21 October 2021, 14:25 WIB

Terget Net Zero Emission, Indonesia Setop Jual Kendaraan Konvensional


Insi Nantika Jelita | Humaniora

INDONESIA akan menyetop penjualan motor dan mobil konvensional atau berbahan bensin. Nantinya, kendaraan di Tanah Air akan beralih ke bahan bakar listrik.

Upaya ini guna mendukung transisi dari energi fosil ke energi terbarukan yang minim emisi dan ramah lingkungan untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) atau nol bersih emisi di 2060.

"Kita mendorong penggunaan kendaraan listrik dengan target menghentikan penjualan motor konvensional di 2040," jelas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif  dalam webinar, Kamis (21/10).

Untuk penjualan mobil konvensional sendiri juga akan dihentikan di 2050, serta pemerintah mendorong penyediaan transportasi umum yang lebih masif di Indonesia.

Arifin menegaskan, Indonesia berkomitmen untuk mengatasi isu-isu terkait akses energi, teknologi cerdas dan bersih, dan pembiayaan di sektor energi sebagai langkah-langkah dalam mendukung pencapaian target Paris Agreement, yaitu penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan bantuan internasional.

"Aksi mitigasi yang berperan paling besar dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi adalah pengembangan energi baru terbarukan (EBT)," kata dia.

Baca juga : Gelombang Tinggi Hingga 6 Meter, BMKG: Waspada

Dalam hal ini, Indonesia telah menyiapkan peta jalan transisi energi menuju Net Zero Emission untuk periode 2021 – 2060. Strategi yang akan dilakukan antara lain ialah pengembangan energi baru terbarukan secara masif.

"Lalu, penghentian pembangkit listrik tenaha fosil secara bertahap sesuai dengan umur pembangkit atau bisa lebih cepat atau early retirement dengan mekanisme yang tepat," kata Arifin.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menyatakan target Net Zero Emission bisa dicapai lebih cepat 10 tahun, yakni di 2050. Untuk mencapai target tersebut diperlukan berbagai macam dukungan. Misalnya ada international support, seperti dukungan dari negara berkembang untuk mencapai target itu, kata Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan ESDM Chrisnawan Anditya beberapa waktu lalu.

Komponen lain yang diperlukan dalam mencapai NZE di 2050 ialah dibutuhkan asumsi atau proyeksi yang terukur dalam berbagai bidang energi. Chrisnawan menghubungkan ini dengan strategi dalam pengembangan EBT, kelistrikan, pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), battery energy storage systems dan lainnya.

"Harus ada proyeksi kuat yang dibutuhkan, target yang ingin dicapai apa saja. Misalnya, dari demand kelistrikan, lalu pembangkit dengan batu bara yang bakal off. Apalagi (rencana) di 2050 sudah tidak ada lagi PLTU," jelasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT