16 October 2021, 22:00 WIB

Kompetisi LDBI dan NSDC Rangsang Siswa Berpikir Kritis


Widhoroso | Humaniora

PENYELENGGARAAN Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Debating Championship (NSDC) 2021 secara resmi berakhir, Sabtu (16/10). Kompetisi ini merupakan ajang peserta didik untuk unjuk kemampuan dan kreativitas berdebat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan tentang isu-isu global masa kini.

"Kompetisi ini merupakan sarana melatih siswa untuk berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan satu kemampuan kompleks yang dibentuk dari berbagai aspek berpikir dan berkomunikasi," ungkap Plt Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Asep Sukmayadi yang juga menjabat Ketua Panitia LDBI dan NSDC 2021.

Menurut Asep dengan kerangka berpikir kritis, seseorang diharapkan dapat mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan logis dan terstruktur. "Kemampuan berpikir kritis harus menjadi prioritas dalam pendidikan karena dengan kemampuan berpikir kritis seseorang dapat melihat sebuah permasalahan dengan lebih kompleks dan menerapkan pengetahuan dalam memutuskan dan memecahkan masalah," jelasnya.

Dikatakan Asep, LDBI dan NSDC merupakan lomba debat bagi peserta didik yang mempunyai bakat dan minat dalam debat. "LDBI dan NSDC dilaksanakan dengan tujuan antara lain untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, analitis, konstruktif dan responsif terhadap isu-isu aktual yang sedang berkembang, baik nasional maupun internasional," jelasnya.

Tahun ini, peserta yang mengikuti seleksi tingkat provinsi mencapao 3.207 siswa untuk LDBI dan 2.150 siswa untu kNSDC yang mewakili 34 provinsi dan 7 wilayah Sekolah Indonesia Luar Negeri. Tahun ini beberapa sekolah Indonesia di luar negeri juga menjadi peserta.

Di sisi lain, Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Aminudin Aziz memberika apresiasi atas terselenggaraannya kompetisi ini. Ia mengaku bangga karena LDBI dan NSDC terus melahirkan terobosan terobosan baru walaupun lomba dilaksanakan secara virtual karena situasi pandemi.

Menurutnya, kompetisi ini menumbuhkan empat hal yaitu critical thinking, collaboration, communication, dan creativity bagi para generasi muda, khususnya pelajar di jenjang sekolah menengah atas. "Keempat kecakapan itu sangat dibutuhkan dalam menghadapi era digital dan era 5.0 dimana tekanan bukan lagi kepada teknologi tetapi kepada human society. Manusia menjadi komponen utama yang mampu menciptakan nilai baru" jelasnya.

Lebih jauh, Azia mengatakan metode debat yang terus diasah melalui kompetisi ini akan menajamkan proses berpikir siswa. "Hal ini akan menjadikan siswa menjadi pribadi yang terasah dalam berpendapat, menyaring informasi dengan baik, dan memahami permasalahan dari segala sisi," ujarnya. (RO/OL-15)

BERITA TERKAIT