18 October 2021, 18:40 WIB

BMKG Minta Semua Pihak Waspadai Dampak La Nina


Atalya Puspa | Humaniora

BERDASARKAN monitoring perkembangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, terjadi anomali suhu muka air laut. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan fenomena La Nina di sejumlah wilayah.

"Saat ini, nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar minus 0,61 pada dasarian oktober 2021, yang harusnya 0,5," ungkap Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual, Senin (18/10).

Baca juga: Peralihan Musim, La Nina dan Potensi Cuaca Ekstrem

"Kita harus segera bersiap untuk menghadapi adanya La Nina seperti tahun lalu. Akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat atau sedang. Setidaknya hingga Februari 2022," imbuhnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menyebut berdasarkan kejadian La Nina pada 2020, hasil kajian menunjukkan curah hujan mengalami peningkatan pada November hingga Januari. Khususnya, di wilayah Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. 

Baca juga: Banjir Rob Rendam 15 Ribu Rumah di Kota Medan

Secara detail, peningkatan curah hujan bulanan akan berkisar 20-70% di atas normal. Dwikorita mengungkapkan La Nina diprediksi memiliki dampak yang relatif sama dengan tahun lalu. Dalam hal ini, diikuti bencana hidrometeorologi secara sporadis di berbagai wilayah terdampak.

"Dengan adanya peningkatan potensi curah hujan, kami minta seluruh pihak perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiaagan. Khususnya, terhadap potensi lanjut dari curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," tutur Dwikorita.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT