12 October 2021, 18:35 WIB

Kemandirian Alat Kesehatan Harus Mulai Dikembangkan


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

PANDEMI covid-19 membuat pemerintah lebih prihatin terhadap kemandirian alat kesehatan di Tanah Air, di mana masyarakat sangat membutuhkan alat kesehatan namun batasan ekspor karena pandemi membuat terhambat.

"Kemandirian alat kesehatan dinilai kurang pas oleh pemerintah. Di saat pandemi pemerintah dan masyarakat membutuhkan alat kesehatan ternyata tidak ada di masyarakat karena kebutuhan yang cukup banyak," kata Keta Gakeslab Sugihadi dalam konferensi pers terkait Kemandirian Alat Kesehatan Di Indonesia di The Kuningan Suites, Kuningan, Jakarta, Selasa (12/10).

Baca juga: Lulus Seleksi PPPK, Ini Rincian Gaji dan Tunjangan Guru

Sehingga adanya keinginan kemandirian alat-alat kesehatan untuk masyarakat tidak lagi mengandalkan importasi. Selain itu pemerintah juga mendorong kemandirian alat kesehatan untuk produksi di dalam negeri.

Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab) sudah memulai untuk produksi alat kesehatan di dalam negeri sejak 10 tahun lalu, namun dalam perjalanannya masih setengah ragu karena pasar masih melirik alat kesehatan produksi luar negeri dan tidak ada dorongan dari pemerintah.

"Ketika ada dorongan dari pemerintah meski terlambat kami bersyukur kita akan melaju ke industri kesehatan dan meningkatkan investasi di alat kesehatan yang diproyeksikan mencapai Rp1,7 triliun," ujar Sugihadi.

Gakeslab sendiri memiliki lebih dari 1.000 anggota yang terdiri dari berbagai industri alat kesehatan, importir alat kesehatan, pemeliharaan alat kesehatan dan lainnya.

Untuk pengembangan alat kesehatan Indonesia bekerja sama juga dengan 11 institusi dan menggandeng para peneliti bisa bekerja sama dengan Gakeslab.

"Bekerja sama dengan universitas yang salah satunya lembaga riset dan pengembangan alat kesehatan Universitas Indonesia (IMERI UI). Selain itu juga bekerja sama dengan 11 institusi yang juga ikut berperan dalam pembangunan alat kesehatan dalam negeri," ucapnya.

Sebanyak 11 institusi yang dimaksud IMERI FK-UI, UGM, Undip, UNS, ATMI, USU, Unair, ITI, ITS, ITB, dan Unpad.

"Ini tidak ditawarkan tapi institusi lain juga meminta dan belakangan baru ITB dan Unpad ingin juga bekerja sama dengan Gakeslab. Sehingga penelitian ini tidak terkonsentrasi di Jakarta tapi juga di berbagai universitas lain," ungkapnya.

Menurutnya selama ini banyak peneliti membuat alat-alat kesehatan dan bingung untuk memproduksi serta tujuan konsumennya sehingga adanya penjualan alat kesehatan dirasa mampu untuk membangkitkan ekosistem serta investasi di bidang alat kesehatan.

"Kami akan serius dengan membuat alat kesehatan dalam negeri ini kalau ada dukungan pemerintah. Memang sekarang pemerintah mendukung tapi kita ingin komitmen ini berkelanjutan dengan aturan support dari semua yang ada bahkan setelah pandemi ini," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT