10 October 2021, 13:49 WIB

Rumah Sakit ini Tawarkan Layanan seperti di Luar Negeri


Mediaindonesia.com | Humaniora

BELUM lama ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir menengarai bahwa tidak sedikit devisa negara yang terbang ke luar negeri hanya untuk keperluan berobat masyarakat. Persoalan bertambah rumit dalam situasi pandemi karena mereka terkendala oleh pembatasan perjalanan antarnegara.

Mandaya Hospital Group telah memikirkan persoalan pelayanan kesehatan yang berkualitas jauh sebelum pandemi. Saat ini rumah sakit yang didesain khusus untuk bisa bersaing dengan fasilitas mancanegara tersebut telah hadir di kawasan barat Jakarta dengan nama Mandaya Royal Hospital Puri (MRHP).

Saat ini bergabung 169 tenaga dokter spesialis dan subspesialis, sekitar 60 dokter merupakan lulusan atau telah memperoleh training di luar negeri. Rumah sakit ini juga berkolaborasi dengan The Clinic-Cleveland Clinic sebagai rumah sakit rangking kedua terbaik di AS versi US News & World Report dan kedua di dunia dalam Rumah Sakit Terbaik Dunia Newsweek, 2021. MRHP juga berkolaborasi dengan Royal Brompton & Harefield Hospital yang dinilai sebagai rumah sakit terbaik bidang jantung di Inggris versi Newsweek. Dengan demikian secara medis, MRHP layak dipersandingkan dengan rumah sakit di luar negeri.

CEO dari The Clinic-Cleveland Clinic, Frank McGillin, dalam sambutan pembukaan MRHP mengatakan senang dapat bermitra dengan MRHP dan berkolaborasi untuk membuat tinjauan medis secara virtual untuk dapat mendukung kebutuhan klinis pasien Indonesia yang mencari tambahan kejelasan seputar kondisi medisnya yang kompleks. Hal senada diungkapkan David Shrimpton, Direktur Pelaksana Perawatan Spesialis Royal Brompton & Harefield Hospital (RB&HH), yang mengharapkan dapat bekerja sama dengan rekan-rekan di Mandaya Hospital Group untuk membangun layanan jantung khusus. David memperkirakan ini akan menjadi kemitraan yang sukses antara kedua institusi.

MRHP yang dibangun dengan desain arsitektur dan interior modern tetapi tetap mengadopsi kearifan lokal ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada pasien dan keluarganya. "Kami telah melakukan rethinking dan redesain atas konsep rumah sakit," ungkap DR. Edhijanto W. Taufik, Pendiri Mandaya Hospital Group, dalam keterangan resmi, Minggu (10/10). Menurut Edhijanto, rumah sakit yang ada saat ini sering menciptakan kesan  horor dan sakit.  

"Kami merombak semua itu dengan mengawinkan model rumah sakit dengan mal, hotel, dan residence, sehingga tercipta kesan yang lebih ramah, nyaman, relaks, dan homey," tutur Edhi. "Dan jangan lupa bahwa ketika ke rumah sakit, pasti pasien didampingi oleh keluarganya. Nah kenyamanan keluarganya sering tidak diperhitungkan dalam mendesain rumah sakit."

Bagi kalangan yang memilih berobat ke luar negeri, tentu ada alasan tertentu untuk melakukan itu. "Kepercayaan dan pelayanan," tutur Dr. Ben Widaja, MBChB, President Director Mandaya Hospital Group, saat menjelaskan alasan pasien memilih berobat ke mancanegara. "Kami melakukan investasi yang sangat besar dalam peralatan dan teknologi medis canggih, termasuk sistem informasi dan digitalisasi untuk bisa sejajar, bahkan melebihi rumah sakit luar negeri. Tanpa peralatan yang canggih mustahil kita bisa bersaing dengan mereka. Kami membangun smart hospital."

Sering dikatakan kalau orang bisa membeli peralatan canggih selama ada uang, lalu bagaimana dengan sumber daya manusia di belakangnya? Dr. Ben menuturkan bahwa dengan keseriusan dalam merancang rumah sakit yang memfokuskan pada pengalaman pasien dan keluarganya lalu didukung oleh peralatan yang lengkap dan canggih, ternyata menarik minat para dokter senior untuk ikut membangun MRHP melawan hegemoni negeri jiran dalam pelayanan kesehatan. "Mereka, para senior, sepaham dan punya semangat membara bersama kami untuk bisa mengalahkan RS luar negeri dalam hal pelayanan kesehatan yang berkualitas," ungkap Dr. Ben sambil mengepalkan tangan.

CEO Mandaya Hospital Group Dr. Anastina Tahjoo, MARS mengatakan bahwa MRHP benar-benar secara tegas konsep patient-centered care yaitu perawatan yang berpusat kepada pasien, bukan penyakit. Pasien diperhatikan secara utuh sebagai manusia, baik penyakit yang dialami, pengaruh penyakit kepada organ-organ yang lain, kondisi kesehatan mental, kondisi keuangan, sehingga tim medis dan keluarga pasien bisa membuat rencana pengobatan secara bersama-sama. 

Pada kesempatan yang sama, Dr. Essy Osman, MM , CEO MRHP, menekankan pentingnya menjaga agar pasien dan keluarganya memperoleh pengalaman yang berbeda dan luar biasa sejak menginjakkan kaki di rumah sakit sampai kembali ke rumah lagi. "Kami menyiapkan tim yang kami beri nama Patient Experience Officer. Tugas mereka mendampingi pasien dan keluarganya selama berada di MRHP dan memastikan mereka memperoleh pengalaman hebat," pungkas Dr. Essy.

Mengenai makanan di rumah sakit, titik yang sering menimbulkan keluhan ketidakpuasan. Adrian Widaya MSc, Direktur Mandaya Hospital Group, mengatakan bahwa dari awal masuk pasien diperlakukan sebagai orang sehat dengan makanan normal, kecuali dokter menghendaki lain. "Dengan cara pandang berbeda ini, pada akhirnya membuat pasien happy dan memang mereka perlu asupan energi yang memadai untuk bisa cepat sembuh. Untuk itu kami menempatkan chef hotel bintang 5 untuk memastikan makanan pasien dan keluarganya enak," tutur Adrian.

Baca juga: Lewati 2 Gelombang Covid-19, RSPAD Gatot Soebroto Gelar Ucapan Syukur

Banyak masyarakat yang kemudian memberikan MRHP julukan sebagai rumah sakit sultan karena kemewahannya. Edhijanto mengatakan bahwa MRHP tidak akan membebani pasien dengan tindakan-tindakan yang tidak perlu. Bahkan setiap tindakan akan didiskusikan terlebih dahulu manfaat dan akibat-akibatnya dengan keluarga pasien. "Dari segi pentarifan, kami bukan yang paling mahal, bahkan tarif kami lebih miring dibandingkan rumah sakit lain yang setara. Ini sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kami anut," ujar Edhijanto. (OL-14)

BERITA TERKAIT