14 October 2021, 06:00 WIB

Memberdayakan Warga Kampung


Fathurrozak | Humaniora

SUATU hari di sebuah gang di kawasan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, sejumlah perempuan dan laki-laki tampak memetik kangkung yang ditanam di sebilah pipa. Tak lama kemudian, sayuran yang telah dipetik itu dibagikan kepada warga di sekitar. Siapa saja boleh mengambil secukupnya.

Aktivitas itu merupakan salah satu kegiatan yang diinisiasi Front Mutual Aid. Mereka mengajak warga di kampung-kampung di Ibu Kota untuk mandiri secara pangan. Kegiatan tersebut merupakan perpanjangan gerakan yang bermula sejak awal pandemi saat masih bernama Inisiatif Dapur. Sejak awal 2021, gerakan tersebut bertransformasi menjadi Front Mutual Aid, dengan tujuan yang lebih luas.

“Awalnya dari anak-anak tongkrongan saja, lalu juga bergabung para pekerja yang di-PHK. Mulanya kami bikin dapur umum saat awal pandemi tahun lalu. Tiap harinya memasak sekitar 60-100 boks. Lalu pada awal tahun ini kami berganti jadi Front Mutual Aid karena ingin mengembangkan gerakan kolektif ini lebih serius lagi,” terang Hilman, perwakilan Front Mutual Aid, saat dihubungi Media Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (12/10).

Hilman menuturkan kegiatan mereka bukanlah aksi amal yang membuat si pemberi bantuan merasa lebih mulia dan yang diberi bantuan merasa lebih rendah. Mereka hanya mendorong warga untuk mandiri tanpa berharap bantuan pemerintah.

“Dari solidaritas antarwarga, membangun semangat gotong royong pada masyarakat yang sekarang sudah mulai luntur, coba dibangunkan lagi,” kata Hilman.

Selain membuka dapur umum yang kini dilakukan sekali sepekan, Front Mutual Aid juga menyediakan bantuan seperti obat-obatan, lokakarya kepada warga, dan mencoba memberikan ruang alternatif bagi anak-anak.

 

Kemandirian pangan

Saat ini, Front Mutual Aid bergerak di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat. Kini, tujuan mereka ialah membangun jejaring sesama warga kampung Jakarta dan mendorong upaya saling menopang satu sama lain dengan meredistribusikan kepada yang berkekurangan dari yang berlebihan.

Mutual Aid juga menyediakan ruang bagi anak-anak di kampung-kampung Ibu Kota yang selama masa pandemi kehilangan ruang bermain. Upaya itu juga ditujukan demi memberi waktu luang bagi para orangtua mereka.

“Mengajak anak-anak mewarnai bersama, buka workshop. Selama dua tahun ini mereka tidak dapat hak-hak yang seharusnya didapat di usia mereka. Jadi kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak. Ketika mereka bermain, ibu-ibu juga ada waktu luang untuk beristirahat,” terang Hilman.

 

Saat ini, Hilman dan teman-temannya di Mutual Aid tengah mendorong warga untuk mencapai kemandirian pangan dengan membuka lokakarya membuat pupuk kompos, bercocok tanam hidroponik, dan budi daya lele di dalam ember.

“Kami tetap berinovasi dengan cara membangun politik masyarakat untuk bergotong royong, sikap bersolidaritas, dan itu jangan sampai hilang lagi. Kelak, tanpa adanya pandemi, masyarakat juga tetap bergotong royong. Jadi saling menopang, berkenalan, berkawan, dan bersenang-senang.”

Melalui lokakarya yang dilakukan tersebut diharapkan nantinya warga bisa mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri. (M-4)

 

 

BERITA TERKAIT