14 October 2021, 23:53 WIB

Perguruan Tinggi Dituntut Hasilkan Lulusan Yang Adaptif Dan Cekatan


Widhoroso | Humaniora

PERGURUAN tinggi harus dapat menyiapkan lulusan yang adaptif dan juga menjadi pembelajar yang cekatan. Hal itu diungkapkan Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Diktiristek) Kemendikbudristek Prof Nizam. dalam seminar The First International Seminar of Science and Technology for Society Developmen (1st ISST) yang diselenggarakan Universitas Terbuka, Kamis (14/10).

"Di Indonesia diperkirakan pada 2030, sebanyak 23 juta pekerjaan akan digantikan dengan otomasi. Namun di sisi lain, lahir sebanyak 27 juta hingga 46 juta pekerjaan baru," ujar Nizam.

Di sisi lain, jelas Nizam, sebanyak 10 juta pekerjaan baru tersebut tidak ada pada saat ini. Untuk itu, menjadi tantangan bagi perguruan tinggi menyiapkan lulusan dengan keahlian yang tidak ada sebelumnya.

"Kita harus persiapkan lulusan dengan keahlian yang tidak ada sebelumnya. Kita harus siapkan mereka untuk adaptif, pembelajar yang cekatan, kewirausahaan, digital literasi, multidisiplin, kewargaan global, dan sebagainya," ujar Nizam.

Lebih jauh, dikatakan, perguruan tinggi juga diminta untuk lebih gesit dalam menjalankan perannya. Baik baik sisi pembelajaran, pengabdian pada masyarakat, maupun penelitian.

Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam lokomotif pembangunan berkelanjutan, penyiapan modal manusia yang kompeten, kreatif, produktif, kompetitif, dan berakhlak mulia. Perguruan tinggi juga menjadi tulang punggung inovasi.

"Untuk itu, kita harus memastikan bahwa tidak ada tautan yang terputus antara apa yang diajarkan di kampus dan pembangunan, dan kebutuhan akan dunia profesional," jelas Nizam.

Di sisi lain, Rektor Universitas Terbuka, Prof Ojat Darojat, mengatakan pandemi Covid-19 memberikan dampak perubahan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pengembangan sains dan teknologi. Pada era society 5.0, jelasnya, merupakan konsep yang mana teknologi mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan kebutuhan saat ini.

"Dalam masa pandemi saat ini, teknologi informasi berperan penting dalam perilaku manusia. Banyak aktivitas manusia saat ini dibantu oleh berbagai teknologi untuk menghindari kontak fisik dan menekan penyebaran infeksi virus," terangnya.

Ojat menambahkan peningkatan sumber daya manusia berarti peningkatan akan kebutuhan bahan pangan dan kebutuhan lainnya, serta kebutuhan lahan juga meningkat. Di sisi lain, populasi urban juga meningkat yang jika tidak dikelola dengan baik akan ada area kumuh dan juga masalah kesehatan lainnya. (Ant/OL-15)

 

BERITA TERKAIT