15 October 2021, 22:00 WIB

Bantargebang Kritis, Masyarakat Jakarta Belum Sadar Sampah


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

ISU persampahan di Jakarta kurang mendapatkan perhatian masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Administrasi dan Keuangan Perumda Pembangunan Sarana Jaya Bima Santosa dalam webinar Balkoters Talk bertema 'Olah Sampah Dengan Teknologi Ramah Lingkungan' siang ini.

Dalam kesempatan tersebut, Bima menyebut banyak warga Jakarta yang belum memiliki kesadaran soal masalah persampahan di Ibu kota. Berbeda dengan masalah banjir dan kemacetan yang sudah diketahui banyak orang terkait penyebabnya, warga Jakarta masih belum memiliki kesadaran untuk turut berpartisipasi mengurangi sampah.

Baca juga: Kenari Djaja Award 2021 Bentuk Dukungan Terhadap Karya Anak Bangsa

Padahal kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tengah kritis karena daya tampungnya sudah mendekati batas maksimal. Diperkirakan dalam 3-4 tahun lagi, Bantargebang akan 'overload'.

"Tapi sampah itu orang tidak terlalu sadar bahwa pengelolaan sampah itu sangat signifikan dan penting untuk perkotaan. Ini bukan tugas Sarana Jaya dan Pemprov saja tapi temen-teman di webinar ini, sampah ini urgent, important bagi warga Jakarta yang kalau tidak ada penanganan, 3-4 tahun Bantargebang bisa penuh," kata Bima, Jumat (15/10).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan warga untuk mengurangi timbulan sampah adalah dengan melakukan timbulan sampah dari hulu yakni di tingkat rumah tangga. Untuk sampah organik dapat dijadikan pupuk sementara untuk sampah anorganik dapat dikumpulkan dan diserahkan di bank sampah yang ada di tingkat komunitas untuk bisa didaur ulang.

Tugas untuk menyadarkan warga perihal pengurangan timbulan sampah ini menjadi tugas bersama seluruh pihak. Kesadaran publik menjadi mutlah diperlukan guna dapat melakukan manajemen sampah perkotaan yang optimal.

"Kita masing-masing individu untuk memilah sampah, mereduksi sampah. Kalau boleh (ini) jadi problem bersama. Kalau ini jadi problem kita, mudah-mudahan kita bisa berkontribusi berkolaborasi mengatasi sampah," tukasnya.

Di sisi lain, Perumda Sarana Jaya mendapat mandat dari Pemprov DKI guna membangun tiga titik fasilitas pengolahan sampah antara (FPSA) atau intermediate treatment facility (ITF) yakni satu ITF mikro di Tebet dan dua ITF makro di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Ini merupakan bidang baru yang pernah ditangani Sarana Jaya. 

ITF Mikro di Tebet dapat mengolah sampah hingga 120 ton per hari dan akan difokuskan untuk mengolah sampah bagi warga Tebet dan sekitarnya. Di sisi lain, pengamat lingkungan dari ITB, Profesor Enri Damanhuri mengatakan, dalam  memilih teknologi tepat guna pengolahan sampah harus mempertimbangkan beberapa faktor seperti kemampuan reduksi sampah.

Enri menyebut tak ada teknologi pengolahan sampah di dunia ini yang dapat mengurangi 100% sampah. Tetapi tentunya, Pemprov DKI dalam hal ini Sarana Jaya dapat memilih yang paling efisien dan cepat. Kemudian, faktor kedua adalah produk sampingan yang bermanfaat.

"Dalam mengolah sampah, setiap teknologi akan menghasilkan produk sampingan. Produk sampingan ini harus juga dapat bermanfaat baik sebagai energi atau produk bentuk lain," jelasnya.

Faktor ketiga yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi pengolahan sampah adalah pengendali gangguna. Enri mencontohkan, gangguan yang dapat timbul di sekitar lokasi pengolahan sampah seperti adanya gangguan bau, gangguan limbah cair dari pengangkutan sampah, hingga gangguan hasil pengolahan sampah.

"Faktor lainnya yakni residu hasil pengolahan sampah dan kebutuhan lahan," tuturnya. (Put)

BERITA TERKAIT