12 October 2021, 11:00 WIB

Pakar Sebut Serosurvey Penting untuk Tingkatkan Kewaspadaaan


Atalya Puspa | Humaniora

PEMERINTAH berencana untuk melakukan tes serologi secara berkala kepada masyarakat setiap enam bulan sekali. Serosurvey memang harus dimasukkan sebagai salah satu bagian dari kegiatan surveilans guna meningkatkan kewaspadaan penularan covid-19 di masyarakat

Di laman halodoc serologi disebut sebagai salah satu cabang imunologi yang mempelajari reaksi antigen-antibodi secara in vitro. Reaksi serologis dilakukan berdasarkan asumsi bahwa agen infeksius memicu host untuk menghasilkan antibodi spesifik, yang akan bereaksi dengan agen infeksius tersebut. Reaksi ini dapat digunakan untuk mengetahui respons tubuh terhadap agen infeksius secara kualitatif maupun kuantitatif

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Masyarakat (IAKMI) Ede Surya Darmawan mengungkapkan, serosurvey memang harus dimasukkan sebagai salah satu bagian dari kegiatan surveilans guna meningkatkan kewaspadaan penularan covid-19 di masyarakat. "Kalau dikatakan penting, ini sangat penting dan harus masuk dalam upaya surveilans. Tapi dengan catatan, jangan dilakukan secara parsial," kata Ede kepada Media Indonesia, Selasa (12/10).

Ia mengungkapkan, serosurvey bisa dilakukan di seluruh provinsi maupun di tempat-tempat yang menjadi pusat interaksi masyarakat. Hal itu bertujuan untuk melihat kadar antibodi yang dimiliki seseorang dan mendeteksi apakah orang tersebut tertular atau memang sudah kebal terhadap virus covid-19.

Namun demikian, Ede menegaskan, apabila memang serosurvey ke depannya akan berjalan, maka upaya-upaya penanganan covid-19 seperti 3T, vaksinasi, dan pengumpulan genome sequencing jangan sampai diabaikan. "Genome sequencing ini juga harus terus dilakukan. Sehingga kita bisa tahu virus mana yang paling banyak menyerang dan kita bisa melakukan antisipasi," pungkas Ede.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya berencana untuk melakukan survei prevalensi antibodi masyarakat yang akan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Adapun, tes tersebut akan dilakukan pada 21.880 orang di 34 provinsi.

"Kita lakukan ini bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan WHO agar hasilnya nanti bisa dishare di dunia dan menunjukkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi pandemi," tegas Budi. (H-1)

BERITA TERKAIT