang.

“Berdasarkan data yang ada, seluruh penumpang yang datang dari luar negeri di Bandara Soekarno-Hatta yakni sebanyak 93.006 orang pada 19 September - 31 Oktober 2021, telah menjalani tes PCR di terminal 3 Soetta, sebelum menuju lokasi karantina yang ditetapkan,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (2/11).

Dia menerangkan, sebagian besar dari pelaku perjalanan internasional itu merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Tanah Air.

Adapun sesuai Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor 85/2021, bagi PMI, pelajar atau pegawai pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas luar negeri sesuai dengan SK Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 14/2021, pembiayaan untuk tempat karantina dan kewajiban RT-PCR ditanggung oleh pemerintah.

Lokasi tes PCR di terminal 3 terletak di international arrival hall yang dilengkapi 20 bilik pengambilan tes. Hasil PCR ini dijanjikan pihak bandara Soetta dapat diketahui sekitar 1 jam setelah pengambilan sampel.

Sementara itu terkait penerapan digitalisasi dokumen kesehatan, yakni surat vaksinasi dan surat keterangan tes Covid-19, di bandara-bandara Angkasa Pura II tercatat pemakaian aplikasi PeduliLindungi telah digunakan hingga 1,45 juta kali oleh penumpang pesawat.

Seperti diketahui, surat vaksinasi dan surat keterangan hasil tes covid-19 dari laboratorium yang terdaftar di New All Record (NAR) milik Kemenkes dapat diketahui langsung di akun PeduiLindungi masing-masing penumpang yang kemudian dapat digunakan untuk memproses keberangkatan penerbangan di bandara AP II.

“Selain dapat membuat proses keberangkatan lebih mudah, penggunaan aplikasi PeduliLindungi juga dapat menghalau adanya pemalsuan dokumen vaksin atau surat keterangan tes Covid-19,” pungkas Awaluddin. (Ins/OL-09)

BERITA TERKAIT