29 October 2021, 16:51 WIB

Penelitian Terbaru, Antidepresan Kurangi Risiko Rawat Inap Pasien Covid-19


Mediaindonesia.com |

MENGOBATI pasien covid-19 yang berisiko tinggi dengan menggunakan antidepresan fluvoxamine dapat mengurangi risiko rawat inap yang berkepanjangan hingga sepertiga. Penelitian skala besar menunjukkan hasil tersebut pada Kamis (28/10).

Para penulis mengatakan penelitian itu dapat membantu meningkatkan perlindungan berbiaya rendah terhadap penyakit parah atau kematian di negara-negara yang belum menerima dosis vaksin secara memadai. Soalnya, selama ini pengiriman vaksin sangat tidak merata.

Fluvoxamine secara tradisional digunakan untuk mengobati kondisi kesehatan mental seperti depresi dan gangguan obsesif-kompulsif. Ia dipilih untuk diuji coba karena sifat antiinflamasinya. Banyak masalah yang berasal dari covid-19 disebabkan oleh pembengkakan karena sistem kekebalan bereaksi berlebihan terhadap infeksi. 

Baca juga: Penelitian Terbaru: Bernapas saja Dapat Sebarkan Bakteri TBC

Menulis dalam jurnal The Lancet Public Health, peneliti dari Amerika Utara dan Selatan menggambarkan hasil pada hampir 1.500 pasien rawat jalan covid-19 di Brasil. Dari 741 orang yang menerima fluvoxamine, 79--lebih dari 10%--menjalani rawat inap yang lama di rumah sakit. Dari 756 yang menerima plasebo, 119 (15,7%) dirawat di rumah sakit.

Penulis mengatakan bahwa pemberian fluvoxamine menghasilkan pengurangan relatif dalam rawat inap sebesar 32%. "Covid-19 masih menimbulkan risiko bagi individu di negara-negara dengan sumber daya rendah dan akses terbatas ke vaksinasi," kata Edward Mills dari McMaster University, peneliti utama dalam uji coba tersebut.

Oleh karena itu, mengidentifikasi terapi yang murah, tersedia secara luas, dan efektif terhadap covid-19 sangat penting. Begitu pun penggunaan kembali obat-obatan yang tersedia secara luas dan memiliki profil keamanan yang dipahami dengan baik menjadi perhatian khusus.

Baca juga: Studi Onoiwa MX Terapi Pasien Covid-19 Masuk Jurnal Internasional

Meskipun mengurangi kematian bukanlah area fokus yang dimaksudkan, penelitian ini juga menemukan bahwa 12 pasien dalam kelompok plasebo akhirnya meninggal dan hanya satu dari kelompok fluvoxamine yang meninggal karena virus. Para penulis menekankan bahwa evaluasi lebih lanjut diperlukan karena fluvoxamine tidak ada dalam daftar obat esensial Organisasi Kesehatan Dunia dan dapat membuat ketagihan.

"Mengingat keamanan fluvoxamine, tolerabilitas, kemudahan penggunaan, biaya rendah, dan ketersediaan luas, temuan ini mungkin memiliki pengaruh penting pada pedoman nasional dan internasional tentang manajemen klinis covid-19," kata Gilmar Reis, co-lead studi, yang berbasis di Belo Horizonte, Brasil. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT