10 October 2021, 08:27 WIB

Penanganan Stunting Dipercepat untuk Capai Visi Indonesia 2024


mediaindonesia.com | Humaniora

ANGKA penanganan masalah gizi buruk termasuk stunting menunjukkan kemajuan meski mengalami tantangan selama masa pandemi COVID-19. Berbagai program terus digencarkan untuk mencapai visi Indonesia 2024 dan target SGDs untuk menghapus semua masalah gizi buruk khususnya stunting.

Dalam mencapai target penumpasan stunting, seluruh elemen baik pemerintah maupun non pemerintah harus saling berkolaborasi. Pengambil kebijakan, akademisi, polisi, pebisnis dan organisasi juga harus masif ikut menyuarakan isu penumpasan permasalah stunting.

Kegiatan webinar ini dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan “Action Against Stunting Day” yang dilaksanakan secara global termasuk di tiga negara (India, Indonesia, Senegal) sebagai bagian dari Studi Action Against Stunting Hub (AASH) yang didanai oleh UK Research and Innovation Global Challenges Research Fund (UKRI-GCRF).  

“Action Against Stunting Day bertujuan untuk menguatkan kembali komitmen dan aksi mencapai penurunan stunting secara global, mempromosikan dialog dan advokasi mengenai SDGs, mengidentifikasi prioritas dan visi bersama untuk penurunan stunting, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dengan menyatukan berbagai aktor dan generasi,” ujar Prof. Dr. Muchtaruddin Mansyur, direktur SEAMEO RECFON, dalam sambutannya, yang dikutip Minggu (10/10).

Letjen TNI (Purn) Doni Monardo, Kepala BNPB dan juga Satgas Covid-19 pada 2020-2021 yang kini membinaYayasan Kita Jaga Alam menyampaikan bahwa perlu digalakkan pangan lokal dan pangan hewani untuk pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia. "Dengan aktif menginisiasi kerjasama berbagai pemangku kepentingan yang merupakan pendekatan pentahelix, diharapkan nantinya dapat membantu percepatan pelaksanaan program percepatan penurunan stunting terlebih di tengah kondisi pandemi dan paska pandemi COVID-19," jelasnya.

Peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead AASH Indonesia, Umi Fahmida menyampaikan bahwa  AASH adalah studi inter-disiplin yang dilaksanakan di tiga negara (India, Indonesia, Senegal) dan Lombok Timur menjadi lokasi di Indonesia. AASH bertujuan untuk mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting (stunting typology) dengan pendekatan anak secara utuh (whole child approach) termasuk komponen fisik (gizi, epigenetik, kesehatan saluran cerna), lingkungan pengasuhan, pendidikan dan pangan. Dari studi ini diharapkan akan dihasilkan alat pendukung kebijakan (decision support tool) nasional dan lokal yang relevan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Diyah Puspitarini Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah mengatakan bahwa masyarakat sipil merupakan salah satu pemeran penting dalan percepatan pengurangan stunting. Dia mengklaim bahwa Lazismu ikut berperan dalam menangani stunting di Indonesia. "Kontribusi program Lazismu sebagai salah satu program pencegahan stunting bertajuk Peningkatan Kemampuan Gizi Seimbang Seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 462 Kabupaten/Kota," jelasnya.

Kondisi pandemi COVID-19 diperkirakan akan meningkatkan jumlah anak stunting di dunia. Oleh karenanya pencegahan dan penurunan stunting memerlukan penanganan interdisiplin serta keterlibatan berbagai pihak.  “Selaras dengan konvergensi stunting yang melibatkan multi-sektor, tim peneliti dari berbagai disiplin ilmu, elemen pemerintah, non-pemerintah dan masyarakat semuanya mempunyai peran dalam melawan stunting. Itulah semangat yang ingin dikuatkan dalam peringatan Action Against Stunting Day ini”, pungkas Dr. Umi. (OL-13)

BERITA TERKAIT