09 October 2021, 13:15 WIB

Sena Wangi Berupaya Wujudkan Indonesia sebagai Rumah Wayang Dunia


Abdillah Muhammad Marzuqi | Humaniora

SEKRETARIAT Nasional Pewayangan lndonesia (Sena Wangi) menggelar Living Intangible Cultural Heritage Forum for Wayang Puppet Theater in lndonesia (Forum Warisan Budaya Tak Benda yang Hidup bagi Wayang di lndonesia) pada 7-9 November 2021. Gelaran itu dimaksudkan sebagai forum komunikasi interaktif budaya antarpara pihak pemangku kepentingan, komunitas seni, dan budaya di lingkup nasional maupun internasional.

Ketua Panitia Living ICHF for WPT in Indonesia Nurrachman Oerip mengungkapkan acara ini akan melibatkan tidak hanya seniman wayang dari Indonesia, tetapi juga juga dari kalangan internasional. Beberapa di antaranya adalah Kamboja, Vietnam, Brasil, dan Kolombia. Acara itu juga sebagai rintisan awal guna menjadikan Indonesia sebagai rumah wayang dunia. Hal itu tampak dari tajuk yang dipilih yakni forum.

“Kita tidak mau menimbulkan resistensi. Karena itu kita menggunakan istilah forum. Di dunia kan ada forum ekonomi Davos, kemudian forum G20, maka melalui budaya wayang ini, kita ingin mendorong agar nanti suatu ketika Indonesia bisa benar-benar menjadi rumah, forum,” ujar Oerip saat temu pewarta di Gedung Pewayangan Kautaman Jakarta, Jumat (8/10).

Ketua Umum Sena Wangi Suparmin Sunjoyo mengungkapkan gelaran itu adalah tindak lanjut dari penetapan UNESCO tentang wayang Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 7 November 2003 yang kemudian diperingati sebagai Hari Wayang Nasional. Selain itu, Sena Wangi juga mendapatkan akreditasi Unesco sebagai organisasi non pemerintah (NGO) dalam rapat Intangible Cultural Heritage (ICH) NGO's Forum UNESCO pada 11 Desember 2019. Pada saat itu pula, Sena Wangi menyatakan akan menyelenggarakan Living ICHF for WPT in Indonesia pada 2021.

"Kalau kita menyadari bahwa wayang itu mendapat penghargaan dari UNESCO berarti mendapat pengakuan dunia internasional maka sebagai konsekuensi logis kita sekarang mendapat amanah dari dunia internasional bahwa kita memang patut menyandang gelar tersebut. Dan inilah yang kita pahami dari Sena Wangi ini sudah merancang langkah-langkah agar wayang Indonesia benar-benar patut mendapat penghargaan sebagai suatu kontribusi kepada manusia dan peradaban dunia," terang Suparmin.

Baca juga: Menghidupkan Kembali Seni Wayang dan Topeng Banjar

Suparmin juga mengingatkan wayang bukan hanya bercorak Jawa saja, melainkan jenis wayang dari seluruh Indonesia antara lain Wayang Si Gale Gale dari Sumut, Wayang Palembang dari Palembang, Wayang Potehi, dan Wayang Cenk Blonk Dari Bali.

Acara itu akan mengaktualisasi nilai dalam wayang 3 format kegiatan, yaitu: atraksi, diskusi, dan ekskursi. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya partisipatif dalam membangun manusia, bangsa, negara dan karakter berperikemanusiaan. Sebab itu pula, gelaran itu tidak terpaku pada bentuk konvensional tetapi menjelajahi beragam kemungkinan agar wayang bisa berkembang sesuai kondisi zaman. Bahkan Sena Wangi akan mengembangkan animasi wayang dan juga gim.

"Kami ingin menggugah generasi muda kita agar lebih memahami makna dari warisan budaya leluhur kita dan kemudian kita menatap ke depan berdasarkan pengalaman itu. Saya rasa di situ urgensinya,” pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT