11 October 2021, 13:38 WIB

Guru Besar UI: Air Galon Guna Ulang tidak Sebabkan Kanker


Mediaindonesia.com | Humaniora

GURU Besar Fakultas Kedokteran UI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan tidak ada bukti air galon guna ulang menyebabkan penyakit kanker. Menurutnya, yang pasti 90%-95% kanker itu dari lingkungan atau environment. 

"Kebanyakan karena paparan-paparan gaya hidup seperti kurang olahraga dan makan makanan yang salah, merokok, dan lain sebagainya. Jadi belum ada penelitian air galon itu menyebabkan kanker," ujar Prof Aru yang juga Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia dalam keterangan resmi, Senin (11/10). Pernyataan Prof Aru itu membantah tudingan beberapa pihak yang membangun narasi menyudutkan air kemasan galon berbahan polikarbonat yang selama puluhan tahun digunakan oleh industri minuman karena ramah lingkungan dan terbukti aman melindungi kualitas produk air minum yang dikonsumsi masyarakat luas selama ini.  

Penegasan yang sama juga disampaikan anggota Yayasan Kanker Indonesia Dr. Nadia A Mulansari SpPD-KHOM. Dia mengatakan penyebab kanker itu multifaktor sekitar 10%-15% bersifat genetik dan sisanya sekitar 90%-95% sporadik atau lebih ke lingkungan. Yang jelas, kata dokter Nadia,  penyebab utama kanker yang sudah terbukti  dari berbagai penelitian itu yakni rokok. "Itu menyebabkan sekitar 20-30 kasus kanker," tuturnya.

Faktor risiko lain yang bisa berpengaruh terhadap terjadinya kejadian kanker yaitu obesitas atau kegemukan, pemakaian hormonal yang panjang, usia menstruasi dini, wanita yang tidak menyusui, terpapar bahan-bahan cat, dan pupuk kimia. "Intinya, penyebab kanker itu multifactorial. Jadi, banyak faktor lain yang berkontribusi terhadap suatu sel sehingga membuat sel itu berubah menjadi sel kanker," tukasnya.

Terkait air galon yang diisukan bisa menyebabkan kanker, dokter Nadia malah tertawa mendengarnya. "Enggaklah, air galon itu malah air putih paling sehat," cetusnya sambil tertawa. 

Dia malah merasa orang-orang yang menyebarkan isu itu juga penjual air kemasan. "Malah sehat itu air galon guna ulang. Apalagi dari merek-merek besar yang tentu sudah memiliki izin edar dari BPOM. Dia jualan air kemasan juga kali yang bikin isu itu," ucapnya seraya bercanda. 

Narasi negatif dan serangan terhadap air kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat terjadi dalam dua tahun terakhir bersamaan dengan munculnya air kemasan galon sekali pakai yang dikritik para aktivis lingkungan karena berpotensi menambah sampah plastik di lingkungan. Dokter Nadia mengatakan air galon guna ulang itu pasti menggunakan plastik yang sudah food grade. "Karenanya, galon itu sudah lolos izin dan sertified," ujarnya. 

Sebelumnya, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (kandungan) dan spesialis anak juga memastikan air galon guna ulang aman dikonsumsi para ibu hamil dan anak balita. Dokter spesialis kandungan yang juga Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Dr. M. Alamsyah Aziz, SpOG (K), M.Kes., KIC, mengatakan sampai saat ini tidak pernah menemukan gangguan terhadap janin karena ibunya meminum air galon. Dia meminta para ibu hamil tidak khawatir menggunakan kemasan AMDK galon guna ulang ini, karena aman sekali dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun pada janinnya. 

Berbicara tentang ibu hamil, kata dokter Alamsyah, yang perlu diperhatikan itu yakni asupan gizi serta makronutrien dan mikronutrien yang baik selama kehamilan. Menurutnya, itu akan berdampak terhadap suplai kebutuhan gizi yang baik untuk pertumbuhan janin. "Sebab, jika kebutuhan gizi ibu tidak terpenuhi, ia akan melahirkan outcome yang sangat berpengaruh kepada bayi, sehingga bayi menjadi kecil. Gizi ibu yang buruk juga menyebabkan janin akan kehilangan peluang untuk memperoleh pembentukan otak yang optimal," katanya. 

Baca juga: KLHK Masukkan Hitungan Pengelolaan Karbon Biru pada Ekosistem Mangrove ke NDC

Selain aman untuk ibu hamil, penggunaan AMDK galon guna ulang ini juga aman dikonsumsi anak-anak balita seperti yang disampaikan dokter spesialis anak, Dr. dr. Farabi El Fouz, Sp.A, M.Kes. Menurutnya, selama kemasan itu sudah dinyatakan aman oleh BPOM dan Kemenperin, aman untuk dikonsumsi. "Selama itu sesuai dengan aturan BPOM silakan. Tapi kalau misalnya tidak sesuai ya jangan. Jadi, selama BPOM yang mengeluarkan arahan kita harus ikuti. Kalau BPOM sudah mengatakan kemasan itu aman, itu sudah jaminan mutu pasti aman. BPOM kan pelindung kita sebagai masyarakat," katanya. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT