15 October 2021, 06:10 WIB

Bangkit setelah Kenal Olahraga


MI | Humaniora

SENNY Marbun dirundung polio sejak kecil. Kondisi itu membuatnya selalu berhadapan dengan berbagai kesulitan dalam hidup.

Masa mudanya juga sempat diwarnai ketidakpastian, tanpa tujuan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menggeluti dunia olahraga. Olahraga juga yang mengantar dia menjadi Ketua National Paralympic Committee selama 20 tahun sampai saat ini.

"Saya sempat tidak memiliki impian dan kesulitan menentukan arah mada depan. Ini jalan dari Tuhan," paparnya kepada Media Indonesia, awal pekan ini.

Sejak muda, menurut Senny, ia sudah merasakan kebanyakan masyarakat memandang sebelah mata kepadanya. Ia mencontohkan, bila seorang anak perempuan dilamar oleh seorang difabel, akan ada resistensi dari keluarga perempuan.

Salah satu penyebabnya ialah banyak orang difabel yang dianggap pengangguran karena tidak sempurna. "Itu saya alami sendiri. Saya melamar kekasih dan ditolak keluarganya."

Berbagai pengalaman pahit itu membuat Senny sempat mengutuk keadaannya. "Saya bahkan sempat berpikir untuk menjadi teroris saja dan hal-hal negatif lainnya."

Senny kembali menemukan harapan ketika ia berkenalan dengan dunia olahraga. Dunia baru itu menjadi kompensasi. Ia pun bermimpin untuk menjadi berarti bagi dirinya sendiri, orang lain, dan negara ini.

“Awalnya saya diajak Pak Manurung, Ketua YPOC (organisasi cikal bakal NPC). Diajak ke Hong Kong untuk ikut bertanding. Latihan hanya satu minggu, memang tidak bisa membuat saya menang," akunya.

Namun, dari pengalaman itu, semangat Senny terlecut. "Saya seperti menyimpan dendam. Dalam hari saya bertekad harus bisa mengalahkan mereka pada suatu hari nanti."

Tekad itu terwujud. Atlet lempar cakram ini mampu memecahkan rekor lemparan saat Indonesia menjadi tuan rumah Far East and South Pacific Games (Fespic Games) di Solo, Jawa Tengah, pada 1986.

Kini setelah memimpin NPC dan membina para juniornya, tangan dingin Senny mampu mengantarkan mereka untuk mengharumkan nama Indonesia. Mereka mampu merebut emas perdana Indonesia di ajang Paralympic sejak kompetisi multievent itu digelar. Tidak hanya satu, Indonesia mampu merebut 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu.

Indonesia pun menempati posisi ke-43 dari sebelumnya di peringkat 76 pada Paralympic 2016 di Rio de Janeiro, Brasil karena hanya mampu menyabet satu perunggu.

“Jujur, saya tidak pernah membayangkan akan seperti sekarang ini, bahkan setelah pensiun dari atlet. Saya seperti mimpi. Namun, kehendak Tuhan memang tidak bisa ditebak," pungkasnya. (Dero Iqbal Mahendra/N-2)

BERITA TERKAIT