12 October 2021, 21:09 WIB

Kolaborasi Akademisi-Industri Bantu Percepatan Produksi Alat Kesehatan Dalam Negeri 


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

DALAM upaya mempercepat penyediaan alat kesehatan produksi anak bangsa, kolaborasi akademisi dan industri bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pengembangan alat kesehatan. 

Wakil Direktur Bidang Riset dan Inovasi Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Budi Wiweko mengatakan, secara prinsip, akademisi itu harus berkolaborasi dengan industri karena merupakan sebuah keniscayaan. Hanya masalahnya, akademisi dan industri memiliki frekuensi yang berbeda. 

"Akademisi berpikir akan terus dan mati-matian mengembangkan alat kesehatan dan akan mengklaim bahwa alat tersebut sempurna. Sementara industri pasti mengklaim banyak alat kesehatan yang lebih bagus dan harganya lebih terjangkau," katanya dalam konferensi pers terkait Kemandirian Alat Kesehatan di Indonesia di The Kuningan Suites, Kuningan, Jakarta, Selasa (12/10). 

Oleh karena itu, diperlukan intermediater atau mak comblang yang diperlukan bagi pusat riset dan industri. sehingga hasil temuan di pusat riset sesuai dengan kebutuhan pasar. 

Baca juga : Studi Terbaru Tawarkan Senyawa sebagai Obat Demam Berdarah

"Kita belajar banyak dari pandemi ini di mana bisa mengakselerasi produksi dan penelitian alat kesehatan. Seperti contoh intermediater di Amerika Serikat terkait alat kesehatan yang memiliki lebih dari 80 ribu hak paten, diantaranya obat dan vaksin ditemukan dan dipasarkan dalam 20 tahun," ungkapnya. 

Intermediater/techno park ini dinamakan Imega (IMERI-Gakeslab) oleh IMERI dan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab) untuk duduk bersama menyamakkan frekuensi dan persepsi untuk menjadi intermediater. Sehingga bisa memilah yang sesuai market atau tidak dan menarik investor untuk datang. 

"Nantinya inovasi dari IMERI dan Gakeslab itu harus dipakai di tempat-tempat pelatihan mahasiswa, rumah sakit universitas dan lainnya. Sehingga mahasiswa kedokteran dan calon dokter bisa memakai alat kesehatan produk lokal," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT