24 October 2021, 19:31 WIB

Keberatan Tes PCR Pada Penumpang Pesawat Akan Direspons dalam Pengumuman PPKM


Iis Zatnika | Humaniora

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan akomodatif terhadap keberatan sejumlah pihak tentang kewajiban tes PCR bagi penumpang pesawat terbang. Mereka beralasan persyaratan cukup didasarkan atas sertifikasi vaksin serta penggunaan aplikasi PeduliLindungi.

"Kami tampung keluhan itu, saat ini juga pemerintah telah membuka Bali dan Kepulauan Riau untuk wisatawan mancanegara, namun tetap dengan kewaspadaan dan kehati-hatian. Kiat akan akomodir aspirasi itu sebagai masukan atas kebijakan yang ditetapkan," kata Sandiaga dalam kegiatan Geber Donor Darah yang digelar alumni SMAN 4 Jakarta, hari ini, Minggu (24/10) di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Sandiaga memastikan keluhan itu akan menjadi bahan pertimbangan dari keputusan terkait status PPKM yang diumumkan setiap Senin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan.

Sandiaga juga mengingatkan, kendati masyarakat di sejumlah wilayah telah diperkenankan melakukan kegiatan di mal, tempat wisata dan ruang publik lainnya seiring dengan makin turunnya status PPKM di wilayahnya, namun risiko gelombang tiga patut terus diwaspadai. "Libur natal dan tahun baru harus diwaspadai, terlebih ada varian baru di Eropa yaitu mutasi dari varian delta, delta plus alias AY.4.2."

"Walaupun perekonomian dan wisata sudah menggeliat tapi jika muncul gelombang tiga, yang akan terdampak adalah kalangan menengah ke bawah, kita harapkan itu tidak terjadi. Aplikasi sertifikasi Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability (CHSE) harus terus ditingkatkan."

Pemulihan perekonomian, lanjut Sandiaga, harus dilakukan berkelanjutan untuk mencegah ledakan kerumunan, salah satunya dengan penerapan aturan ganjil genap di sejumlah destinasi. "Kita harus wanti-wanti pada semua pihak, agar terus patuh pada standar, termasuk PeduliLindungi," kata Sandiaga. 

Sandiaga juga mengingatkan, salah satu risiko yang ditimbulkan ketika euforia berwisata dan berkegiatan di luar rumah tidak terkendali adalah minimnya jumlah kantung darah yang dikumpulkan PMI Jakarta. Contohnya, DKI yang setiap harinya membutuhkan 1.000 hingga 1.200 kantung darah per hari untuk didistribusikan ke sejumlah rumah sakit, pada Juni hingga Agustus ketika terjadi ledakan covid-19 sempat mengalami kekurangan parah. 

"Saya sendiri rutin berdonor setiap tiga bulan, tapi ketika terjadi ledakan kasus, orang takut ke luar rumah padahal kebutuhan bertambah berkali lipat. Sehingga, salah satu sebab kita harus cegah ledakan kasus adalah supaya kondisi yang menyulitkan kemanusiaan ini tidak terulang," kata Sandiaga. (*/X-6)  

 

BERITA TERKAIT